MARKET DATA

Perundingan di Pakistan Gagal, Ternyata Ini Permintaan AS ke Iran

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
12 April 2026 12:20
Wakil Presiden AS JD Vance berbicara di samping Menteri Keuangan AS Scott Bessent setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif mengenai kesepakatan yang akan melepaskan operasi TikTok AS dari ByteDance dari pemiliknya di Tiongkok, ByteDance, di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 25 September 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Foto: Wakil Presiden AS JD Vance berbicara di samping Menteri Keuangan AS Scott Bessent setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif mengenai kesepakatan yang akan melepaskan operasi TikTok AS dari ByteDance dari pemiliknya di Tiongkok, ByteDance, di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 25 September 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington telah mengajukan penawaran final dan terbaik.

Vance mengisyaratkan bahwa pihaknya masih memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan tawaran dari Amerika Serikat. Sebelumnya, Washington mengatakan akan menunda serangan bersama Israel selama dua minggu sambil menunggu hasil negosiasi.

"Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan penawaran final dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya," kata Vance kepada wartawan setelah 21 jam perundingan di Islamabad, dikutip dari AFP, Minggu (12/4/2026).

Vance mengatakan bahwa sengketa utama dalam pembicaraan itu terkait senjata nuklir. Iran bersikeras tidak sedang membuat bom atom.

"Fakta sederhananya, kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka cepat mencapainya," ujarnya.

Namun hingga pembicaraan berakhir, AS mengaku belum melihat komitmen tersebut dari Iran.

"Kami belum melihat itu. Kami berharap kami akan melihatnya," kata Vance.

Sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan akan menunda serangan bersama Israel selama dua minggu untuk memberi ruang negosiasi. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya diplomatik terakhir sebelum keputusan lanjutan diambil.

Selain isu nuklir, pembicaraan juga berlangsung di tengah ketegangan terkait Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun Vance tidak merinci adanya perbedaan signifikan terkait isu tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa Presiden Donald Trump, telah bersikap akomodatif dalam perundingan tersebut.

"Saya pikir kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, kalian harus datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan," ucap Vance.

"Kami telah melakukannya dan, sayangnya, kami tidak mampu membuat kemajuan." imbuhnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]


Most Popular
Features