MARKET DATA

Ekonomi Venezuela Bak Roller Coaster, Inflasi Tembus 65.000%

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 January 2026 14:10
Aksi rdemonstrasi menentang tindakan AS di Venezuela, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, di Paris, Prancis, Minggu (4/1/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)
Foto: Aksi rdemonstrasi menentang tindakan AS di Venezuela, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, di Paris, Prancis, Minggu (4/1/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela baru saja mendapatkan tekanan setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer pada Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Kejadian ini menambah ketidakpastian politik dan memperburuk tekanan terhadap perekonomian dalam negeri Venezuela yang selama beberapa tahun terakhir telah mengalami gejolak ekonomi yang cukup parah.

Negara dengan populasi sekitar 28,4 juta jiwa tersebut kini berada di urutan ke-53 negara terpadat di dunia. Namun secara ekonomi, Venezuela justru berada pada kelompok negara dengan ukuran ekonomi kecil di kawasan Amerika Latin.

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Venezuela saat ini diperkirakan berada di kisaran US$108,5 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan potensi sumber daya alamnya yang besar, terutama dari sektor minyak dan gas.

Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Venezuela menghadapi berbagai tekanan struktural, mulai dari hiperinflasi, kontraksi pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran yang sempat meningkat, hingga suku bunga acuan bank sentral (BCV) yang berada pada level tinggi.

Di tengah kondisi yang semakin panas pasca serangan militer AS, menarik untuk melihat bagaimana sebenarnya tren perkembangan indikator utama perekonomian Venezuela dalam beberapa tahun terakhir.

Pertumbuhan Ekonomi

Pergerakan PDB Venezuela dalam tiga dekade terakhir menunjukkan tren yang sangat volatil.

Pada awal 2000-an, perekonomian masih sempat tumbuh positif, namun mulai memasuki fase kontraksi dalam pada 2013-2014 dan jatuh semakin dalam pada periode 2016-2020, ketika Venezuela mengalami resesi berkepanjangan dengan kontraksi PDB dua digit selama beberapa tahun berturut-turut.

Krisis tersebut menandai kejatuhan ekonomi terbesar dalam sejarah modern negara itu, seiring hiperinflasi, penurunan produksi minyak, serta tekanan sanksi internasional.

Memasuki 2021, perekonomian mulai menunjukkan pemulihan. Bank Sentral Venezuela (BCV) mencatat bahwa pada kuartal III 2025, PDB bahkan mampu tumbuh 8,71% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan menjadi bagian dari 18 kuartal berturut-turut pertumbuhan sejak pemulihan dimulai pada 2021.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor minyak yang mencatat ekspansi dua digit, sementara sektor non-migas juga kembali tumbuh positif. Meski demikian, pemulihan ini masih bersifat terbatas dan belum sepenuhnya menutup kedalaman kontraksi yang terjadi pada periode krisis sebelumnya.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK)

Perjalanan inflasi Venezuela dalam 30 tahun terakhir mencerminkan fase hiperinflasi yang sangat ekstrem, terutama pada periode 2016-2020.

Berdasarkan data dari IMF, tekanan harga mulai meningkat signifikan sejak 2015 ketika inflasi mencapai 121,7% yoy, kemudian melonjak tajam pada 2016 sebesar 254,9% dan lanjut naik ke 438,1% pada 2017.

Puncaknya terjadi pada 2018, ketika inflasi tahunan Venezuela menembus 65.374,1% yoy. Setelah itu, inflasi masih berada pada level hiperinflasi pada 2019 sebesar 19.906%.

Memasuki 2022-2024, inflasi sempat melandai hingga berada di kisaran ratusan persen. Namun, stabilisasi tersebut belum sepenuhnya berkelanjutan. Bank sentral menghentikan penerbitan laporan inflasi sejak Oktober tahun lalu, sementara di saat yang sama tekanan harga kembali meningkat seiring depresiasi bolivar dan meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai lindung nilai.

Di tengah keterbatasan data resmi, sejumlah konsultan ekonomi memperkirakan inflasi di Caracas kini kembali bergerak di kisaran 20%-30% per bulan, terutama dipicu pelemahan nilai tukar.

IMF juga memperkirakan inflasi tahunan Venezuela berada di sekitar 270% pada 2025 dan berpotensi meningkat hingga lebih dari 600% pada 2026 yang mencerminkan bahwa risiko inflasi masih menjadi ancaman utama bagi proses pemulihan ekonomi.

Suku Bunga

Perkembangan suku bunga kebijakan di Venezuela bergerak sejalan dengan dinamika inflasi yang ekstrem. Sepanjang periode krisis, suku bunga dipertahankan pada level yang sangat tinggi sebagai upaya menahan tekanan inflasi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.

Suku bunga acuan Venezuela rata-rata berada di kisaran 24,38% pada periode 1998-2025, dengan volatilitas yang cukup besar mengikuti gejolak ekonomi domestik. Level tertinggi tercatat pada Februari 2002 ketika suku bunga sempat menembus 83,73%, sementara rekor terendah terjadi pada April 2006 ketika suku bunga turun hingga 12,79% di tengah periode stabilisasi harga.

Pada kondisi hiperinflasi, kenaikan suku bunga lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi jangka pendek ketimbang instrumen pengendalian moneter konvensional.

Struktur perekonomian yang tertekan, keterbatasan akses pendanaan, dan menurunnya aktivitas sektor perbankan menyebabkan transmisi kebijakan suku bunga oleh bank sentral Venezuela tidak berjalan optimal.

Dalam beberapa periode terakhir, suku bunga acuan kembali berada pada tingkat yang tinggi, yaitu sekitar 58,34%, mencerminkan bahwa ruang pelonggaran kebijakan masih terbatas di tengah risiko inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Tingkat Pengangguran

Pergerakan tingkat pengangguran di Venezuela dalam tiga dekade terakhir juga memperlihatkan tekanan akibat krisis yang berkepanjangan.

Berdasarkan data yang dirilis oleh World Bank, tingkat pengangguran Venezuela rata-rata berada di kisaran sekitar 10% pada periode 1999-2024, dengan fase lonjakan signifikan pada masa kontraksi ekonomi awal 2000-an.

Puncaknya terjadi pada 2003, ketika tingkat pengangguran mencapai sekitar 20%-21%, level tertinggi dan mencerminkan tekanan besar terhadap pasar tenaga kerja akibat melemahnya aktivitas produksi dan meningkatnya penutupan usaha.

Setelah periode tersebut, pengangguran sempat menurun bertahap dan mencapai titik terendah pada 2014 di kisaran 5,5%, seiring membaiknya aktivitas ekonomi dan masih kuatnya peran sektor minyak pada masa itu.

Namun, krisis ekonomi yang kembali memuncak pada 2016-2020 membuat struktur pasar tenaga kerja menjadi semakin rapuh, ditandai dengan menyusutnya lapangan kerja formal, meningkatnya ekonomi informal, serta migrasi tenaga kerja dalam skala besar ke luar negeri.

Memasuki periode terakhir, data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran Venezuela berada di sekitar 5,5% pada 2024.

Meski angka tersebut tampak lebih rendah dibanding periode krisis sebelumnya, penurunan pengangguran belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan struktural.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular