Asia Campur Aduk Sambut Wajah Baru The Fed, Rupiah Beda Arah vs Won Cs
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia bergerak bervariasi pada perdagangan pagi ini, Rabu (22/4/2026), seiring pelaku pasar merespons hasil uji kelayakan calon Ketua Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Kevin Warsh.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari sebelas mata uang Asia, sebanyak lima mata uang tengah mengalami penguatan, sementara lima mata uang melemah, dan satu stagnan terhadap dolar AS.
Penguatan paling besar dipimpin won Korea Selatan yang naik 0,36% ke posisi KRW 1.477,95/US$.
Dong Vietnam menyusul menguat 0,11% ke level VND 26.295/US$. Dolar Taiwan menguat 0,10% ke TWD 31,452/US$, disusul dolar Singapura yang naik 0,09% ke SGD 1,27/US$. Yen Jepang menguat 0,08% ke JPY 159,24/US$.
Sementara itu, rupee India tercatat stagnan di INR93,48/US$.
Di sisi lain, rupiah masih berada di zona merah setelah melemah 0,15% ke level Rp17.165/US$. Padahal, rupiah sempat dibuka menguat tipis 0,06% di posisi Rp17.130/US$.
Pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia siang ini, khususnya keputusan suku bunga BI Rate.
Peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan terdalam setelah turun 0,23% ke PHP 60,08/US$. Di susul oleh mata uang negara tetangga, Ringgit Malaysia yang melemah 0,13% ke MYR 3,95/US$.
Sementara itu, baht Thailand turun 0,03% ke THB 32,19/US$, dan yuan China melemah 0,02% ke CNY 6,82/US$.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini terjadi saat indeks dolar AS masih jadi patokan utama pelaku pasar.
Walau pada pukul yang sama DXY terlihat melemah tipis 0,05% di level 98,342, pasar tetap merespons penguatan dolar pada penutupan perdagangan sebelumnya, Selasa (21/4/2026), ketika DXY sempat menguat sekitar 0,30% setelah uji kelayakan calon Ketua The Fed Kevin Warsh di Senat.
Dalam kesaksiannya, Warsh menyampaikan dorongan pembenahan besar di bank sentral AS. Dia meminta perubahan menyeluruh dalam cara The Fed mengendalikan inflasi, sekaligus menilai cara komunikasi The Fed perlu dirombak agar pejabatnya tidak terlalu banyak memberi petunjuk arah kebijakan ke depan.
Pasar membaca pesan ini sebagai sinyal bahwa jika Warsh memimpin, pendekatan The Fed bisa menjadi lebih ketat dan lebih berhati hati, terutama soal cara mengarahkan ekspektasi pasar.
Nada tersebut penting bagi pasar karena berkaitan langsung dengan arah suku bunga. Ketika kandidat pimpinan The Fed menekankan fokus pengendalian inflasi dan mengurangi kebiasaan memberi sinyal kebijakan terlalu dini, pelaku pasar cenderung menilai ruang penurunan suku bunga tidak akan agresif.
Dalam situasi seperti ini, dolar AS biasanya lebih mudah mendapat dukungan karena suku bunga yang bertahan tinggi membuat aset dolar lebih menarik.
Selain faktor Warsh, dolar juga sempat ditopang perkembangan perang AS Israel dengan Iran yang membuat pasar kembali ragu pada prospek gencatan senjata.
Kekhawatiran muncul karena Iran disebut belum memutuskan akan hadir dalam perundingan damai, setelah pasukan AS menaiki kapal tanker minyak Iran dengan sisa waktu gencatan senjata yang tinggal sehari. Situasi ini membuat pasar bersiap untuk gangguan Selat Hormuz yang bisa lebih lama, sehingga dolar kembali dilirik sebagai aset aman.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google