MARKET DATA

Data Membuktikan Ekspor Jam Tangan RI Kian Menciut, Ada Apa?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
12 April 2026 12:00
Ilustrasi Penjualan Jam Tangan (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Penjualan Jam Tangan (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan ekspor jam tangan Indonesia masuk 2026 dengan skala yang makin kecil. Data Satu Data Kemendag menunjukkan nilai ekspor untuk HS 9101-jam tangan dengan casing logam mulia, pada Januari-Februari 2026 hanya mencapai US$0,1019 juta.

Jepang muncul sebagai tujuan terbesar pada awal tahun ini dengan nilai US$0,0479 juta, diikuti Singapura US$0,0271 juta dan Malaysia US$0,0105 juta. Di bawahnya, pasar seperti Irak, Thailand, hingga Jerman mengisi porsi kecil yang tersebar. Peta ini memberi gambaran distribusi ekspor yang tidak merata, terkonsentrasi di beberapa titik dengan permintaan terbatas, tanpa penopang volume dari pasar besar lain.

Jika ditarik ke belakang, sepanjang Januari-Desember 2025, total ekspor HS 9101 mencapai US$0,5348 juta. Singapura mendominasi dengan kontribusi US$0,416 juta lebih dari 70% total ekspor. Malaysia, Timor Leste, dan Jepang mengikuti dengan nilai yang jauh lebih kecil. Struktur ini mengindikasikan ketergantungan tinggi pada satu hub perdagangan regional, yang berpotensi berperan sebagai re-export point ketimbang pasar konsumsi akhir.

Namun, gambaran yang lebih luas dari Badan Pusat Statistik memperlihatkan tekanan yang lebih dalam.

Total ekspor untuk seluruh kategori HS 91 turun dari US$28,88 juta pada 2022 menjadi US$23,17 juta pada 2025. Tren ini tidak bergerak lurus, tetapi arah akhirnya jelas menurun. Artinya, pelemahan tidak hanya terjadi di segmen premium berbasis logam mulia, tetapi juga merambat ke keseluruhan industri jam tangan.

Di tingkat produk, jam tangan mekanik otomatis (HS 91012100) sempat melonjak ke US$1,07 juta pada 2024, lalu jatuh ke US$106 ribu pada 2025. Pola serupa terlihat pada kategori lain: HS 91022100 turun drastis dari US$482 ribu menjadi hanya US$16 ribu dalam setahun. Bahkan kategori elektronik seperti HS 91021900 menyusut dari US$470 ribu ke US$107 ribu. Ini bukan sekadar penurunan bertahap, melainkan koreksi tajam yang terjadi dalam waktu singkat.

Dari sisi mekanisme pasar, pola ini mengarah pada dua kemungkinan. Pertama, permintaan global untuk jam tangan konvensional melemah, tertekan oleh pergeseran ke perangkat wearable berbasis teknologi. Kedua, posisi Indonesia dalam rantai pasok jam tangan global masih tipis lebih sebagai pelengkap daripada pemain utama. Ketika permintaan melemah, pemain di lapisan ini menjadi yang pertama terkena dampak.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular