Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah Paling Parah, Cuma Negara Ini Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia bergerak di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/3/2026). Seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.27 WIB, dari sebelas mata uang Asia yang dipantau, hanya yen Jepang yang masih mampu bertahan di zona hijau. Selebihnya, mayoritas mata uang Asia terpantau melemah terhadap greenback.
Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam pada pagi hari ini, setelah terdepresiasi 0,39% ke level Rp16.915/US$. Pelemahan yang cukup dalam juga dialami oleh baht Thailand yang turun 0,38% ke THB 31,70/US$ dan peso Filipina yang melemah 0,36% ke PHP 58,603/US$.
Tekanan juga terlihat pada yuan China yang turun 0,31% ke level CNY 6,9213/US$. Dolar Taiwan melemah 0,27% ke TWD31,79/US$, sementara dong Vietnam dan ringgit Malaysia masing-masing turun 0,1% ke level VND 26.175/US$ dan MYR 3,947/US$.
Di sisi lain, dolar Singapura melemah 0,05% ke SGD 1,2778/US$, won Korea Selatan turun tipis 0,04% ke KRW 1.480,7/US$, dan rupee India terdepresiasi 0,06% ke INR 92,085/US$.
Sementara itu, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang Asia yang masih mampu menguat, meski sangat terbatas yakni naik 0,09% ke level JPY 157,57/US$.
Arah pergerakan ini sejalan dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY). Pada saat yang sama, DXY tercatat naik 0,12% ke posisi 99,171, menandakan permintaan terhadap dolar AS masih cukup kuat di pasar global.
Dalam 3 hari perdagangan di pekan ini saja, DXY sudah mengalami penguatan 1,58%.
Penguatan dolar AS terjadi setelah konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar, terutama terkait potensi kenaikan harga energi yang lebih bertahan lama. Dolar bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset likuid dan aman.
Tekanan di pasar keuangan global juga berlanjut pada Rabu pagi ini, setelah serangan militer Israel dan AS ke sejumlah target di Iran memperbesar kekhawatiran akan lonjakan inflasi. Kondisi tersebut memicu aksi jual di pasar saham dan obligasi, sementara investor beralih memburu kas dan aset safe haven, termasuk dolar AS.
Lonjakan harga minyak dan gas global turut memperkuat sentimen itu. Perang antara AS-Israel dan Iran mengganggu ekspor energi dari Timur Tengah, setelah serangan Teheran ke kapal dan fasilitas energi menyebabkan jalur pelayaran di kawasan Teluk terganggu dan memaksa penghentian produksi di sejumlah negara, mulai dari Qatar hingga Irak.
Kondisi ini membuat dolar AS semakin diburu, sekaligus memberi tekanan pada mayoritas mata uang Asia pada perdagangan pagi ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google