MARKET DATA

Bank AS Ramai-Ramai Berburu Yuan, Goldman Sachs Paling Terdepan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 May 2026 17:40
FILE PHOTO: A China yuan note is seen in this illustration photo May 31, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo
Foto: Ilustrasi Mata Uang Yuan (REUTERS/Thomas White)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank-bank besar Amerika Serikat (AS) semakin agresif mencari dana dalam mata uang yuan China atau renminbi.

Tren ini terjadi karena biaya pinjaman di China masih relatif rendah. Di saat yang sama, investor China sedang mencari instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi di Hong Kong. Kombinasi ini membuat pasar dim sum bond menjadi semakin menarik.

Dim sum bond adalah obligasi yang diterbitkan di luar China daratan (offshore), umumnya di Hong Kong tetapi menggunakan denominasi yuan. 

Bagi peminjam asing, instrumen ini menawarkan biaya dana yang relatif murah. Bagi investor China, produk ini memberi imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi domestik.

Melansir dari Financial Times, sepanjang tahun 2026 tercatat penerbitan dim sum bond telah mencapai 300 miliar yuan atau sekitar US$44 miliar. Angka ini sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang ketika itu juga mencetak rekor.

Jumlah Penerbitan Dim Sum BondFoto: Financial Times

Goldman Sachs Paling Agresif

Penerbitan mandiri atau self-led issuance oleh bank-bank AS telah melonjak menjadi 47,5 miliar yuan sepanjang tahun ini. Ini merupakan rekor baru, dengan Goldman Sachs menjadi penyumbang terbesar.

Goldman Sachs telah menerbitkan dim sum bond senilai 32,1 miliar yuan sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10% dari total penerbitan di pasar dim sum bond.

Dengan capaian tersebut, Goldman menjadi penerbit asing terbesar di pasar obligasi yuan offshore. 

Isaac Wong, Head of Fixed Income, Currencies and Commodities Distribution Goldman Sachs untuk Asia di luar Jepang, mengatakan permintaan terhadap aset renminbi offshore sedang sangat besar.

"Ada begitu banyak permintaan untuk aset renminbi offshore. Ini memberikan alternatif sumber pendanaan yang menarik bagi perusahaan," kata Wong, dikutip dari Financial Times.

Ramai-Ramai Masuk ke Pasar Yuan, Asing Cari Dana Murah

Bukan hanya bank Wall Street yang memanfaatkan pasar ini. Sejumlah negara dan lembaga pemerintah juga ikut menerbitkan obligasi yuan di pasar offshore.

Pada bulan ini, Portugal, MuniFin dari Finlandia, dan Korea Development Bank menerbitkan obligasi yuan. Sebelumnya, Nordic Investment Bank dan Swedish Export Credit Corporation juga sudah lebih dulu masuk ke pasar dim sum bond.

Penerbit obligasi yuan kini semakin beragam, mulai dari Indonesia hingga Morgan Stanley.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar dim sum bond tidak lagi hanya menjadi arena penerbit China, tetapi juga mulai menjadi sumber pendanaan bagi peminjam global.

Kunci dari ramainya pasar ini ada pada perbedaan kebutuhan. Investor China membutuhkan instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi karena yield obligasi domestik sangat rendah.

Sementara itu, investor asing melihat Hong Kong sebagai pasar yang bisa memberi biaya dana lebih murah dibandingkan banyak pasar global lain.

Imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun saat ini berada di sekitar 1,75%. Sebagai pembanding, kupon obligasi dim sum Goldman Sachs tenor 10 tahun berada di 3%.

Goldman SachsFoto: Financial Times

Beijing Dapat Momentum, Goldman Tukar Dana ke Dolar AS

Lonjakan penerbitan dim sum bond sejalan dengan agenda Beijing untuk memperluas penggunaan yuan di pasar keuangan global. China ingin membuat yuan semakin banyak dipakai di luar negeri, bukan hanya sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai mata uang pendanaan.

Salah satu caranya adalah dengan memperluas akses program Bond Connect, yakni skema yang memungkinkan investor China daratan membeli produk pendapatan tetap di Hong Kong.

Tahun lalu, akses program ini untuk pertama kalinya dibuka bagi perusahaan asuransi dan lembaga keuangan non-bank.

Kebijakan tersebut membuat aliran dana dari China daratan ke pasar obligasi Hong Kong semakin besar. Pada saat yang sama, pasar yuan offshore juga menjadi lebih dalam dan lebih menarik bagi penerbit asing.

Dalam China Development Forum bulan lalu, Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng juga menegaskan dorongan untuk memperkuat kerja sama moneter dan keuangan guna mengembangkan pasar yuan offshore.

Bagi Beijing, tren ini bukan sekadar soal bank asing mencari dana murah.

Semakin banyak penerbit global yang berutang dalam yuan, semakin besar pula peluang mata uang China tersebut memperkuat posisinya sebagai mata uang pendanaan internasional.

Di sisi lain, Goldman Sachs tidak menggunakan dana hasil penerbitan dim sum bond untuk operasionalnya di China daratan. Dana yuan yang dihimpun di Hong Kong ditukar ke dolar AS, sementara risiko kursnya dilindungi melalui hedging.

Hal ini membuat dana tersebut bisa digunakan lebih fleksibel di berbagai lini bisnis dan yurisdiksi Goldman Sachs. Selain itu, yuan yang dihimpun di Hong Kong tidak tunduk pada kontrol modal lintas batas China yang ketat seperti di China daratan, sehingga pasar offshore renminbi menjadi lebih menarik bagi penerbit asing.

Yuan Mengisi Ruang yang Ditinggalkan Yen Jepang

Kenaikan pinjaman dalam yuan menunjukkan perubahan penting di pasar pendanaan global.

Yuan offshore mulai mengambil sebagian peran yang dulu dimainkan yen Jepang sebagai mata uang pendanaan murah.

Selama bertahun-tahun, yen menjadi pilihan karena biaya pinjamannya rendah.

Namun, dalam dua tahun terakhir, daya tarik yen mulai berkurang setelah biaya pinjaman Jepang naik tajam.

Yuan offshore pun mulai dilirik sebagai alternatif pendanaan, terutama ketika pilihan mata uang dengan biaya murah semakin terbatas.

Kondisi ini semakin terlihat pada tenor panjang, ketika imbal hasil obligasi Jepang naik jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun kini sudah naik ke atas 2,4%, dari 0,61% pada awal 2024. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah China tenor yang sama turun di bawah Jepang untuk pertama kalinya pada November lalu.

Dengan kondisi tersebut, yuan offshore kini bukan hanya menjadi alternatif pendanaan murah bagi bank-bank global, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan peta pendanaan internasional.

Selama bunga China tetap rendah dan permintaan investor masih kuat, pasar dim sum bond berpotensi tetap ramai diburu peminjam asing.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular