MARKET DATA

Asia Tak Kompak Hadapi Amerika: Rupiah - Peso Kebakaran Hebat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 April 2026 10:10
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang negara-negara Asia berada di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Senin (6/4/2026). Di tengah penguatan dolar AS yang kembali diburu investor seiring eskalasi perang Iran dan ultimatum terbaru Presiden AS Donald Trump terkait Selat Hormuz.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.15 WIB, dari sembilan mata uang Asia yang dipantau, enam mata uang melemah dan tiga mata uang menguat terhadap greenback.

Pelemahan terdalam terjadi pada peso Filipina yang turun 0,56% ke level PHP 60,508/US$. Tekanan turut terjadi pada dong Vietnam yang melemah 0,08% ke VND 26.339/US$, disusul dolar Taiwan yang juga turun 0,08% ke TWD 32,006/US$.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah kembali tertekan dan melemah 0,06% ke level Rp17.000/US$. Pelemahan diikuti mata uang negara tetangga, Ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,05% ke posisi MYR 4,030/US$, sementara yen Jepang melemah tipis 0,01% ke JPY 159,57/US$.

Di tengah mayoritas mata uang Asia yang melemah, beberapa lainnya masih mampu menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan setelah naik 0,39% ke posisi KRW 1.504,2/US$. Baht Thailand menyusul menguat 0,21% ke THB 32,58/US$, sementara dolar Singapura naik 0,05% ke SGD 1,2858/US$.

Arah pergerakan ini sejalan dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang pada waktu yang sama naik 0,20% ke level 100,231. Penguatan dolar AS terjadi ketika investor kembali mengambil posisi defensif di tengah eskalasi perang Iran dan meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Sentimen pasar memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum terbaru terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Dalam unggahan media sosial pada Minggu Paskah kemarin, Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada Selasa (7/4/2026), jika jalur strategis tersebut tidak dibuka kembali. Trump bahkan menetapkan tenggat yang jelas, yakni Selasa pukul 20.00 waktu setempat.

Pelaku pasar menilai ultimatum baru ini justru memperkuat persepsi bahwa gangguan akan berlangsung lebih lama dan berdampak lebih luas ke ekonomi.

Investor melihat situasi ini sebagai masalah berantai: dari lonjakan harga minyak, merembet ke inflasi, lalu mendorong suku bunga bertahan tinggi. Dalam kondisi tersebut, dolar AS dinilai masih menjadi aset safe haven yang paling menarik sementara emas, obligasi, dan yen Jepang dinilai tidak sekuat biasanya dalam merespons ketegangan geopolitik.

Pada gilirannya, penguatan dolar AS di pasar global tersebut mengurangi ruang penguatan bagi mata uang negara lain, tak terkecuali mata uang Asia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular