Harga Batu Bara Kembali Membara, Dibantu Perang & Bandar China
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak lagi mengikuti pergerakan harga minyak dunia dan gas.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (13/4/2026) ditutup di US$ 132,05 per ton atau melonjak 1,7%.
Kenaikan ini memutus tren negatifnya di mana harga batu bara ambruk 7,9% dalam tiga hari perdagangan sebelumnya.
Kenaikan harga batu bara ditopang kembali menguatnya harga energi kemarin. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$99,08 per barel. Sementara Brent internasional melonjak 4,37% menjadi US$99,36 per barel.
Harga gas Eropa juga melesat 2,7%. Harga energi kembali melesat karena perang di Timur Tengah masih memanas setelah gencatan senjata gagal.
Batu bara, minyak dan gas adalah komoditas energi yang saling melengkapi sehingga harganya bisa saling memengaruhi.
Kenaikan harga batu bara juga dibantu kabar positif dari China.
Harga batu bara termal di pelabuhan utama China mengalami kenaikan dipicu trader yang membeli untuk spekulasi jangka pendek, berharap harga terus naik.
Padahal, permintaan utility masih lemah karena pembangkit listrik belum agresif membeli batu bara. Stok di pembangkit masih cukup dan konsumsi listrik musiman belum tinggi.
Karena itulah, kenaikan harga saat ini dinilai masih rapuh karena bukan didorong permintaan akhir, reli harga dianggap tidak solid. Jika trader berhenti beli, harga bisa cepat terkoreksi.
Trader berharap musim panas China meningkatkan penggunaan AC dan konsumsi listrik. Jika gelombang panas datang, utility bisa mulai beli besar-besaran.
Dari India dilaporkan, impor batu bara India turun 8,5% pada Februari karena persediaan domestik yang sangat tinggi serta harga batu bara global yang masih kuat, sehingga kebutuhan membeli dari luar negeri menurun.
Impor batu bara India pada Februari turun menjadi 16,55 juta ton, dibanding 18,10 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya.
Persediaan batu bara dalam negeri India mencapai level tinggi, sehingga pembangkit listrik dan industri tidak terlalu membutuhkan pasokan impor.
Harga batu bara internasional yang masih tinggi saat ini membuat impor kurang menarik secara ekonomi dibanding membeli batu bara lokal.
Tren impor yang lemah kemungkinan berlanjut karena produsen domestik sedang berupaya mengurangi stok yang menumpuk.
(mae/mae)