Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Cuma Negara Ini Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas nilai tukar mata uang Asia tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (30/1/2026). Tekanan terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.50 WIB, hampir seluruh mata uang Asia terpantau melemah seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global. Won korea menjadi mata uang Asia yang terkoreksi paling besar terhadap greenback.
Nilai tukar Negeri Ginseng ini melemah 0,53% atau terdepresiasi ke level KRW 1.439,1/US$. Pelemahan diikuti oleh yen Jepang yang melemah tak berbeda jauh sebesar 0,52% di posisi JPY 153,88/US$.
Pelemahan berikutnya terjadi pada baht Thailand yang terdepresiasi 0,45% ke THB 31,36/US$, serta ringgit Malaysia yang melemah 0,41% ke MYR 3,941/US$.
Sementara itu, mata uang Garuda juga tak mampu berkuasa melawan dolar AS. Rupiah terpantau tertekan 0,30% ke posisi Rp16.796/US$ atau melanjutkan pelemahannya sejak penutupan perdagangan sebelumnya.
Serta dolar Singapura dan dolar Taiwan juga melemah dengan pelemahan 0,23% dan 0,17% ke posisi SGD 1,26/US$ dan TWD 31,4/US$.
Pelemahan juga melanda rupee India, peso Filipina, hingga yuan China yang melemah namun tipis.
Menariknya, ditengah mayoritas mata uang Asia yang melemah, dong Vietnam justru mampu tampil berbeda di zona positif. Dong menguat 0,08% atau terapresiasi ke posisi VND 25.930/US$.
Pelemahan pada hampir seluruh mata uang Asia ini tak lepas dari pergerakan dolar AS di pasar global. Hal ini terlihat pada kenaikan yang tengah terjadi pada indeks dolar AS (DXY) yakni indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.
Indeks dolar tengah berada di zona positif dengan penguatan sebesar 0,37% atau naik ke level 96,642.
Dolar AS menguat dan memangkas pelemahan pekanan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan segera mengumumkan kandidat ketua Federal Reserve berikutnya, di tengah optimisme bahwa Washington dapat menghindari government shutdown.
Pasar juga merespons kabar bahwa mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh disebut-sebut menjadi salah satu kandidat kuat, setelah dilaporkan bertemu Trump di Gedung Putih.
Sejumlah pelaku pasar menilai prospek Warsh jika benar, dipandang sebagai figur yang relatif independen, sehingga membantu menenangkan kekhawatiran pasar. Selain itu, menjelang akhir pekan, investor juga cenderung mengurangi posisi (positioning lightening) setelah pergerakan dolar yang cukup volatil sepanjang pekan ini.
Di sisi lain, sentimen global masih dibayangi berbagai isu geopolitik dan kebijakan tarif AS, termasuk langkah eksekutif terkait negara yang memasok minyak ke Kuba serta spekulasi meningkatnya tensi dengan Iran yang sempat mengerek harga minyak. Namun pada saat yang sama, dukungan Trump terhadap kesepakatan belanja untuk mencegah penutupan pemerintahan memberi tambahan dorongan bagi dolar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)