Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Cuma Negara Ini Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang negara-negara Asia bergerak di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Senin (13/4/2026). Seiring dolar AS kembali diburu investor setelah upaya perundingan damai Washington-Teheran belum membuahkan kesepakatan.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.10 WIB, dari 10 mata uang Asia, sembilan diantaranya mengalami pelemahan dan hanya satu mata uang menguat terhadap greenback.
Pelemahan terdalam terjadi pada baht Thailand yang turun 0,94% ke posisi THB32,26/US$. Peso Filipina menyusul melemah 0,89% ke level PHP60,414/US$.
Tekanan juga terlihat pada won Korea Selatan yang turun 0,32% ke KRW1.489,4/US$. Adapun, nilai tukar rupiah turut tertekan dari greenback dengan pelemahan sebesar 0,29% ke level Rp17.135/US$, sementara yen Jepang melemah 0,25% ke JPY159,68/US$ dan ringgit Malaysia turun 0,25% ke MYR3,970/US$.
Selanjutnya, dolar Singapura melemah 0,22% ke SGD1,2759/US$, dolar Taiwan turun 0,11% ke TWD31,761/US$, serta yuan China melemah 0,09% ke CNY6,8339/US$.
Sementara itu, satu-satunya mata uang yang masih mampu bertahan di zona hijau adalah dong Vietnam yang menguat 0,08% ke level VND26.315/US$.
Arah pergerakan ini sejalan dengan menguatnya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama tercatat menguat 0,38% ke level 99,021.
Dolar AS diburu investor setelah perundingan panjang antara Washington dan Teheran dilaporkan gagal menghasilkan kesepakatan damai, sehingga pasar kembali masuk ke periode ketidakpastian yang lebih panjang.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan Angkatan Laut AS akan mulai melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20% pasokan energi harian dunia dan telah efektif tertutup sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Situasi tersebut mendorong harga minyak kembali menguat, memperbesar kekhawatiran lonjakan inflasi yang lebih luas.
Sebelumnya, pasar sempat menyambut gencatan senjata dua pekan yang diumumkan pada 7 April lalu dengan aksi jual minyak dan arus dana kembali ke aset berisiko. Namun kekhawatiran terhadap rapuhnya kesepakatan itu mendorong pembalikan posisi, sehingga dolar AS kembali menjadi tujuan utama sebagai safe haven.
Kondisi ini pada akhirnya membuat dolar AS diburu pelaku pasar. Pada gilirannya, ruang penguatan bagi mata uang negara lain makin mengecil, termasuk mata uang negara-negara Asia pada perdagangan pagi ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)