Harga Minyak Anjlok, Perang Mereda: Badai IHSG-Rupiah Sudah Berlalu?
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street menguat pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham naik pada hari Rabu setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Indeks S&P 500 naik 1,46% ke level 7.365,12, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,02% dan ditutup di 25.838,94.
Kedua indeks tersebut sempat menyentuh level tertinggi baru dan ditutup pada rekor tertinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average terapresiasi 612,34 poin, atau 1,24%, menjadi 49.910,59.
Axios melaporkan, mengutip sumber, bahwa AS dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri konflik.
Menurut laporan tersebut, kesepakatan akan mencakup moratorium (penghentian sementara) pengayaan nuklir.
Seorang juru bicara kementerian luar negeri Iran juga mengatakan bahwa Iran sedang mengevaluasi proposal dari AS untuk penyelesaian konflik.
Namun, Presiden Donald Trump pada Rabu kemudian memberi sinyal bahwa kesepakatan belum pasti, dengan mengatakan bahwa hal itu mungkin, sebuah asumsi besar bahwa Iran akan menyetujui proposal AS. Harga saham sempat turun dari level tertingginya setelah pernyataan tersebut.
"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya akan berada pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis presiden dalam unggahan di Truth Social.
Trump juga mengatakan pada Selasa malam bahwa ia menghentikan sementara "Project Freedom," yaitu rencana AS untuk mengawal kapal keluar dari Selat Hormuz.
Dalam unggahannya di Truth Social, ia menyebut kemajuan besar menuju kesepakatan yang lengkap dan final dengan perwakilan Iran sebagai alasan di balik keputusan tersebut.
Harga minyak anjlok karena para trader mengurangi eksposur mereka dengan harapan perang akan segera berakhir. Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 7,03% menjadi $95,08 per barel. Sementara itu, minyak Brent turun 7,83% menjadi $101,27 per barel.
"Jika kita benar-benar mencapai titik di mana konflik mulai mereda atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan kita melihat Selat Hormuz dibuka kembali, ini akan memungkinkan beberapa wilayah yang paling sensitif secara ekonomi dan paling terdampak, seperti Asia Tenggara dan Eropa, berpotensi menghindari kesulitan ekonomi mereka sendiri," kata Bill Northey, direktur investasi di U.S. Bank Asset Management Group.
Hal itu, lanjutnya, akan membuka peluang rebound cepat di pasar saham.
Produsen chip Advanced Micro Devices turut mendorong kenaikan pasar, dengan sahamnya melonjak 18,6% setelah perusahaan memberikan prospek yang optimistis untuk kuartal kedua.
AMD juga melampaui ekspektasi pasar baik dari sisi pendapatan maupun laba pada kuartal pertama. Laporan ini turut mengangkat sektor semikonduktor secara keseluruhan.
ETF VanEck Semiconductor (SMH) naik 5%, sementara Intel menguat 4,5%.
Saham-saham juga mencatat kenaikan kuat pada hari Selasa, didorong oleh kinerja keuangan perusahaan yang solid serta gencatan senjata antara Iran dan AS yang masih bertahan.
(emb/emb) Add
source on Google