MARKET DATA

Harga Batu Bara Membara! India Hingga China Berebut Pasokan

mae,  CNBC Indonesia
22 April 2026 07:15
Batu bara kokas. (Dok. Pertamina)
Foto: Batu bara kokas. (Dok. Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali terbang di tengah lonjakan permintaan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara kontrak Mei pada perdagangan Selasa (22/4/2026) ditutup di US$ 123,75 per ton atau terbang 2,78%.

Pelemahan ini memutus tren negatifnya di mana harga batu bara ambruk 4,3% dalam dua hari beruntun sebelumnya.

Kenaikan harga batu bara disebabkan oleh masih tingginya harga minyak serta kenaikan permintaan.

Impor batu bara termal Uni Eropa diperkirakan mencapai level tertinggi dalam lima bulan pada April 2026. Kenaikan ini terjadi karena utilitas Eropa menambah stok untuk mengantisipasi lonjakan harga gas lebih lanjut akibat perang di Timur Tengah.

Kenaikan impor menunjukkan Eropa kembali menjadikan batu bara sebagai bantalan keamanan energi di tengah pasar gas yang bergejolak. Saat risiko pasokan gas meningkat, pembangkit listrik cenderung beralih ke batu bara demi menjaga kestabilan sistem kelistrikan dan biaya produksi.

Secara pasar, tren ini berpotensi menopang harga batu bara global, terutama pasokan dari Kolombia, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Australia yang menjadi pemasok utama ke Eropa saat pasokan energi ketat.

Bagi Asia, lonjakan pembelian Eropa juga bisa memperketat pasar batu bara laut (seaborne market), sehingga meningkatkan persaingan mendapatkan kargo ekspor dan berisiko mendorong harga naik.

Dari China dilaporkan pasar kokas metalurgi (met coke) China tetap didukung fundamental yang ketat setelah kenaikan harga terbaru. Sentimen bullish masih bertahan karena pasokan dan permintaan berada dalam kondisi relatif ketat.

Permintaan dari pabrik baja tetap cukup baik karena produksi hot metal masih tinggi dan margin baja mulai membaik. Persediaan kokas di pabrik dan pelabuhan juga cenderung rendah sehingga pasar tetap ketat.

Jika permintaan baja tetap stabil, harga met coke China masih berpeluang naik lagi dalam jangka pendek.

Dari Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump pada Senin menggunakan kewenangan masa perang berdasarkan Defense Production Act (DPA) untuk mendorong peningkatan produksi minyak, gas, dan batu bara.

 

DPA memberi presiden wewenang untuk meningkatkan produksi barang tertentu demi mendukung keamanan nasional.

Pekan ini, Trump mengeluarkan lima memorandum yang menerapkan aturan tersebut pada sektor minyak, batu bara, infrastruktur gas alam dan ekspor, peralatan jaringan listrik, serta "infrastruktur energi dan infrastruktur terkait energi berskala besar."

Langkah ini diambil saat perang di Iran memicu krisis pasokan minyak. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati Strait of Hormuz di lepas pantai Iran. Teheran memanfaatkan jalur sempit tersebut dan secara efektif menghentikan aliran minyak.

Minyak merupakan komoditas yang diperdagangkan secara global, sehingga gangguan ini mendorong harga melonjak tajam di seluruh dunia.

Dalam kebijakan terkait batu bara, Trump secara khusus menyinggung kecerdasan buatan atau AI. Ia mengatakan tanpa pasokan listrik beban dasar dari pembangkit batu bara yang memadai, Amerika Serikat akan kekurangan listrik stabil yang dibutuhkan untuk mendukung instalasi pertahanan, ekspansi industri, dan kebutuhan energi besar dari teknologi baru seperti kecerdasan buatan.

Kenaikan harga batu bara juga ditopang oleh kabar dari India. Produksi batu bara negara tersebut dikhawatirkan turun di tengah tingginya permintaan.

 

Total produksi batu bara domestik turun 0,64% menjadi 1.040 juta ton pada Maret 2026, dari 1.047 juta ton pada Maret 2025. Dari jumlah itu, Coal India Limited yang menyumbang hampir 80% produksi nasional mencatat penurunan lebih tajam sebesar 1,65%, menjadi 768 juta ton dari 781 juta ton.

Dari delapan anak usaha CIL, empat mencatat penurunan produksi dibanding Maret 2025. Tiga penurunan terbesar terjadi pada BCCL sebesar 12,30%, WCL sebesar 8,81%, dan CCL sebesar 6,09%.

Impor batu bara terbesar India adalah batu bara kokas, yang terutama digunakan oleh Steel Authority of India dan perusahaan baja swasta. Menurut Kementerian Batu Bara, impor sempat turun 2,10% secara tahunan pada tahun fiskal 2024-25. Namun, karena hampir 85% batu bara kokas untuk industri baja masih berasal dari impor, India tetap menjadi importir batu bara kokas terbesar di dunia.

Permintaan batu bara diperkirakan menembus 1,5 miliar ton pada 2030. Jika kesenjangan antara permintaan dan produksi terus berlanjut, ketergantungan pada impor akan meningkat.

Menurut kementerian, 77% listrik India masih bergantung pada batu bara. Dengan permintaan yang terus naik, sumber energi alternatif mulai dipertimbangkan.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular