MARKET DATA

Eropa Terbelah! Krisis Pengangguran di Barat, Full Employment di Timur

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
05 April 2026 10:00
Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)
Foto: Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar tenaga kerja di Eropa pada awal 2026 menunjukkan dua pola yang berbeda. Di satu sisi, sejumlah negara masih mengalami tingkat pengangguran yang tinggi. Namun disisi lain, beberapa negara justru mendekati kondisi full employment.

Data terbaru Eurostat per Januari 2026 menunjukkan rata-rata tingkat pengangguran Eropa berada di 5,5%, tetapi kesenjangan antar negara masih sangat lebar.

Negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di Eropa saat ini adalah Finlandia sebesar 10,2% dan Spanyol 9,8%, diikuti oleh Swedia 8,7%, serta Prancis dan Yunani masing-masing 7,7%.

Yang selama ini identik dengan model pasar tenaga kerja kuat justru masuk kelompok atas di Eropa. Kondisi ini berbanding terbalik dengan citra "model Nordic" dan mencerminkan tekanan dari perlambatan ekonomi pasca-pandemi, terutama di sektor manufaktur dan teknologi.

Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah atau hampir mendekati kondisi full employment dicatat oleh Rusia sebesar 2,2%, disusul Bulgaria 3,1%, dan Polandia 3,1%.

Negara di Luar Uni Eropa

Negara non-Uni Eropa menunjukkan dinamika berbeda. Inggris 5,2) berada di sekitar rata-rata kawasan, sementara Norwegia 4,5% dan Swiss 3,2% mencatat kinerja lebih solid berkat fleksibilitas pasar tenaga kerja dan kekuatan sektor utama masing-masing.

Yang paling menonjol adalah Rusia 2,2%, dengan tingkat pengangguran terendah di antara ekonomi besar Eropa. Namun, angka ini tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi sipil, melainkan juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di sektor militer dan industri pertahanan.

Bagi investor dan pembuat kebijakan, kesenjangan ini menjadi sinyal penting. Negara dengan pengangguran rendah menghadapi tekanan kenaikan upah dan potensi inflasi, sementara negara dengan pengangguran tinggi masih membutuhkan stimulus untuk mendorong pertumbuhan. Perbedaan ini juga akan mempengaruhi daya tahan konsumsi domestik di masing-masing negara sepanjang 2026.

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular