Awas, Efek Aturan Baru Bursa! Hari Ini Juga Ada Pengumuman OJK & BBM
Awal pekan ini kondisi pasar diperkirakan masih relatif sepi dari rilis data besar.
Perkembangan perang, aturan baru bursa hingga konferensi pers pemerintah akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Perkembangan Perang
Presiden AS Donald Trump telah mempublikasikan unggahan di media sosial yang penuh kata-kata kasar, di mana ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara tersebut gagal memenuhi tenggat hari Selasa untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi semua pelayaran.
Ia mengulangi ancaman sebelumnya untuk melepaskan "neraka", namun mengatakan kepada media AS bahwa ada "peluang besar" tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Iran mengejek ultimatum tersebut, menyebutnya sebagai "tindakan putus asa, gugup, dan bodoh".
Ancaman terbaru Trump muncul setelah ia mengumumkan bahwa awak kedua dari jet tempur AS yang ditembak jatuh di atas Iran telah berhasil diselamatkan dalam operasi di dalam wilayah yang sangat berbahaya.
Setelah pesawat F-15 ditembak jatuh pada hari Jumat, baik pilot maupun awak kedua sempat melontarkan diri-dengan pilot berhasil ditemukan tak lama kemudian.
AS dan Iran kemudian berpacu untuk menemukan personel militer AS yang tersisa di wilayah pegunungan di barat daya Iran.
Insiden ini terjadi setelah lebih dari sebulan perang, ketika Iran terus merespons serangan udara AS dan Israel dengan serangan terhadap negara-negara Arab Teluk yang menjadi sekutu AS dan Israel.
Iran juga telah menghentikan aktivitas transportasi normal melalui Selat Hormuz yang vital, sehingga memicu lonjakan tajam harga minyak global dan kekhawatiran akan meningkatnya inflasi di seluruh dunia.
Penutupan tersebut mendorong Trump pada bulan Maret untuk menetapkan serangkaian tenggat bagi Iran agar membuka kembali selat tersebut. Pada hari Minggu, ia kembali menegaskan tuntutan tersebut melalui platform Truth Social miliknya.
Ia mengatakan: "Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya sekaligus, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka selat itu sekarang juga, kalian orang-orang gila, atau kalian akan hidup dalam neraka-LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP"
Ia kemudian melanjutkan dengan serangkaian wawancara dengan media AS. Kepada Fox News, ia mengatakan ada "peluang besar" kesepakatan akan tercapai pada Senin, tetapi ia juga mempertimbangkan untuk "menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyak" jika kesepakatan untuk mengakhiri perang tidak segera tercapai.
Kemudian, presiden AS kembali mengunggah-"Selasa, pukul 20.00 waktu Timur!"-yang tampaknya merupakan perpanjangan tenggat yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Senin, 6 April.
Jenderal Iran Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat menanggapi ancaman Trump dengan menyebutnya sebagai "tindakan yang putus asa, gugup, tidak seimbang, dan bodoh", serta menambahkan bahwa "gerbang neraka akan terbuka" bagi pemimpin AS tersebut.
Konferensi Pers Kebijakan Transportasi dan BBM serta OJK
Hari ini, pemerintah akan menggelar konferensi pers mengenai kebijakan transportasi dan BBM pada pukul 133.30 WIB. Kebijakan ini sangat ditunggu karena akan mempengaruhi masyarakat secara langsung.
Sejauh ini, pemerintah belum mengindikasikan akan menaikkan harga BBM untuk menjaga ekonomi.
Hadir dalam konferensi pers hari ini adalah -Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Sekretaris Negara, - Menteri Keuangan Menteri Perhubungan, dan Sekretaris Kabinet.
Hari ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan menggelar Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan. Menarik ditunggu apa saja perkembangan terbaru dari OJK, terutama mengenai kebijakan pasar modal serta pertemuan dengan pihak MSCI.
Aturan Baru Bursa
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara resmi mulai membuka data High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi terhadap suatu emiten.
Emiten HSC merupakan emiten hanya dimiliki sedikit pihak atau pihak yang terafiliasi. Data ini mulai Kamis kemarin (2/4/2026).
Data yang lebih terbuka ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor pasar modal.
Data ini diambil berdasarkan metodologi penentuan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi (High Shareholding Concentration) atas struktur kepemilikan Saham dalam bentuk Warkat dan Tanpa Warkat per tanggal 31 Maret 2026.
Berdasarkan ketentuan tersebut, ada sembilan saham yang sudah diumumkan Kamis kemarin dengan kepemilikan di atas 95%.
Emiten dengan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi saat ini adalah PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) dengan kepemilikan saham Tunggal 99,85% dan disusul PT Ifishdeco Tbk (IFSH) dengan 99,77%.
Dalam jangka pendek, aturan ini bisa memicu guncangan.
Ketika saham dalam jumlah besar dilepas sekaligus, pasar langsung dibanjiri pasokan. Akibatnya, harga saham berpotensi turun tajam karena tidak diimbangi oleh permintaan yang cukup.
Dalam kondisi normal, pergerakan harga saham ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand. Namun ketika terjadi overhang, keseimbangan ini terganggu secara signifikan. Investor pun sering bereaksi cepat, bahkan cenderung panik, yang memperparah tekanan jual.
Efeknya bisa lebih terasa pada saham dengan kapitalisasi kecil hingga menengah. Saham-saham ini umumnya memiliki likuiditas terbatas, sehingga aksi jual dalam jumlah besar dapat langsung menekan harga secara agresif dalam waktu singkat.
Tak hanya itu, sentimen pasar juga ikut terpengaruh. Aksi jual dari pemegang saham besar sering diartikan sebagai sinyal negatif oleh investor lain. Kekhawatiran bahwa ada informasi tertentu di balik aksi tersebut bisa memicu aksi jual lanjutan (follow-on selling).
Meski demikian, tekanan ini umumnya bersifat sementara. Dalam jangka lebih panjang, distribusi saham ke publik justru dapat meningkatkan likuiditas dan memperluas basis investor, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap kualitas pasar.
Cadangan Devisa Indonesia
Namun memasuki Rabu( 8/4/2026) , pelaku pasar akan mulai disuguhi data penting dari dalam negeri, yakni rilis cadangan devisa oleh Bank Indonesia.
Pada rilis terakhir, BI melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 sebesar US$151,9 miliar. Angka ini turun dibandingkan posisi akhir Januari 2026 yang sebesar US$154,6 miliar. BI menjelaskan penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
BI juga menyebut posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Artinya, posisi tersebut masih dinilai memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Karena itu, data Maret 2026 akan dicermati pasar untuk melihat seberapa kuat ruang Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Ini penting karena cadangan devisa juga menjadi salah satu amunisi BI untuk melakukan intervensi di pasar valas, terutama saat permintaan dolar AS meningkat akibat meningkatnya kekhawatiran global dan lonjakan harga energi.
Selain itu, masih dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan menunggu rilis Survei Konsumen Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (9/4/2026). Dari survei ini, perhatian utama pasar akan tertuju pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) karena data tersebut memberi gambaran mengenai persepsi rumah tangga terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka ke depan.
Pada rilis terakhir, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan keyakinan konsumen pada Februari 2026 tetap kuat. Hal ini tercermin dari IKK Februari 2026 yang berada di level 125,2. Angka itu memang lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 127,2, tetapi masih menunjukkan konsumen tetap optimistis karena indeks bertahan di atas level 100.
Risalah The Fed & PCE, Petunjuk Arah Suku Bunga Global
Berlanjut ke Kamis dini hari (9/4/2026), perhatian global akan tertuju pada rilis risalah rapat Federal Reserve atau FOMC Minutes. Dokumen ini akan memberikan gambaran lebih dalam terkait pandangan para pejabat bank sentral AS terhadap kondisi ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan ke depan.
Pasar akan membedah setiap detail dalam risalah tersebut, terutama terkait bagaimana The Fed menilai dampak lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.
Selain itu, pada hari yang sama, pasar juga akan mencermati data inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis oleh Bureau of Economic Analysis. Indikator ini merupakan acuan utama The Fed dalam mengukur tekanan inflasi.
Pada rilis terakhir, yaitu untuk Januari 2026, indeks harga PCE tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan.
Sementara itu, core PCE naik 0,4% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan. Data ini penting karena core PCE dianggap memberi gambaran yang lebih bersih mengenai tren inflasi dasar di AS, sehingga sangat diperhatikan dalam penentuan arah suku bunga.
Untuk rilis pekan depan, yang akan diumumkan adalah data Februari 2026. Pelaku pasar memperkirakan core PCE tumbuh sekitar 3,0% secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,1% pada Januari. Meski demikian, pasar tetap akan melihat apakah tekanan harga mulai bertahan lebih lama di tengah lonjakan biaya energi global.
Jika inflasi PCE masih tinggi, maka ekspektasi pelonggaran moneter berpotensi kembali tertunda. Dampaknya dapat terasa pada penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta tekanan terhadap aset berisiko global.
Inflasi AS & China, Penentu Arah Pasar Global
Sementara, puncak sentimen pekan depan akan terjadi pada Jumat (10/4/2026), saat dua raksasa ekonomi dunia merilis data inflasi masing-masing.
Dari Amerika Serikat, pasar akan menanti data Consumer Price Index (CPI) Maret 2026. Inflasi diperkirakan melonjak cukup tajam, didorong oleh kenaikan harga energi. Jika realisasi inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, pasar dapat menilai bahwa Federal Reserve akan semakin berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Kondisi ini biasanya akan menopang dolar AS dan memberi tekanan tambahan bagi aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Sementara itu, dari China, pasar akan mencermati rilis inflasi oleh National Bureau of Statistics.
Pada rilis terakhir, inflasi konsumen China untuk Februari 2026 tercatat naik 1,3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 0,2% pada Januari. Secara bulanan, CPI naik 1,0%, sementara inflasi inti tercatat 1,8%. Kenaikan tersebut antara lain didorong lonjakan permintaan selama libur Tahun Baru Imlek.
Data ini akan memperlihatkan gambaran kekuatan permintaan domestik setelah periode libur Tahun Baru Imlek.
(emb/emb)