MARKET DATA

TINA & TIARA Muncul di Tengah Perang Iran, Pilih yang Mana?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
20 April 2026 16:55
Kapal-kapal melewati Selat Hormuz pada 18 April 2026. (via REUTERS/EUROPEAN UNION/COPERNICUS SENTIN)
Foto: Kapal-kapal melewati Selat Hormuz pada 18 April 2026. (via REUTERS/EUROPEAN UNION/COPERNICUS SENTIN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal April lalu telah mendorong perubahan arus modal investor di pasar finansial global.

Prospek perdamaian, ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan AS yang solid, serta ketahanan ekonomi AS terhadap guncangan harga energi, membuat bursa Wall Street kembali menjadi sasaran utama para manajer investasi.

S&P500 menjadi instrumen investasi dengan rebound tercepat (dok. Reuters)Foto: S&P500 menjadi instrumen investasi dengan rebound tercepat (dok. Reuters)


Kembalinya Strategi TINA di Pasar Ekuitas

Selama setahun terakhir, pelaku pasar sempat mengalihkan portofolio mereka ke bursa di luar Amerika Serikat untuk mencari valuasi yang lebih murah, sejalan dengan tren pelemahan nilai tukar dolar AS setelah perang dagang dan perang Iran.

Strategi diversifikasi yang dikenal dengan istilah TIARA (There Is A Real Alternative) ini sebelumnya menguntungkan bursa saham di Eropa dan kawasan Asia.

Namun, pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April memicu kembalinya strategi TINA (There Is No Alternative), di mana pemodal kembali fokus pada ekuitas AS.

Berdasarkan data dari LSEG/Lipper, investor telah mencatatkan arus modal masuk bersih sebesar US$ 28 miliar ke saham AS sejak malam sebelum pengumuman gencatan senjata tersebut.

Dari total tersebut, investor domestik AS menyumbang porsi mayoritas sekitar US$ 23 miliar. Transisi ini menandai pembalikan arah yang drastis, mengingat pasar saham AS sebelumnya sempat mengalami penarikan modal bersih hingga US$ 56 miliar pada periode sebelum kesepakatan damai dicapai.

Inflow pasar saham AS akhir-akhir ini (dok. Reuters)Foto: Inflow pasar saham AS akhir-akhir ini (dok. Reuters)

Ketahanan Fundamental dan Laba Korporasi

Pemulihan cepat bursa AS juga ditopang oleh fundamental ekonomi yang lebih stabil. Indeks S&P 500 terpantau telah memulihkan seluruh koreksi yang terjadi akibat konflik dan saat ini berada 2% di atas level prapengumuman perang.

Ketangguhan ini turut didukung oleh status AS sebagai eksportir neto energi, yang memberikan bantalan lebih kuat terhadap fluktuasi harga komoditas dibandingkan dengan kawasan seperti Eropa atau Jepang. Di sisi lain, pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif tambahan bagi logistik global.

Beberapa institusi perbankan investasi besar mulai merevisi peringkat ekuitas AS dari posisi "netral" menjadi "overweight". Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan proyeksi laba korporasi yang tangguh, khususnya di sektor teknologi.

Mengacu pada data LSEG/IBES, pertumbuhan laba kuartal pertama untuk emiten dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencapai hampir 14%. Angka ini jauh di atas proyeksi pertumbuhan laba di pasar Eropa yang hanya diperkirakan berada pada tingkat 4,2%.

Penarikan Dana dari Bursa Eropa dan Asia

Di tengah kembalinya minat pada pasar AS, bursa di kawasan Eropa dan Asia mencatatkan arus keluar modal yang signifikan. Mengutip data EPFR melalui laporan Bank of America, reksa dana ekuitas di Korea Selatan mencatatkan penarikan dana rekor senilai US$ 2,5 miliar pada pekan yang berakhir pertengahan April 2026.

Sementara itu, ekuitas Eropa mengalami penarikan sebesar US$ 4,7 miliar, yang merupakan angka arus keluar terbesar sejak November 2024.

Meskipun secara kumulatif pada tahun berjalan saham AS masih mencatat posisi arus keluar bersih sebesar US$ 30 miliar, nilai tersebut telah menurun tajam dibandingkan posisi pertengahan Maret.

Kuatnya keyakinan pasar ini tercermin dari laju indeks S&P 500 yang sudah berhasil menembus rekor level 7.000, mencatatkan penguatan lebih dari 10% hanya dalam 11 hari perdagangan. Hal ini mengonfirmasi posisi pasar saham AS yang tetap dominan di tengah revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular