MARKET DATA
Newsletter

Siaga 1! Deal AS-Iran Kandas, di Tengah "Teror" Serbuan Data Ekonomi

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 April 2026 06:20
Ilustrasi Trading (Stok Market)
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragama IHSG  menguat sementara rupiah melemah.
  • Wall Street kembali bangkit hampir ke level tertingginya lagi walaupun mengalami sedikit penurunan.
  • Kelanjutan perang Iran-AS dan rilis data penjualan eceran RI menjadi penggerak pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Jumat (10/4/2026). Bursa saham naik, Rupiah melemah, dan SBN mengalami pelandaian pada perdagangan kemarin.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tekanan yang cukup berat pada hari ini karena ketidakpastian perang yang masih terjadi ditambah kabar terbaru di mana AS dan Iran tidak mendapatkan kesepakatan setelah berunding bersama dengan Pakistan.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 2% kemarin, Jumat (10/4/2026). Pada penutupan perdagangan kemarin indeks naik 2,07% ke level 7.458,49 atau menguat 151 poin.

Kenaikan ini melanjutkan rebound IHSG yang telah berlangsung dua hari terakhir dimulai kala indeks melesat tajam pada perdagangan Rabu (8/4) dengan kenaikan lebih dari 4%.

Sebanyak 181 saham turun, 485 naik, dan 153 belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 18,13 triliun, melibatkan 42,94 miliar saham dalam 2,28 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar pun terkerek menjadi Rp 13.215 triliun.

Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan tercatat menguat kemarin dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh sektor barang baku, konsumer non primer dan properti.

Saham-saham yang paling ramai ditransaksikan kemarin termasuk BUMI, BBRI dan BBCA. Adapun saham perdana yang melantai di bursa tahun ini PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) memimpin penguatan dengan kenaikan 34% atau menyentuh ARA. saham-saham lain yang ikut menguat signifikan kemarin termasuk PT Bank Mega  (MEGA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Saham-saham emiten konglomerat serta emiten blue chip dengan kapitalisasi besar tercatat menjadi penggerak kinerja IHSG kemarin.

Saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin dengan sumbangsih 21,17 indeks poin dan diikuti oleh saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang telah melakukan RUPST siang tadi, dengan salah satu mata acara pembagian dividen juga menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin dengan sumbangsih 17,33 indeks poin.

Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) juga merupakan penopang utama IHSG dengan sumbangan 18,17 indeks poin. Tercatat saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu kompak menguat pada perdagangan kemarin.

Emiten lainnya yang menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin termasuk PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA)  milik Grup Sinar Mas, MSIN milik Grup MNC hingga PANI milik Aguan.

Pasar saham Asia-Pasifik dibuka mayoritas menguat pada perdagangan Jumat (11/4/2026), di tengah gencatan senjata rapuh selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat pelaku pasar tetap waspada.

Lanjut ke mata uang Garuda, Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.085/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,03%.

Padahal, pada awal perdagangan Jumat pagi, rupiah sempat dibuka menguat 0,09% ke level Rp17.065/US$. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan rupiah berbalik melemah hingga akhir perdagangan.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap greenback pada perdagangan kemarin dipengaruhi oleh sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Analis mata uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai, dari eksternal pelemahan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Rencana kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran dan Israel menjadi sentimen kunci dalam waktu dekat.

"Tiga hari lalu ada perjanjian akan ditandatangani di Pakistan antara Amerika dengan Iran dan Israel tentang gencatan senjata selama 2 minggu. Nah, apakah ini berhasil atau tidak tergantung dari ini. Kalau seandainya berhasil, ada penandatanganan selama 2 minggu, ya kemungkinan besar rupiah akan mengalami penguatan," ujar Ibrahim kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (10/4/2026).

Lanjut ke pasar obligasi dalam negeri, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia ditutup di level 6,548% pada kemarin Jumat (10/4/2026) bergerak di range 6.547-6.576 dari level sebelumnya yang ditutup di level 6,576%. 
Imbal hasil melandai dan ini menandai harga SBN yang tengah naik karena dibeli investor.

Indeks S&P 500 mengalami sedikit penurunan pada hari Jumat, namun indeks ini berhasil mencatatkan kenaikan mingguan yang solid seiring dengan langkah para pelaku pasar yang terus memantau gencatan senjata dua minggu yang rentan antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks S&P turun 0,11% dan ditutup pada level 6.816,89, sementara Nasdaq Composite bergerak naik sebesar 0,35% dan ditutup pada level 22.902,89.

Kenaikan ini didorong oleh penguatan saham-saham semikonduktor utama seperti Nvidia dan Broadcom. Dow Jones Industrial Average turun 269,23 poin, atau 0,56%, berakhir pada level 47.916,57.

Meskipun demikian, S&P 500 bertambah sekitar 3,6% pada minggu lalu, dan Nasdaq naik sekitar 4,7% pada periode yang sama. Sementara itu, Dow mencatatkan kenaikan sebesar 3% dalam minggu lalu. Indeks-indeks tersebut membukukan kinerja mingguan terbaik mereka sejak bulan November.

Presiden Donald Trump pada hari Jumat menuduh Iran melakukan "pemerasan jangka pendek terhadap Dunia dengan menggunakan Jalur Air Internasional." Dalam sebuah unggahan di Truth Social, ia menyatakan bahwa para pemimpin negara tersebut "tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki daya tawar" dan bahwa "satu-satunya alasan mereka masih bertahan saat ini adalah untuk bernegosiasi."

Hal ini terjadi sehari setelah presiden memperingatkan bahwa Iran tidak boleh memungut biaya dari kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Dalam unggahan di Truth Social, ia menulis: "Sebaiknya mereka tidak melakukannya, dan jika mereka melakukannya, mereka harus segera berhenti."

Harga minyak mengalami fluktuasi seiring dengan kekhawatiran seputar pembukaan kembali selat tersebut yang membayangi pasar. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) pada akhirnya turun 1,33% menjadi $96,57 per barel, dan patokan internasional minyak mentah berjangka Brent turun 0,75% menjadi $95,20.

Inflasi menjadi perhatian utama bagi para investor pada minggu lalu saat mereka mengevaluasi sejumlah laporan penting, di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah akan merambat ke ekonomi AS.

Laporan indeks harga konsumen (IHK) bulan Maret menunjukkan bahwa inflasi sejalan dengan ekspektasi, berada pada level 0,9% untuk bulan tersebut dan 3,3% secara tahunan. Angka ini mencakup lonjakan biaya energi sebesar 10,9% yang diakibatkan oleh konflik.

Namun, apabila harga energi dikecualikan, laporan tersebut mengungkapkan bahwa inflasi cukup terkendali pada bulan lalu. Core CPI hanya meningkat 0,2% untuk bulan tersebut dan 2,6% dibandingkan dengan tahun lalu, berada di bawah ekspektasi. Inflasi sebelumnya tertahan di level 3% menjelang perang Iran, yang telah berlangsung selama hampir enam minggu.

Meskipun demikian, perang tetap menyebabkan lonjakan kekhawatiran terhadap inflasi. Menurut survei University of Michigan yang dirilis pada hari Jumat, konsumen memperkirakan bahwa inflasi akan melonjak menjadi 4,8% pada tahun depan. Angka tersebut naik satu poin persentase penuh dari data bulan Maret.

"The Fed akan melakukan segala upaya untuk mengesampingkan data apa pun yang mereka terima untuk Maret dan April," kata Tim Holland, kepala investasi di Orion. Hal itu dengan asumsi "ada jalan keluar dari konflik antara AS, Israel, dan Iran," tambahnya.

Walaupun Holland meyakini bahwa perang Iran akan mereda dari titik ini-dan harga minyak akan kembali stabil-ia memperingatkan bahwa investor harus lebih mewaspadai dampak inflasinya jika harga minyak mentah WTI masih diperdagangkan di kisaran $100 per barel pada awal hingga pertengahan Juni.

"Terdapat kombinasi berbahaya antara sentimen konsumen yang sudah tertekan dan ekspektasi inflasi yang kembali meningkat," ujarnya. "Itu akan menjadi posisi yang sulit bagi perekonomian dan menempatkan The Fed dalam situasi yang rumit."

Pelaku pasar akan kembali mencermati sejumlah agenda penting pada pekan depan, mulai hari ini Senin (13/4/2026), baik dari dalam negeri maupun global. Fokus investor akan tertuju pada rangkaian data China, indikator konsumsi Amerika Serikat, serta sederet rilis Bank Indonesia yang memberi gambaran terbaru kondisi ekonomi domestik.

Rangkaian data tersebut penting karena dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah, IHSG, obligasi, hingga harga komoditas. Terlebih, pasar global masih mencari kepastian soal kekuatan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama dan tensi dagang yang belum sepenuhnya reda.
Kandasnya kesepakatan antara AS dan Iran menjadi salah satu sentimen terbesar hari ini dan sepekan ke depan.

Perkembangan Perang

Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan bahwa AS akan memblokade Selat Hormuz setelah pembicaraan yang digelar di Pakistan untuk mengakhiri perang Iran mengalami kebuntuan.

"Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," kata Trump dalam unggahan di platform media sosialnya, Truth Social. "Blokade akan dimulai dalam waktu dekat. Negara-negara lain akan terlibat dalam blokade ini. Iran tidak akan diizinkan mengambil keuntungan dari tindakan pemerasan ilegal ini."

U.S. Central Command menyatakan dalam unggahan di X pada Minggu malam bahwa militer AS akan mulai menerapkan blokade tersebut pada Senin pukul 10 pagi waktu Timur AS. CENTCOM mengatakan informasi tambahan akan diberikan kepada kapal-kapal komersial sebelum blokade dimulai.

Mereka menambahkan bahwa AS tidak akan menghalangi kapal yang melintas menuju dan dari pelabuhan non-Iran. Blokade hanya akan diberlakukan terhadap kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan atau wilayah pesisir Iran, termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Pengumuman blokade AS ini menghancurkan harapan bahwa perang akan berakhir dalam beberapa hari ke depan setelah pembicaraan damai di Islamabad. Langkah ini juga mengancam memperburuk krisis ekonomi yang telah mencengkeram ekonomi global sejak perang pecah dan Iran mulai membatasi akses ke selat tersebut, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia.

Trump mengatakan blokade AS bertujuan menghentikan Iran mengendalikan selat itu dan memperoleh keuntungan ekonomi sementara dunia menderita akibat penutupannya.

Trump juga mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar tol kepada Iran.

Iran disebut sedang bersiap mengenakan tarif kepada kapal yang ingin melintas di selat tersebut, langkah yang memicu kemarahan Trump ketika Iran berupaya memperkuat kendalinya atas jalur itu di tengah gencatan senjata dua pekan dalam konflik tersebut.


Pembicaraan damai yang dimediasi Pakistan runtuh karena, menurut AS, Iran tidak bersedia menghentikan upayanya memperoleh senjata nuklir. Tuntutan Iran mencakup kendali atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, dan gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, menurut televisi pemerintah Iran dan para pejabat. Iran juga menuntut pelepasan aset-asetnya yang dibekukan di luar negeri.

Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan negosiator Iran dan Pakistan selama lebih dari 21 jam dalam pertemuan tatap muka yang langka itu.

Perang dan hampir tertutup totalnya selat tersebut telah memberi tekanan besar pada harga minyak dan ekonomi global. Pasar bergerak liar sepanjang konflik, dan harga minyak sempat melonjak hingga lebih dari US$100 per barel.

Penjualan Eceran RI, Ujian Daya Beli Setelah Ramadan

Dari domestik, agenda pertama datang dari rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia pada Senin (13/4/2026). Data ini kerap menjadi salah satu petunjuk tercepat untuk membaca perilaku konsumsi rumah tangga.

Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh 6,9% secara tahunan, lebih tinggi dibanding Januari yang tumbuh 5,7%. Secara bulanan, penjualan eceran juga diprakirakan naik 4,4%, berbalik dari kontraksi 2,7% pada Januari.

Kenaikan tersebut terutama ditopang permintaan masyarakat selama Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri. Kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga, serta sandang disebut menjadi penopang utama.

Pasar akan mencermati apakah lonjakan konsumsi hanya bersifat musiman atau mencerminkan daya beli yang memang mulai menguat. Ini penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Neraca Dagang China, Kompas Baru Harga Komoditas

Pada Selasa (14/4/2026), perhatian global tertuju ke China yang merilis neraca dagang Maret 2026, lengkap dengan data ekspor dan impor.

Pada periode sebelumnya, surplus dagang China melonjak ke US$90,98 miliar. Untuk Maret, konsensus pasar memperkirakan surplus naik ke US$112 miliar, meski proyeksi lain berada di sekitar US$105 miliar.

Sebelumnya, pada gabungan Januari-Februari 2026, ekspor China melonjak 21,8% secara tahunan menjadi US$656,58 miliar. Lonjakan ini menjadi yang tercepat sejak Oktober 2021. Sementara impor naik 19,8% menjadi US$442,96 miliar, tertinggi sejak awal 2022.

Kuatnya ekspor menunjukkan pabrik-pabrik China masih mampu menjual barang ke dunia, meski tekanan tarif Amerika Serikat tetap ada. Di sisi lain, impor yang kuat menandakan permintaan domestik belum padam.

Bagi Indonesia, data ini krusial. China adalah pembeli utama batu bara, nikel, CPO, dan berbagai bahan baku lain. Jika impor China kuat, sentimen terhadap saham komoditas domestik berpotensi membaik. Sebaliknya, pelemahan impor dapat menekan ekspektasi permintaan.

PPI Amerika Serikat

Masih pada Selasa malam, Amerika Serikat merilis Producer Price Index (PPI) Maret 2026. Ini adalah indikator harga di tingkat produsen yang sering dibaca sebagai sinyal awal inflasi konsumen.

Pada Februari 2026, PPI AS naik 0,7% secara bulanan, lebih tinggi dari Januari 0,5%. Secara tahunan, inflasi produsen melonjak ke 3,4%, tertinggi dalam setahun.

Untuk Maret, konsensus memperkirakan kenaikan 1,2%, dengan proyeksi lain 1,3%. Jika angka tersebut terealisasi, pasar bisa menilai tekanan harga belum benar-benar jinak.

Situasi ini penting bagi pasar global karena The Fed sangat sensitif terhadap inflasi. Tekanan harga yang tinggi dapat membuat bank sentral AS menunda pemangkasan suku bunga. Dampaknya biasanya terasa melalui penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan tekanan bagi mata uang emerging markets seperti rupiah.

Utang Luar Negeri RI

Pada Rabu (15/4/2026), Bank Indonesia dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Februari 2026.

Sebelumnya, posisi utang luar negeri Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$434,7 miliar atau tumbuh 1,7% secara tahunan, melambat dibanding Desember 2025 yang tumbuh 1,8%.

Perlambatan terjadi karena utang swasta turun menjadi US$193 miliar dari US$194 miliar. Secara tahunan, ULN swasta bahkan terkontraksi 0,7%. Sementara ULN pemerintah justru naik 5,6% menjadi US$216,3 miliar.

Pasar akan melihat apakah tren moderasi utang swasta masih berlanjut dan seberapa besar kebutuhan pembiayaan pemerintah. Stabilitas ULN penting karena berhubungan dengan persepsi risiko eksternal, nilai tukar, dan arus modal asing.

GDP China

Puncak agenda pekan depan datang pada Kamis (16/4/2026), ketika China merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.

Sebelumnya, ekonomi China tumbuh 4,5% pada kuartal IV-2025, melambat dari 4,8% di kuartal sebelumnya dan menjadi laju terlemah dalam tiga tahun.

Untuk kuartal I-2026, konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan 5%, sementara sebagian proyeksi berada di 5,2%.

Data ini akan menjadi tolok ukur utama apakah stimulus Beijing cukup ampuh menopang ekonomi di tengah tekanan sektor properti, deflasi, dan tensi dagang dengan Amerika Serikat.

Jika GDP China lebih kuat dari ekspektasi, pasar Asia biasanya merespons positif. Harga logam industri dan saham berbasis komoditas berpotensi terdorong. Namun jika mengecewakan, sentimen risk-off bisa muncul kembali.

Pabrik dan Konsumen China Ikut Diuji

Masih di hari yang sama, China juga merilis produksi industri dan penjualan ritel Maret.

Produksi industri sebelumnya tumbuh 6,3%, di atas ekspektasi pasar. Aktivitas menguat pada manufaktur, pertambangan, dan utilitas.

Untuk rilis terbaru, konsensus memperkirakan pertumbuhan 5,9%, sedangkan proyeksi lain 5,4%.

Sementara retail sales sebelumnya naik 2,8%, dan untuk Maret diperkirakan meningkat ke 3,5%.

Kombinasi dua data ini penting. Produksi industri menunjukkan denyut pabrik, sedangkan retail sales mencerminkan kepercayaan konsumen China. Jika keduanya kuat, pasar bisa membaca pemulihan ekonomi lebih merata.

Dunia Usaha RI dan PMI-BI

Pada Jumat (17/4/2026), Bank Indonesia akan merilis Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI).

Sebelumnya, responden memperkirakan kegiatan usaha triwulan I-2026 meningkat dengan Saldo Bersih Tertimbang sebesar 12,93%. Dorongan utama berasal dari sektor pertanian, industri pengolahan, transportasi, serta perdagangan seiring Ramadan dan Idulfitri.

Sementara PMI-BI diproyeksikan berada di level 53,17. Angka di atas 50 menandakan manufaktur masih berada di zona ekspansi.

Data ini penting karena memberi gambaran sektor riil sebelum angka pertumbuhan ekonomi resmi dirilis. Jika dunia usaha dan manufaktur tetap kuat, pasar dapat menilai ekonomi Indonesia masih cukup tahan menghadapi perlambatan global.

Jepang dan Inggris Ikut Menyumbang Sinyal

Pada Selasa (21/4/2026), Jepang dijadwalkan merilis neraca dagang Maret. Sebelumnya Jepang mencatat surplus hanya ¥57,3 miliar, turun tajam dari tahun sebelumnya. Pelemahan ekspor dan naiknya impor akan menjadi perhatian pasar.

Inggris juga merilis data pengangguran Februari, dengan proyeksi naik ke 5,3% dari sebelumnya 5,2%. Data tenaga kerja Inggris penting untuk membaca ruang kebijakan Bank of England.

Kepercayaan Konsumen AS Runtuh

Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan anjlok 11% menjadi 47,6 pada awal April 2026, level terendah sepanjang sejarah. Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 52 dan juga 9% lebih rendah dibandingkan level tahun lalu.

Hampir seluruh survei (98%) dilakukan sebelum pengumuman gencatan senjata sementara, yang menegaskan dampak langsung konflik Iran terhadap kepercayaan konsumen.

Sentimen menurun di seluruh kelompok demografi, serta pada setiap komponen indeks, menandakan penurunan yang bersifat luas.

Ekspektasi kondisi bisnis dalam satu tahun ke depan merosot 20%, sementara penilaian terhadap kondisi keuangan pribadi turun 11%, dengan konsumen menyebut kenaikan harga dan menyusutnya nilai aset sebagai kekhawatiran utama.

Kondisi pembelian barang tahan lama dan kendaraan juga semakin memburuk, kembali disebabkan tingginya biaya yang terkait dengan perang.

Ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan melonjak menjadi 4,8% dari 3,8% pada Maret, lonjakan bulanan terbesar sejak April 2025. Sementara itu, ekspektasi inflasi jangka panjang naik menjadi 3,4%, level tertinggi sejak November 2025.

IMF Spring Meeting

Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dalam rangka International Monetary Fund dan World Bank Group Spring Meetings April 2026 berlangsung pada 13-18 April 2026 di Washington, D.C., Amerika Serikat.
Ini adalah pertemuan pertama sejak perang Iran Meletus pada akhir Februari 2026.
Pertemuan Tahunan Spring Meetings International Monetary Fund dan World Bank Group tahun ini diperkirakan berlangsung dengan suasana muram.

Kekhawatiran dan penurunan proyeksi pertumbuhan didasarkan pada lonjakan tarif serta proteksionisme belakangan ini, sementara muncul perdebatan mengenai peran lembaga keuangan internasional dalam menangani perubahan iklim.

Central Banking Forum 2026
Hari ini, CNBC Indonesia bersama Bank Indonesia menghadirkan Central Banking Forum 2026 dengan tema "Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global". Acara akan berlangsung pada Senin, 13 April 2026, di The Grand Ballroom, Mandarin Oriental Jakarta.

Central Banking Forum 2026 menampilkan panel diskusi yang dihadiri oleh perwakilan regulator, pemerintah, perbankan dan lembaga riset.

 

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Survei penjualan eceran RI Februari 2026
  • Penjualan rumah eksisting AS Maret 2026
  • IMF dan World Bank Spring Meeting
  • M2 Money Supply China Maret 2026
  • Central Banking Forum
  • PPDP Regulatory Dissemination Day 2026 di Ballroom Ritz Carlton Hotel, Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Merdeka Gold Resources Tbk
  • Tanggal DPS Saham Bonus Bank Mega Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai Bank Mega Tbk
  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Bank Danamon Indonesia Tbk

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


(gls/gls) Next Article Selamat Datang Perdagangan Bursa 2026, Investor Menunggu Banjir Cuan


Most Popular
Features