MARKET DATA
Newsletter

IHSG-Rupiah di Bawah Bayang-Bayang Kabar Pertemuan MSCI hingga Perang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 April 2026 06:20
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street mayoritas menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini har waktu Indonesia,

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan mencetak rekor tertinggi baru meski kenaikannya terbatas karena mandeknya pembicaraan damai Iran serta eskalasi baru di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak lebih tinggi.

Indeks S&P 500 naik 0,12% dan ditutup di level rekor 7.173,91. Nasdaq Composite menguat 0,20% dan mencatat rekor penutupan di 24.887,10.

Kedua indeks juga sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa selama sesi perdagangan.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 62,92 poin atau 0,13% ke level 49.167,79.

 

Presiden Donald Trump pada Sabtu membatalkan rencana mengirim utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk pembicaraan gencatan senjata terkait Iran, dengan alasan negosiasi bisa dilakukan lewat telepon.

"Terlalu banyak waktu terbuang untuk bepergian, terlalu banyak pekerjaan!" tulis Trump di Truth Social.

"Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali, termasuk mereka. Selain itu, kami memegang semua kartu; mereka tidak punya apa-apa! Jika mereka ingin bicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!"

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan saat ini belum ada pertemuan yang direncanakan antara Tehran dan United States.

Harga minyak naik pada Senin karena AS dan Iran masih berada dalam kebuntuan. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2,09% menjadi US$96,37 per barel, sementara minyak acuan internasional Brent melonjak 2,75% menjadi US$108,23 per barel.

Iran dilaporkan mengajukan proposal baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sambil mengusulkan agar pembicaraan nuklir ditunda. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi pada Senin bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya telah membahas proposal Iran tersebut.

"Meski ini sedikit negatif, kami tetap menilai konflik masih berada di jalur de-eskalasi," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dalam sebuah catatan.

Gabriel Shahin dari Falcon Wealth menjelaskan meski investor mulai melihat melampaui konflik tersebut, dengan pasar baru saja melewati pekan penuh rekor tertinggi baru, perang itu masih sangat berpengaruh terhadap pasar.

Hal ini terjadi bahkan ketika musim laporan keuangan perusahaan terus berlanjut dengan awal yang cukup positif.

"Harga minyak masih akan tetap sangat penting, karena itu adalah pendorong utama," kata CEO sekaligus pendiri Falcon Wealth tersebut, seraya menambahkan bahwa stabilitas baru akan tercapai setelah selat itu lebih terkendali.

Namun demikian, ia menilai ada ketenangan selama tujuh hari ke depan walaupun itu tergantung bagaimana hasil laporan keuangan kuartalan pekan ini.

Minggu ini merupakan periode tersibuk musim laporan keuangan, dan lima perusahaan kelompok Magnificent Seven dijadwalkan merilis kinerja mereka.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features