MARKET DATA
Newsletter

Cuma 4 Hari Bursa, Tapi Ada 8 Bom Sentimen yang Bisa Guncang RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 April 2026 06:20
Ilustrasi Wall Street. (AP/J. David Ake)
Foto: (AP/J. David Ake)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak beragam pada perdagangan Jumat (24/4/2026). S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi, sementara Dow Jones Industrial Average masih ditutup melemah tipis.

Indeks S&P 500 naik 0,8% ke level 7.165,08. Nasdaq Composite yang banyak dihuni saham teknologi melesat 1,63% ke 24.836,60. Keduanya juga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa secara intraday.

Namun, penguatan tersebut tidak terjadi merata. Dow Jones Industrial Average turun 79,61 poin atau 0,16% dan ditutup di level 49.230,71.

Sepanjang pekan lalu, kinerja tiga indeks utama Wall Street juga bergerak campuran. S&P 500 menguat sekitar 0,6%, Nasdaq naik 1,5%, sementara Dow Jones melemah 0,4%.

Kenaikan S&P 500 dan Nasdaq terjadi setelah investor mendapat harapan baru bahwa pembicaraan damai antara AS dan Iran berpeluang kembali digelar.

Laporan MS NOW, mengutip pejabat Pakistan, menyebut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan tiba di Islamabad pada Jumat malam untuk membahas kemungkinan putaran kedua negosiasi dengan mediator Pakistan.

Harapan kembali dibukanya jalur diplomasi membuat tekanan di pasar energi sedikit mereda. Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 1,51%, meski masih bertahan di atas US$94 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global ditutup sedikit lebih tinggi di atas US$105 per barel.

Sentimen positif juga datang setelah Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga pekan. Kesepakatan tersebut diumumkan setelah pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat tinggi AS.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut pertemuan itu berjalan sangat baik. Ia juga mengatakan AS akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantu negara tersebut melindungi diri dari Hizbullah, kelompok milisi yang didukung Iran.

Meski begitu, situasi Timur Tengah belum sepenuhnya tenang. Konflik di kawasan tersebut telah berkembang menjadi ketegangan laut di sekitar Selat Hormuz setelah AS dan Iran saling menyita kapal komersial.

Trump bahkan menyatakan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak setiap kapal yang berupaya meletakkan ranjau di selat tersebut. Pernyataan ini menunjukkan risiko gangguan di salah satu jalur energi paling vital dunia masih belum hilang.

Namun, pasar saham AS tampaknya mulai melihat konflik tersebut sebagai risiko jangka pendek. Robert Conzo, Chief Executive Officer The Wealth Alliance, menilai pasar mulai mengesampingkan konflik dan kembali melihat fundamental ekonomi AS.

Menurut Conzo, faktor seperti sinyal Trump soal durasi konflik yang singkat, sifat historis gangguan pasokan minyak yang biasanya sementara, serta awal musim laporan keuangan yang solid membuat pasar lebih tahan terhadap tekanan perang.

Dengan kata lain, investor mulai menilai bahwa selama konflik tidak berkembang menjadi gangguan pasokan energi yang lebih besar, fokus pasar akan kembali ke kinerja emiten dan prospek ekonomi AS.

Kenaikan Wall Street pada Jumat juga ditopang lonjakan saham Intel. Saham produsen chip tersebut melesat 23,6% dan mencatat kenaikan harian terbaik sejak Oktober 1987.

Penguatan Intel terjadi setelah perusahaan membukukan laba kuartal I yang melampaui ekspektasi Wall Street dan memberikan proyeksi yang lebih optimistis untuk kuartal berjalan.

Kinerja Intel turut memperkuat reli saham semikonduktor. iShares Semiconductor ETF atau SOXX mencatat kenaikan untuk 18 sesi beruntun dan menutup pekan lalu dengan penguatan 11%.

Reli saham teknologi dan semikonduktor menjadi penopang utama Nasdaq dan S&P 500. Kondisi ini menunjukkan investor kembali berani masuk ke saham pertumbuhan, terutama ketika harga minyak mulai lebih stabil dan harapan diplomasi kembali muncul.

Meski demikian, pasar global belum sepenuhnya bebas dari risiko. Selama Selat Hormuz masih dibayangi ancaman gangguan dan negosiasi AS-Iran belum menghasilkan kesepakatan konkret, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features