MARKET DATA
Newsletter

Cuma 4 Hari Bursa, Tapi Ada 8 Bom Sentimen yang Bisa Guncang RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 April 2026 06:20
Presiden AS Donald Trump berbincang dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. (REUTERS/Carlos Barria)
Foto: Presiden AS Donald Trump berbincang dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. (REUTERS/Carlos Barria)

Memasuki pekan terakhir April 2026, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari luar negeri. Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada perkembangan terbaru negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran, keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis inflasi PCE AS, data manufaktur AS dan China, serta keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Bagi pasar domestik, agenda pekan ini akan menjadi penentu arah IHSG, rupiah, dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Investor akan mencermati apakah sentimen global mulai membaik, atau justru kembali menekan aset berisiko di emerging market seperti Indonesia.

Pasar keuangan Indonesia pekan ini hanya berlangsung empat hari yakni Senin-Kamis karena ada Libur Hari Buruh pada 1 Mei atau Jumat mendatang.

1. Update Negosiasi AS-Iran

Sentimen pertama yang akan dicermati pasar pekan ini adalah perkembangan terbaru negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan pasar terhadap terobosan diplomasi kembali menipis setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan dua utusannya ke Pakistan pada akhir pekan lalu.

Mengutip Reuters, Trump membatalkan rencana kunjungan Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad pada Sabtu (25/4/2026). Keputusan ini menjadi pukulan baru bagi prospek perdamaian setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi meninggalkan Pakistan tanpa tanda-tanda adanya terobosan dalam pembicaraan.

Trump mengatakan rencana kunjungan tersebut dibatalkan karena pembicaraan di Islamabad dinilai memakan terlalu banyak perjalanan dan biaya. Ia juga menyebut tawaran terbaru Iran belum cukup baik bagi AS.

Sebelum kembali ke Washington dari Florida, Trump mengatakan Iran memang telah memperbaiki tawaran untuk menyelesaikan konflik setelah kunjungan utusan AS dibatalkan. Namun, menurut Trump, tawaran tersebut masih belum cukup.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga menyebut ada perpecahan dan kebingungan besar di dalam kepemimpinan Iran. Ia menegaskan jika Iran ingin berbicara, Teheran hanya perlu menghubungi Washington.

Di sisi lain, Araqchi menyebut kunjungannya ke Pakistan sangat produktif. Namun, belum ada sinyal nyata bahwa pembicaraan tersebut menghasilkan kemajuan menuju penyelesaian perang.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyampaikan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Teheran tidak akan masuk ke dalam negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade.

Pezeshkian juga menegaskan bahwa AS harus lebih dulu menghapus hambatan operasional, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, untuk menciptakan dasar penyelesaian masalah.

Kondisi ini menunjukkan Washington dan Teheran masih berada di jalan buntu. Iran masih menutup sebagian besar akses di Selat Hormuz, jalur yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global. Di sisi lain, AS masih memblokir ekspor minyak Iran.

Mandeknya diplomasi ini membuat risiko geopolitik tetap tinggi. Konflik yang dimulai dari serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah mendorong harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan global.

2. BEI Kocok Ulang LQ45-IDX80

Dari dalam negeri, sentimen berikutnya datang dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kembali merombak susunan sejumlah indeks saham utama. Pengumuman ini menjadi perhatian pasar pada akhir pekan lalu dan berlaku efektif pada 4 Mei hingga 31 Juli 2026.

Perombakan ini mencakup indeks IDX30, LQ45, IDX80, KOMPAS100, BISNIS-27, MNC36, SMinfra18, hingga IDXESGL. Perubahan paling menyita perhatian terjadi pada LQ45 dan IDX80 setelah sejumlah saham besar seperti BREN dan DSSA terdepak dari daftar konstituen.

Perubahan ini terjadi bersamaan dengan penyesuaian kriteria evaluasi indeks utama BEI.

Kini, saham yang masuk IDX30, LQ45, dan IDX80 harus memenuhi ketentuan free float, aktif diperdagangkan, serta tidak masuk daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC).

Perombakan indeks ini penting dicermati karena dapat memengaruhi aliran dana, terutama dari manajer investasi dan produk indeks yang menjadikan LQ45, IDX30, atau IDX80 sebagai acuan.

Saham yang masuk indeks berpotensi mendapat sentimen positif karena peluang peningkatan permintaan, sementara saham yang keluar indeks berisiko menghadapi tekanan jual.

Bagi IHSG, perubahan komposisi ini juga menjadi penting karena terjadi setelah indeks ambruk tajam pada perdagangan Jumat lalu. Investor akan mencermati apakah saham-saham yang masuk indeks mampu menarik minat beli baru, atau justru pasar masih lebih fokus pada tekanan jual asing dan sentimen global.

3. Suku Bunga Bank Sentral Jepang

Sentimen berikutnya datang dari Jepang. Keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan dijadwalkan keluar pada Selasa (28/4/2026).

Berdasarkan konsensus Trading Economics, suku bunga bank sentral Jepang diperkirakan bertahan di 0,75% kali ini.

Pasar melihat suku bunga masih akan ditahan karena prospek berakhirnya perang Iran dalam waktu dekat semakin memudar. Kondisi ini membuat pasar tetap bergejolak dan BOJ kemungkinan masih akan berhati-hati sebelum menaikkan suku bunga berikutnya.


"Bank Sentral Jepang (BOJ) akan mempertahankan suku bunga saat ini tetapi menyampaikan pesan yang agresif dengan mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada bulan Juni atau Juli," kata Tetsuya Inoue, ekonom eksekutif di Sony Financial Group, dikutip pada Minggu (26/4/2026).

"Perilaku penetapan harga perusahaan telah berubah, jadi BOJ harus terus mengawasi tanda-tanda efek putaran kedua," katanya.

"Prakiraan harga dewan akan memberikan petunjuk tentang seberapa ketat BOJ dalam prospek suku bunga," sambungnya.

Bank sentral mungkin akan mengubah panduan kebijakannya yang berjanji untuk menaikkan suku bunga sesuai dengan perbaikan ekonomi dan harga. Hal ini dilakukan untuk mengkomunikasikan dengan lebih baik kesediaannya bertindak secara fleksibel terhadap risiko inflasi akibat perang.

Hampir dua pertiga ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,0% pada akhir Juni.

Perlu diketahui, Jepang adalah salah satu negara penyumbang investasi yang besar ke Indonesia. Jika suku bunga naik, biaya investasi juga ikut meningkat, sehingga berpotensi mengganggu aliran dana asing dari Jepang ke Tanah Air.

Selain itu, keputusan BOJ juga penting karena akan memengaruhi pergerakan yen Jepang dan dolar AS secara global. Jika yen menguat karena sinyal hawkish BOJ, tekanan dolar AS terhadap mata uang Asia bisa sedikit mereda. Namun jika yen kembali melemah, rupiah dan mata uang kawasan berpotensi ikut tertekan.

4. Keputusan Suku Bunga The Fed

Sentimen besar berikutnya datang dari bank sentral AS. Keputusan suku bunga The Fed akan keluar pada Rabu (29/4/2026) waktu AS, atau Kamis dini hari waktu Indonesia

Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Ekspektasi ini muncul karena inflasi AS masih berada di atas target, sementara lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah membuat bank sentral AS sulit bergerak terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan.

Keputusan The Fed kali ini akan sangat penting bagi pasar global. Jika The Fed memberi sinyal masih akan menahan suku bunga lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat. Kondisi tersebut bisa kembali menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Sebaliknya, jika pernyataan The Fed mulai terdengar lebih lunak karena mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi, pasar bisa membaca adanya peluang penurunan suku bunga pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberi ruang bagi penguatan obligasi dan aset berisiko, termasuk saham di emerging market.

5. Inflasi PCE AS

Selain keputusan The Fed, pelaku pasar juga akan mencermati rilis inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE AS untuk periode Maret 2026. Data ini akan keluar pada Kamis (30/4/2026).

Data ini sangat penting karena PCE merupakan ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed. Pada Februari 2026, inflasi PCE tahunan AS tercatat sebesar 2,8%, tidak berubah dari Januari 2026.

Meski tidak naik, angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Artinya, tekanan harga di AS belum benar-benar reda.

Rilis PCE Maret akan menjadi lebih sensitif karena pasar ingin melihat seberapa besar dampak harga energi terhadap inflasi AS. Perang AS-Israel melawan Iran dan gangguan di sekitar Selat Hormuz telah membuat harga minyak bertahan tinggi, sehingga risiko inflasi dari energi belum sepenuhnya hilang.

Jika inflasi PCE kembali naik, pasar kemungkinan akan menilai ruang pemangkasan suku bunga The Fed semakin sempit. Kondisi tersebut berpotensi mendorong dolar AS tetap kuat dan menahan minat investor terhadap aset berisiko.

Bagi rupiah, data PCE yang lebih panas dari perkiraan bisa menjadi tekanan baru. Apalagi, rupiah masih berada di level yang sangat lemah dan sensitif terhadap perubahan arah dolar AS maupun yield obligasi AS.

Namun, jika PCE menunjukkan tekanan inflasi mulai terkendali, pasar bisa mendapat angin segar. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat kembali menguat, yield obligasi AS berpotensi turun, dan tekanan terhadap mata uang emerging market bisa sedikit mereda.

6. PMI Manufaktur China

Dari Asia, perhatian pasar juga tertuju pada PMI Manufaktur China. Data RatingDog China Manufacturing PMI untuk April 2026 dijadwalkan keluar pada Kamis (30/4/2026).

Pada Maret 2026, PMI Manufaktur China turun ke 50,8 dari 52,1 pada Februari. Angka ini masih berada di atas level 50, tetapi menunjukkan ekspansi sektor manufaktur China mulai melambat.

Bagi pasar Asia, data ini sangat penting karena China merupakan salah satu motor utama permintaan komoditas dan rantai pasok kawasan. Ketika aktivitas manufaktur China menguat, permintaan terhadap energi, logam, batu bara, dan bahan baku industri biasanya ikut terdorong.

Sebaliknya, jika PMI China melemah, pasar bisa khawatir permintaan dari ekonomi terbesar kedua dunia tersebut mulai melambat. Hal ini dapat menekan harga komoditas dan membebani saham-saham berbasis bahan baku di kawasan, termasuk Indonesia.

7. Aktivitas Manufaktur AS

Pasar global juga akan memantau rilis ISM Manufaktur PMI AS untuk periode April 2026. Data ini dijadwalkan keluar pada Jumat (1/5/2026).

Pada Maret 2026, ISM Manufaktur PMI AS naik ke level 52,7 dari 52,4 pada Februari. Angka tersebut juga berada di atas perkiraan pasar sebesar 52,5 dan menjadi pertumbuhan aktivitas pabrik terkuat sejak Agustus 2022.

Level di atas 50 menandakan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi. Namun, pasar tidak hanya akan melihat angka utama PMI. Komponen harga juga akan menjadi perhatian besar.

Pada Maret, indeks harga yang dibayar produsen melonjak ke 78,3 dari 70,5, tertinggi sejak Juni 2022. Kenaikan ini menunjukkan tekanan biaya di tingkat produsen masih sangat kuat, terutama di tengah lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah.

8. Reshuffle Kabinet?

Presiden Prabowo Subianto dikabarkan akan kembali melakukan reshuffle kabinet pada pekan ini. Sejumlah menteri dan wakil menteri akan diganti atau mengalami pergeseran.

Namun, belum ada kepastian dari kabar ini.

Sebagai catatan, terakhir kali Prabowo melakukan reshuffle adalah pada September 2025.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features