Sim Salabim! 10 Emiten Ini Sulap Boncos Jadi Untung
Jakarta, CNBC Indonesia - Musim rilis laporan keuangan tahun buku 2025 tengah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan perbaikan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun penuh 2025.
Berdasarkan rilis laporan keuangan dari masing-masing perusahaan, perbaikan kinerja ini ditandai dengan keberhasilan pencetakan laba bersih, setelah pada periode yang sama di tahun 2024 emiten-emiten tersebut masih berada pada posisi rugi bersih.
Keberhasilan ini mengindikasikan adanya perbaikan strategi bisnis, efisiensi operasional, serta peningkatan pendapatan secara berkesinambungan di berbagai sektor industri pasar modal.
Pemulihan Kinerja Terbesar pada Sektor Baja dan Keuangan
Pembalikan arah kinerja keuangan dengan nilai pemulihan paling tajam dicatatkan oleh emiten baja, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Pada tahun penuh 2024, perusahaan membukukan kerugian yang mencapai Rp 2,40 triliun.
Namun, pada penutupan tahun 2025, KRAS berhasil memperbaiki fundamental keuangannya secara komprehensif dan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,77 triliun.
Perubahan dari posisi rugi menjadi laba triliunan rupiah ini menjadikannya emiten dengan transisi kinerja paling signifikan dalam satu tahun terakhir, yang ditopang oleh langkah-langkah restrukturisasi keuangan dan penyesuaian beban pokok perusahaan.
Selain KRAS, pembalikan arah kinerja keuangan dari posisi rugi menjadi laba dengan nilai pemulihan paling tajam dicatatkan oleh PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP). Pada tahun penuh 2024, perusahaan membukukan kerugian yang sangat dalam, yakni mencapai Rp 6,33 triliun.
Namun, pada penutupan tahun 2025, BBKP berhasil mengelola fundamental keuangannya dan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 65,9 miliar. Hal ini membuat nilai laba bersih per saham BBKP berada di angka Rp 0,35 per lembar.
Di sektor investasi, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) juga menunjukkan pemulihan kinerja dengan nilai yang signifikan. PALM sukses membukukan laba bersih sebesar Rp 1,85 triliun pada tahun 2025, berbalik arah secara drastis dari kondisi kerugian senilai Rp 1,98 triliun pada tahun sebelumnya. Capaian ini membawa nilai laba bersih per saham PALM mencapai tingkat Rp 117,40 per lembar.
Kontribusi Pertumbuhan dari Emiten Sektor Lain
Pemulihan kinerja operasional dan finansial ini tidak hanya didominasi oleh dua perusahaan di atas, melainkan merata pada emiten di sektor lainnya. Sebagai contoh, PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) mencetak laba bersih Rp 150,7 miliar, yang didukung langsung oleh peningkatan pendapatan dari Rp 613,4 miliar pada 2024 menjadi Rp 820,6 miliar pada 2025.
Sektor hiburan dan farmasi juga menunjukkan daya tahan yang baik. PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 60,8 miliar yang sejalan dengan naiknya pendapatan lini bisnis perusahaan.
Sementara itu, di sektor farmasi, PT Phapros Tbk (PEHA) berhasil mengubah posisi rugi bersih Rp 285,1 miliar menjadi laba bersih Rp 28,0 miliar dalam kurun waktu satu tahun.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)