MARKET DATA

Minggir Semua! Untuk Urusan Ini, China Gak Ada Lawan di Dunia

mae,  CNBC Indonesia
18 April 2026 18:00
Hampir 1 dari 2 Barang Impor Indonesia Made in China: Yakin Sudah Merdeka?
Foto: Infografis//Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan global saat ini dikuasai segelintir negara eksportir besar, namun jarak skala antarnegara sangat mencolok.

China mengekspor hampir US$3,8 triliun barang pada 2025, mempertahankan keunggulan jauh di atas Amerika Serikat dan negara lainnya. Sementara itu, Eropa secara kolektif menyumbang porsi besar ekspor dunia, dan pusat perdagangan kecil seperti Belanda serta Uni Emirat Arab (UEA) tetap tampil jauh di atas ukuran ekonominya.

Ekspor China senilai US$3,772 triliun hampir dua kali lipat ekspor AS, menegaskan dominasi negara tersebut dalam manufaktur dan perdagangan global.

Sejak liberalisasi ekonomi bertahap pada akhir 1970-an dan 1980-an, China menjalankan model pertumbuhan berbasis ekspor yang menempatkan negara itu sebagai "pabrik dunia". Saat ini, tidak ada negara yang mengirim barang ke luar negeri lebih banyak dari China.

China Kian Dominan

Ekspor China didorong banyak perjanjian perdagangan bebas, termasuk dengan Australia, Pakistan, Korea Selatan, dan blok ASEAN. Dampaknya, China kini menjadi mitra dagang terbesar bagi lebih dari setengah negara di dunia.

Meski dikenal sebagai pasar impor terbesar dunia, AS juga mengekspor lebih dari US$2,2 triliun produk beragam seperti mobil, minyak, kedelai, dan produk medis.

Mitra dagang utama AS adalah Kanada, Meksiko, China, Jerman, dan Jepang. Banyak rantai pasok Amerika Utara juga saling terintegrasi. Misalnya, komponen mobil bisa bolak-balik melintasi perbatasan AS-Kanada atau AS-Meksiko hingga 6-8 kali sebelum kendaraan selesai dirakit.

 

Negara Teluk seperti Arab Saudi (US$311 miliar) dan UEA (US$707 miliar) juga tampil besar berkat cadangan hidrokarbon mereka.

Produk minyak menyumbang hampir 75% ekspor Arab Saudi dan lebih dari 50% ekspor UEA, jauh di atas porsi di AS yang kurang dari 20%.

Namun ketergantungan tinggi pada minyak membuat negara-negara Teluk rentan terhadap ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok di Timur Tengah, termasuk konflik yang sedang berlangsung melibatkan Iran.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular