Bayang-Bayang Penurunan Bobot MSCI & Perang, IHSG & Rupiah Belum Aman
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street menguat pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia seiring investor mencari tanda-tanda kemajuan menuju kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Investor juga mengevaluasi ancaman eskalasi yang semakin memanas dari Presiden Donald Trump jika Iran gagal membuka kembali Selat Hormuz.
Ketiga indeks utama AS semuanya menguat tipis, dengan S&P 500 dan Nasdaq berada di jalur kenaikan hari keempat berturut-turut menjadi streak terpanjang sejak Januari.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 165,21 poin atau 0,36% menjadi 46.669,88. Indeks S&P 500 menguat 29,33 poin atau 0,45% menjadi 6.612,02, dan Nasdaq Composite menanjak 117,16 poin atau 0,54% menjadi 21.996,34.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor layanan komunikasi mencatat kenaikan persentase terbesar, sementara sektor utilitas menjadi yang terlemah.
Saham sektor perjalanan dan rekreasi, dirgantara & pertahanan, serta konstruksi perumahan menjadi outperformer utama.
Saham Soleno Therapeutics melonjak 32,3% setelah Neurocrine Biosciences setuju mengakuisisi perusahaan obat penyakit langka tersebut secara tunai.
Kenaikan harga Bitcoin turut mendorong saham perusahaan terkait kripto yang terdaftar di AS, seperti Coinbase dan MicroStrategy, masing-masing naik 1,9% dan 6,6%.
Jumlah saham yang naik melampaui yang turun dengan rasio 1,93 banding 1 di NYSE. Tercatat 88 saham mencapai level tertinggi baru dan 54 saham mencatat level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 14,78 miliar saham, dibandingkan rata-rata 19,51 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Mengapa Bursa Membaik?
Iran telah menolak proposal AS untuk gencatan senjata segera, dan bersikeras pada penghentian perang secara permanen, menurut kantor berita Islamic Republic News Agency (IRNA). Penolakan ini terjadi setelah ultimatum Trump yang semakin agresif, yang berjanji akan "menghujani neraka" ke Iran jika jalur vital Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal tanker minyak.
Investor mendapat sedikit ketenangan dari laporan yang menyebutkan bahwa AS, Iran, dan sejumlah mediator regional masih terus membahas syarat-syarat potensi gencatan senjata.
"Realitanya, kita perlahan semakin dekat ke suatu bentuk penyelesaian," kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group, Omaha, kepada Reuters
"Sayangnya, itu tidak akan terjadi hari ini. Tapi investor merasa kita melihat lebih banyak dialog dari kedua pihak. Volatilitas harian dan berita-berita bisa terasa memualkan." Imuhnya.
Perang AS-Israel melawan Iran telah mengguncang pasar selama lebih dari sebulan. Lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi, dan saham sempat anjlok. Meskipun S&P 500 berada di jalur kenaikan empat hari berturut-turut, indeks acuan tersebut masih turun 3,9% sejak konflik dimulai.
Data ekonomi pada hari Senin menunjukkan sektor jasa AS tumbuh lebih lambat dari perkiraan pada Maret, sementara lapangan kerja di sektor tersebut menyusut dan komponen harga yang dibayar melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022.
Laporan ketenagakerjaan Maret yang sangat dinantikan, dirilis saat libur pasar Good Friday, menunjukkan ekonomi AS menambah 178.000 lapangan kerja bulan lalu, hampir tiga kali lipat dari konsensus 60.000. Namun, kejutan positif ini sedikit teredam oleh revisi data Februari yang menunjukkan kehilangan 133.000 pekerjaan, dari sebelumnya 92.000.
(emb/emb)