MARKET DATA

Kinerja Kinclong, Ini Hitung-Hitungan Dividen BTN

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
25 February 2026 10:30
Gedung Bank BTN. (Dok. BTN)
Foto: Gedung Bank BTN. (Dok. BTN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rilis laporan keuangan tahun penuh (full year) 2025 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) memberikan landasan fundamental yang solid bagi proyeksi pembagian dividen perseroan.

Dengan pencapaian laba bersih konsolidasian yang mencapai Rp 3,50 triliun, estimasi pembagian dividen sebesar Rp 74,70 per saham memiliki justifikasi yang kuat

Pertumbuhan Laba dan Konfirmasi EPS

Laporan posisi keuangan perseroan mencatatkan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian sebesar Rp 3,50 triliun pada akhir 2025. Pencapaian tersebut mencerminkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, di mana laba bersih tercatat sebesar Rp 3,00 triliun.

Kinerja profitabilitas ini secara langsung mendorong peningkatan Laba Bersih Per Saham (EPS) BBTN menjadi Rp 249 per lembar pada 2025. Jika disimulasikan dengan indikasi manajemen mengenai target rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio/DPR) sebesar 30%.

Dengan perhitungan ini, maka EPS aktual sebesar Rp 249 tersebut secara matematis menghasilkan nilai teoretis dividen tepat di angka Rp 74,70 per saham dengan catatan menggunakan harga saham di level 1.385.

Ekspansi Kredit dan Kualitas Aset

Pertumbuhan laba bersih tersebut sejalan dengan fungsi intermediasi perbankan yang berjalan secara ekspansif. Total penyaluran kredit BBTN secara konsolidasian mencapai Rp 345,70 triliun pada akhir 2025, meningkat dibandingkan posisi Rp 314,08 triliun pada tahun sebelumnya.Ekspansi aset produktif ini diimbangi dengan manajemen kualitas aset yang memadai.

Indikator Non-Performing Loan (NPL) net perseroan mengalami perbaikan, turun menjadi 1,85% pada 2025 dari 1,89% pada tahun 2024. Pengelolaan risiko kredit yang terkendali ini meminimalkan potensi tekanan pada rentabilitas perusahaan ke depan.

Rasio Permodalan

Kapasitas BBTN untuk mendistribusikan kas kepada pemegang saham juga ditopang oleh struktur permodalan yang tebal. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan tercatat berada di level 19,02% pada 2025.

Angka permodalan ini meningkat dari posisi 18,50% pada tahun sebelumnya. Profil permodalan yang berada jauh di atas ambang batas regulasi mengindikasikan bahwa perseroan memiliki likuiditas dan bantalan modal yang memadai untuk mengakomodasi kebijakan dividen progresif tanpa mengorbankan rencana ekspansi bisnis di kuartal mendatang.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular