Dolar AS Kian Perkasa, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.100
Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan di zona merah pada level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (10/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085/US$.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,37% ke level 99,010.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global.
Dolar AS melonjak terhadap mata uang utama dunia seiring investor kembali memburu aset aman setelah pembicaraan panjang antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan damai. Kondisi ini membuat pasar kembali dibayangi ketidakpastian yang telah berlangsung hingga pekan ketujuh.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu menyatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan energi harian dunia dan yang secara efektif telah ditutup Iran sejak perang pecah pada akhir Februari.
Langkah ini mendorong harga minyak naik lebih dari 30% dan memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi global.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Saat itu pasar sempat menyambut positif dengan aksi jual minyak dan kembalinya sebagian dana ke aset berisiko seperti saham. Namun, kekhawatiran bahwa kesepakatan itu rapuh membuat pelaku pasar mulai membalikkan posisi tersebut.
Pelaku pasar melihat optimisme terhadap perundingan damai mulai memudar. Dalam situasi seperti ini, dolar AS kembali diburu sebagai aset safe haven di tengah lonjakan harga minyak dan tekanan di berbagai aset lainnya.
Pada akhirnya, penguatan dolar AS di pasar global membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]