MARKET DATA

Punya Beban Utang Dolar, Deretan Emiten RI Ini Siap-Siap Goyang

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 April 2026 11:00
Makin Agresif! China Siap Kudeta Amerika Jadi Raja Pemberi Utang RI
Foto: Infografis/Makin Agresif! China Siap Kudeta Amerika Jadi Raja Pemberi Utang RI/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah terpantau masih ambruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), posisinya semakin rawan lanjut melemah sehingga pelemahan rupiah ini menjadi beban bagi perusahaan yang memiliki banyak utang dalam mata uang dolar AS.

Melansir data Refinitiv, pada hari ini, Senin (13/4/2026) hingga pukul 10.33 WIB, rupiah bertengger di Rp17.120/US$, sudah melemah 0,2%. Ini adalah posisi terlemah sepanjang masa.

Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (10/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085/US$.

Hal ini diakibatkan oleh banyaknya sentimen negatif di pasar global mulai dari ketidakpastian keadaan geopolitik global, potensi kenaikan nilai inflasi, dan juga outflow yang terjadi di pasar keuangan dalam negeri.

Hal ini membebankan biaya yang besar pada pengusaha atau perusahaan yang punya bisnis impor karena beban untuk memasok bahan baku akan melambung lebih tinggi akibat terkena selisih kurs.

Perusahaan lain yang cenderung dirugikan juga ketika rupiah melemah, adalah yang memiliki uang berdenominasi dolar AS.

Berikut ada beberapa emiten yang rawan buntung ketika rupiah melemah:

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi salah satu emiten yang terekspos dampak fluktuasi nilai tukar rupiah.

Melansir dari laporan keuangan hingga akhir 2025, ICBP memiliki total liabilitas mata uang asing per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, adalah sekitar Rp48,60 triliun.

Komponen terbesar berasal dari Obligasi Global senilai US$2,75 miliar yang setara dengan Rp47,05 triliun. Kewajiban Dolar AS lainnya, termasuk utang usaha, tercatat sebesar US$46,41 juta atau setara Rp794,07 miliar.

Sisa liabilitas dalam mata uang lainnya, seperti Riyal Arab Saudi, Lira Turki, dan Yen Jepang, memiliki total nilai kumulatif sekitar Rp754,70 miliar.

Hingga periode laporan tersebut, tidak terdapat kebijakan lindung nilai (hedging) formal yang diterapkan untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar mata uang asing ini.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Selanjutnya terdapat induk usaha ICBP yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang juga memiliki eksposur terhadap fluktuasi rupiah.

Total liabilitas mata uang asing INDF per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, mencapai sekitar Rp56,66 triliun. Porsi terbesar berasal dari kewajiban jangka panjang (termasuk Obligasi Global dan pinjaman bank) senilai US$2,84 miliar yang setara dengan Rp48,52 triliun.

Selain itu, terdapat utang bank jangka pendek senilai US$384,93 juta (setara Rp6,58 triliun), serta utang usaha dan kewajiban operasional lainnya dalam Dolar AS sebesar US$55,04 juta (setara Rp941,73 miliar).

Kewajiban dalam mata uang non-USD, seperti Yen Jepang, Riyal Arab Saudi, dan Lira Turki, memiliki nilai kumulatif sekitar Rp620 miliar. Perusahaan tercatat tidak memiliki kebijakan hedging formal atas risiko fluktuasi nilai tukar tersebut pada periode laporan terkait.

PT Modernland Realty Tbk (MDLN)

Emiten properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) menjadi perusahaan berikutnya yang terekspos kondisi fluktuasi rupiah.

Hingga akhir 2025, MDLN memiliki total liabilitas valuta asing per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, tercatat sekitar Rp5,28 triliun.

Seluruh kewajiban ini berada dalam denominasi Dolar AS, di mana porsi terbesar berasal dari utang obligasi senilai US$274,51 juta atau setara Rp4.696,87 miliar yang akan jatuh tempo pada April 2027.

 

Komponen utang lainnya mencakup pinjaman sindikasi sebesar US$31,30 juta (setara Rp535,54 miliar) yang jatuh tempo pada Januari 2027, serta beban akrual senilai US$3,05 juta (setara Rp52,19 miliar).

Untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar, perusahaan menggunakan instrumen derivatif berupa kontrak forward mata uang serta melakukan pengawasan rutin terhadap kondisi ekonomi.

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)

Dari sektor telekomunikasi, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatat total liabilitas valuta asing per akhir 2025 sebesar Rp1,15 triliun. Porsi ini berasal dari utang usaha kepada pemasok senilai US$67,12 juta (setara Rp1,15 triliun) serta beban akrual sebesar US$0,22 juta (setara Rp3,76 miliar).

Berbeda dengan periode sebelumnya, perusahaan tidak lagi mencatat pinjaman bank jangka panjang maupun obligasi dalam mata uang asing pada akhir tahun 2025.

Eksposur risiko nilai tukar saat ini terutama bersumber dari kewajiban pembayaran kepada pemasok untuk kebutuhan belanja modal. Untuk memitigasi risiko tersebut, manajemen melakukan pengawasan dan evaluasi rutin melalui fungsi treasury sesuai dengan kebijakan yang telah disetujui oleh Direksi.

PT Harum Energy Tbk (HRUM)

Untuk sektor energi, PT Harum Energy mencatatkan total liabilitas valuta asing PT Harum Energy Tbk dalam denominasi Dolar AS per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, tercatat sekitar Rp24,58 triliun (setara US$1,43 miliar).

HRUM menggunakan Dolar AS sebagai mata uang fungsional dan penyajian laporan keuangannya, sehingga nilai tersebut merepresentasikan keseluruhan porsi utang dalam Dolar AS yang dimiliki oleh grup perusahaan.

Komponen terbesar dari kewajiban Dolar AS ini berasal dari utang kepada pemegang saham non-pengendali entitas anak senilai US$628,97 juta (setara Rp10.761,83 miliar.

Komponen utama lainnya adalah fasilitas utang bank jangka panjang, termasuk bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun, senilai US$616,67 juta (setara Rp10.55 triliun).

Sisa liabilitas dalam denominasi Dolar AS lainnya mencakup pos operasional seperti utang usaha, utang lain-lain, beban akrual, dan kewajiban pajak, dengan total nilai kumulatif sekitar US$191,31 juta (setara Rp3,27 triliun).

Untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar mata uang, manajemen menerapkan kebijakan penyeimbangan arus kas (natural hedging) dengan menyelaraskan penerimaan dan pembayaran dari aktivitas operasi serta pendanaan dalam mata uang yang sama.

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

Sebagai salah satu emiten farmasi terbesar, total liabilitas valuta asing PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, tercatat sekitar Rp1,83 triliun. Seluruh kewajiban ini didominasi oleh denominasi Dolar AS dengan total US$75,26 juta atau setara Rp1,28 triliun.

Komponen utamanya terdiri dari utang usaha dan utang lain-lain senilai US$65,27 juta (setara Rp1,12 triliun) , pinjaman konversi senilai US$8,52 juta (setara Rp145,82 miliar), beban akrual sebesar US$1,38 juta (setara Rp23,57 miliar), dan liabilitas sewa sebesar US$0,08 juta (setara Rp1,41 miliar).

Kewajiban dalam mata uang non-USD, seperti Euro, Peso Filipina, Yuan China, dan Baht Thailand, memiliki nilai kumulatif sekitar Rp541,90 miliar.

Untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar, perusahaan tidak mengimplementasikan kebijakan lindung nilai (hedging) formal, melainkan dengan merencanakan pembelian valuta asing yang cukup untuk kebutuhan impor, melakukan pemantauan pasar secara intensif, serta mengatur perencanaan waktu pembelian secara tepat.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular