MARKET DATA
Newsletter

Liburan Usai, IHSG & Rupiah Bersiap Menyambut Badai

saw,  CNBC Indonesia
25 March 2026 06:20
ilustrasi trading
Foto: Pexels
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk sebelum libur panjang Lebaran
  • Wall Street kembali loyo setelah sempat menguat
  • Dampak perang hingga data ekonomi terbaru akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air sebelum lebaran sudah berdarah-darah. Pasar keuangan Indonesia kembali dibuka hari ini setelah libur panjang. 

Volatilitas tampaknya masih akan menghantui pasar lagi pada hari pertama buka setelah libur panjang hari raya Idul Fitri. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan terakhir sebelum lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Selasa pekan lalu (17/3/2026) bertengger di 7.106,84. Dalam sehari menguat 1,20%.

Sayangnya, penguatan harian itu masih belum menutup koreksi yang terjadi selama empat hari beruntun, mengakumulasi koreksi 0,43% dan memperpanjang tren turun selama empat pekan berturut-turut.

Asal tahu saja, sejak IHSG mencetak rekor pada 20 Januari 2026 di atas level 9000, sampai posisi terkini itu sudah koreksi lebih dari 20%.

Pergerakan pasar pekan lalu yang cenderung merah masih dipengaruhi sentimen perang di Timur Tengah dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS masih akan ketat pada tahun ini.

Lebih jauh, tekanan IHSG pada Ramadan kali ini diawali oleh gejolak yang disebabkan keputusan MSCI membekukan indeks untuk pasar saham di Indonesia.

Hal ini kemudian disikapi oleh Otoritas Jasa Keuangan hingga Bursa Efek Indonesia dengan melakukan reformasi pasar.

Setelah tekanan MSCI mereda, eskalasi geopolitik memanas dipicu perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang masih berlangsung sampai saat ini.

Beralih ke pasar keuangan, seiring dengan IHSG yang bergejolak, rupiah juga turut kena imbasnya.

Perang Timur Tengah memicu harga minyak memanas kemudian menjalar ke indeks dolar AS (DXY) sempat naik menembus level 100.

Hal tersebut akhirnya berdampak ke rupiah yang melemah lagi, bahkan kini rawan menyentuh ke atas Rp17.000/US$, level terpuruk dalam sejarah RI.

Merujuk Refinitiv, pada penutupan Selasa pekan lalu (17/3/2026), rupiah bertengger di Rp16.975/US$. Sudah empat minggu beruntun mata uang Garuda dalam zona merah.

Selama liburan, rupiah tertekan di pasar luar negeri.

Berdasarkan data Refinitiv, kontrak NDF rupiah tenor 1 bulan pada pagi hari ini tercatat berada di kisaran Rp16.964 - Rp16.975/US$. Level ini menunjukkan rupiah di pasar offshore masih bergerak di bawah area Rp17.000/US$, sekaligus mencerminkan tekanan yang relatif lebih mereda dibandingkan periode sebelumnya ketika NDF tenor yang sama sempat menembus level psikologis tersebut.

Saat ini, kewaspadaan terhadap pergerakan transaksi kurs menjadi penting karena konflik di Timur Tengah itu terbukti telah membuat ketidakpastian pasar keuangan global makin memburuk, ditandai dengan aliran modal asing yang tercatat terus keluar dari pasar negara berkembang.

Beralih lagi ke pasar obligasi yang terpantau tak beda jauh pergerakannya.

Yield obligasi acuan RI dengan tenor 10 tahun kini sudah semakin mendekati 7%. Tepatnya pada Selasa pekan lalu berakhir di 6,84%, tiga minggu beruntun yield ini naik terus.

Perlu dipahami, pergerakan yield dan harga itu berlawanan arah. Jadi, ketika yield itu naik, maka harga obligasi saat ini sedang turun, alias lagi banyak dijual.

Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street kembali ambruk pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan kenaikan tajam yang terjadi pada hari sebelumnya.

Indeks S&P turun 0,37% dan ditutup di 6.556,37, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 84,41 poin atau 0,18% ke 46.124,06. Nasdaq Composite merosot 0,84% dan ditutup di 21.761,89.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan bahwa AS sedang dalam negosiasi saat ini dengan Iran, seraya menambahkan bahwa pihak lain ingin mencapai kesepakatan.

Hal ini muncul setelah Trump mengatakan dalam unggahan di Truth Social pada Senin bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh dan total atas permusuhan kami di Timur Tengah.

Pernyataan itu sempat mendorong indeks utama naik lebih dari 1% pada Senin. Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa tidak ada pembicaraan langsung antara kedua negara.

 

Kebingungan di kalangan investor Wall Street meningkat terkait seberapa efektif pembicaraan untuk mengakhiri perang, mengingat Israel dan Iran masih saling melancarkan serangan setelah komentar presiden pada Senin, menurut otoritas Israel.

Pentagon juga dilaporkan berencana mengerahkan sekitar 3.000 tentara ke Timur Tengah, meskipun AS belum memutuskan untuk mengirim pasukan darat ke Iran.

Harga minyak kembali reli pada Selasa setelah sempat anjlok di sesi sebelumnya. Kontrak berjangka minyak mentah Brent global naik 4,55% menjadi US$104,49 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 4,79% ke US$92,35 per barel.

Sektor energi juga menjadi sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500 selama sesi tersebut, naik 2%. Secara month-to-date, sektor ini telah mencatat kenaikan lebih dari 9%, dan menjadi satu-satunya sektor di S&P 500 yang masih berada di zona positif dalam periode tersebut.

"Apa yang kita lihat saat ini adalah ketidakpastian besar terkait Iran, dan akibatnya saya pikir pasar akan bergerak sideways, dengan pergerakan yang cukup fluktuatif, sampai visibilitas membaik," kata Terry Sandven, kepala strategi ekuitas di U.S. Bank Asset Management, dikutip dari CNBC International.

"Jika S&P 500 ditutup di bawah 6.500, kemungkinan akan ada penurunan lanjutan."imbuhnya.

Investor juga mendapat sedikit sentimen positif pada Selasa, ketika Pakistan menawarkan diri untuk memfasilitasi pembicaraan antara kedua negara.

Sebelumnya, Trump pada akhir pekan mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Iran kemudian merespons dengan menyatakan akan menargetkan infrastruktur AS sebagai langkah balasan.

Pasar akan dibuka lagi pada hari ini, Rabu (25/3/2026) setelah melewati libur panjang Hari Raya Idul Fitri.

Pelaku pasar akan kembali mencermati sejumlah sentimen penting pada sisa perdagangan pekan ini yang hanya dibuka selama tiga hari sampai Jumat mendatang.

Meski pekan ini lebih singkat, perhatian investor tetap tertuju pada berbagai agenda penting dari global dan domestik.

Mulai dari perkembangan uang beredar, data consumer sentiment Amerika Serikat, rilis harga impor dan ekspor AS, hingga klaim pengangguran awal AS yang akan memberi gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam.

Rangkaian sentimen tersebut diperkirakan mampu menjadi katalis penggerak pasar, mulai dari saham, nilai tukar rupiah, hingga harga komoditas di sepanjang perdagangan pekan ini.

Update Perkembangan Perang

Perang Iran versus Israel dan AS masih panas. Memanasnya perang akan berdampak besar terhadap pergerakan saham Indonesia.Dalam perkembangan terbaru,

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa (24/3/2026) bahwa Amerika Serikat membuat kemajuan dalam upaya menegosiasikan akhir perang dengan Iran, termasuk memperoleh konsesi penting dari Teheran. Seorang sumber juga mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirimkan proposal penyelesaian berisi 15 poin kepada Iran.

Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa AS sedang berbicara dengan "orang-orang yang tepat" di Iran untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri permusuhan, seraya menambahkan bahwa pihak Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.

"Kami sedang dalam negosiasi sekarang," ujarnya.

Teheran membantah adanya pembicaraan langsung. Ketua parlemen Iran yang berpengaruh, Mohammad Baqer Qalibaf, pada Senin menepis laporan tersebut sebagai "berita palsu."

The New York Times melaporkan pada Selasa bahwa Washington mengirim rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Media Israel Channel 12, mengutip tiga sumber, mengatakan AS mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan untuk membahas rencana tersebut.

Seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengonfirmasi bahwa AS telah mengirimkan rencana kepada Iran, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Media Israel tersebut menyebutkan bahwa rencana itu mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa Iran telah memberikan konsesi berharga terkait energi non-nuklir dan Selat Hormuz, meskipun ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

Iran telah memberi tahu Dewan Keamanan PBB dan International Maritime Organization bahwa "kapal non-hostil" dapat melintasi Selat Hormuz jika berkoordinasi dengan otoritas Iran, menurut dokumen yang dilihat Reuters pada Selasa.

Iran secara efektif telah menutup jalur tersebut-yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia-sejak AS dan Israel melancarkan serangan empat minggu lalu, menciptakan guncangan pasokan energi terburuk dalam sejarah dan mendorong harga bahan bakar melonjak tajam.

"Itu adalah hadiah yang sangat besar, bernilai uang dalam jumlah luar biasa," kata Trump mengenai Iran, seraya menambahkan: "Itu adalah hal yang sangat baik yang mereka lakukan."

Namun, serangan dari AS, Israel, dan Iran terus berlanjut, dan sumber menyebutkan Washington sedang bersiap mengirim lebih banyak pasukan ke kawasan tersebut.

Dua orang yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa AS diperkirakan akan mengirim ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara elit 82nd Airborne ke Timur Tengah.

Pasukan ini akan menambah sekitar 50.000 tentara AS yang sudah berada di kawasan tersebut dan mempercepat pengerahan militer besar-besaran Washington, memicu kekhawatiran konflik yang lebih panjang.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Selasa mengatakan bersedia menjadi tuan rumah pembicaraan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang, sehari setelah Trump menunda ancaman untuk membombardir pembangkit listrik Iran dan menyebut adanya pembicaraan yang "produktif."

Dalam unggahan di X, Sharif mengatakan Pakistan sepenuhnya mendukung upaya dialog yang sedang berlangsung dan siap menjadi tuan rumah "pembicaraan yang bermakna dan konklusif untuk penyelesaian komprehensif."

Seorang sumber pemerintah Pakistan mengatakan diskusi mengenai pertemuan tersebut sudah berada pada tahap lanjut dan jika benar terjadi-"masih tanda tanya besar"-maka akan berlangsung dalam waktu satu minggu. Pakistan memiliki hubungan lama dengan Iran dan juga tengah membangun relasi dengan Trump.

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari setelah menilai pembicaraan untuk menghentikan program nuklir Iran tidak menunjukkan kemajuan yang cukup, meskipun mediator Oman menyatakan bahwa kemajuan signifikan sebenarnya telah dicapai.

Harga Minyak Kembali Melejit, US Treasury Melesat
Harga minyak mentah kembali menguat pada Selasa. Harga minyak kembali reli pada Selasa setelah sempat anjlok di sesi sebelumnya. Kontrak berjangka minyak mentah Brent global naik 4,55% menjadi US$104,49 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate atau WTI naik 4,79% ke US$92,35 per barel.

Harga minyak bergerak naik dalam perdagangan yang fluktuatif, seiring investor menimbang eskalasi ketegangan geopolitik. Sekutu AS, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Iran setelah serangan terhadap wilayah mereka, dengan laporan yang menyebutkan Riyadh dapat mempertimbangkan aksi militer jika infrastrukturnya kembali menjadi target.

Terdapat pula indikasi bahwa negara-negara Teluk bisa semakin dekat untuk terlibat langsung dalam konflik, yang akan menjadi eskalasi besar.

Sementara itu, Iran memberi sinyal tidak berniat mengembalikan kondisi normal di Selat Hormuz dan menolak negosiasi dengan Washington, meskipun upaya diplomatik tetap berlangsung dengan para menteri kawasan menggelar pembicaraan di Riyadh.

Perang juga membuat imbal hasil atau yield US Teeasury melonjak. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun US Treasury 10-year note naik menembus level 4,4% pada Selasa atau tertinggi dalam delapan bulan. Imbal hasil melonjak seiring meningkatnya risiko inflasi dan potensi lonjakan defisit akibat perang di Timur Tengah yang mendorong prospek suku bunga AS lebih tinggi.

Laporan menunjukkan AS mengirim lebih banyak pasukan ke Timur Tengah, bertentangan dengan pandangan bahwa pemerintah berupaya meredakan ketegangan, sementara serangan antar militer di kawasan masih terus berlangsung.

Harga minyak dan gas utama kembali naik, menambah kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali meningkat, tak lama setelah data Producer Price Index (PPI) terbaru sudah menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga di tingkat produsen.

Risiko inflasi ini mendorong Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu untuk memproyeksikan ruang pemangkasan suku bunga yang lebih terbatas.

Dari sisi fiskal, pemerintahan presiden mendorong peningkatan anggaran militer yang lebih besar, dikombinasikan dengan paket belanja yang sudah bersifat ekspansif.

Akibatnya, lelang obligasi tenor 2 tahun terbaru mencatat hasil yang kurang kuat, dengan yield "tail" sebesar 1,8 basis poin dan primary dealers menyerap 24,12% dari total penawaran-tertinggi sejak 2022-menandakan permintaan investor yang relatif lemah

Uang Beredar

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan menanti rilis perkembangan uang beredar yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia pada Jumat (27/3/2026).

Data ini penting untuk melihat bagaimana kondisi likuiditas di perekonomian, terutama setelah periode sebelumnya menunjukkan pertumbuhan yang masih cukup tinggi.

Pada rilis terakhir, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10,0% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,6% secara tahunan.

Nilai M2 pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp10.117,8 triliun, dengan pertumbuhan ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang naik 14,9% dan uang kuasi yang tumbuh 5,4%.

Karena itu, rilis Februari 2026 akan dicermati untuk melihat apakah pertumbuhan likuiditas masih berlanjut, melambat, atau justru semakin kuat. Arah uang beredar biasanya juga diperhatikan pasar karena dapat memberi gambaran awal mengenai permintaan domestik, kondisi kredit, dan ruang gerak aktivitas ekonomi ke depan.

Keyakinan Konsumen AS

Dari Amerika Serikat, pasar akan menunggu rilis final indeks sentimen konsumen Maret dari University of Michigan pada Jumat waktu AS. Lembaga itu sudah menjadwalkan rilis final Maret 2026 pada Jumat, 27 Maret 2026, pukul 10.00 pagi waktu setempat.

Pada pembacaan awal, indeks sentimen konsumen turun menjadi 55,5 pada Maret 2026 dari 56,6 pada Februari. Penurunan ini menunjukkan rumah tangga AS mulai lebih berhati-hati, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan tekanan harga energi. Survei awal Michigan juga menunjukkan pelemahan terutama terjadi pada komponen ekspektasi, yang turun ke 54,1 dari 56,6.

Data final pekan ini akan menjadi perhatian karena dapat memberi sinyal seberapa besar lonjakan harga bensin dan ketidakpastian global mulai menekan kepercayaan konsumen AS. Jika sentimen konsumen kembali melemah, pasar bisa menilai daya tahan belanja rumah tangga Amerika mulai menghadapi tekanan lebih besar.

Impor-Ekspor AS Beri Sinyal Tekanan Inflasi

Sentimen lain yang juga akan dipantau datang dari data harga impor dan ekspor Amerika Serikat untuk Februari 2026 yang dijadwalkan rilis pada Rabu (25/3/2026) pukul 08.30 waktu AS. Yang akan diumumkan oleh Bureau of Labor Statistics (BLS).

Sebagai pembanding, pada rilis sebelumnya BLS melaporkan harga impor AS secara tahunan turun 0,1% pada Januari 2026. Namun secara bulanan, harga impor justru naik 0,2% setelah juga meningkat 0,2% pada Desember. Kenaikan bulanan ini terutama dipengaruhi oleh naiknya harga barang non-energi, meski harga impor bahan bakar turun 2,2%.

Pasar akan mencermati data Februari ini karena laporan tersebut masih lebih banyak mencerminkan kondisi sebelum lonjakan besar harga komoditas pada Maret. Artinya, data ini dapat memberi gambaran dasar mengenai tekanan harga dari sisi perdagangan luar negeri AS sebelum dampak perang dan lonjakan energi benar-benar terlihat lebih penuh pada data-data berikutnya.

Klaim Awal Pengangguran AS

Dari pasar tenaga kerja AS, investor juga akan menunggu rilis klaim pengangguran mingguan atau jobless claims pada Kamis (26/3/2026). Departemen Tenaga Kerja AS secara rutin menerbitkan laporan ini setiap Kamis pagi, kecuali bila bertepatan dengan hari libur federal.

Pada rilis terakhir yang dipublikasikan 19 Maret 2026, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 14 Maret tercatat 205.000, turun 8.000 dari pekan sebelumnya yang sebesar 213.000. Sementara itu, rata-rata empat minggunya berada di level 210.750. Angka tersebut memberi sinyal bahwa pemutusan hubungan kerja di AS masih tergolong rendah.

Karena itu, bila angka jobless claims pekan ini masih bergerak di sekitar level tersebut, pasar kemungkinan akan menilai pasar tenaga kerja AS masih cukup solid.

Kondisi ini penting karena ketahanan pasar kerja akan ikut memengaruhi prospek konsumsi rumah tangga, arah kebijakan moneter The Fed, serta sentimen investor terhadap dolar AS dan aset berisiko.

IHSG Kerap Berakhir Merah Setelah Lebaran

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016 hingga 2025, IHSG mencatatkan penguatan sebanyak lima kali dan pelemahan sebanyak lima kali saat bursa kembali beroperasi setelah Lebaran Idul Fitri.

Secara fundamental, pergerakan indeks di awal perdagangan pasca-libur merupakan bentuk penyesuaian harga (price-in). Selama bursa domestik ditutup, dinamika makroekonomi global tetap berjalan.

Berbagai sentimen eksternal, rilis data ekonomi, maupun kebijakan internasional yang muncul pada periode tersebut akan langsung direspons oleh pasar secara bersamaan pada hari pertama perdagangan.


Sebagai contoh dari sisi pelemahan, pada pembukaan bursa pasca-Lebaran 2025, IHSG mencatatkan koreksi sebesar 7,90%. Penurunan ini merupakan respons pasar terhadap pengumuman kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang muncul pada masa libur panjang.

Kondisi serupa terjadi pada tahun 2022, di mana indeks turun 4,42% sebagai bentuk penyesuaian terhadap keputusan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed).

Di sisi lain, tren penguatan juga tercatat ketika terdapat katalis positif yang dominan. Pada tahun 2016, IHSG ditutup menguat 1,96%, yang didorong oleh respons positif pelaku pasar domestik maupun asing terhadap pengesahan undang-undang Tax Amnesty.

Data historis ini mengindikasikan bahwa arah pergerakan IHSG setelah libur Lebaran lebih banyak didikte oleh sentimen makroekonomi dan kondisi fundamental dibandingkan faktor musiman.

Data 10 tahun menunjukkan IHSG selalu ambruk hebat dalam dua tahun terakhir pasca Lebaran. IHSG pun kini ditantang untuk mengakhiri kutukan. Sayangnya,IHSG justru bakal langsung menghadapi ujian berat pada Rabu besok, terutama yang datang dari eksternal. Perkembangan perang Iran, membaranya harga energi serta sikap The Fed Yang lebih hawkish diperkirakan akan membuat IHSG goyang.

Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. The Fed juga diperkirakan akan memangkas suku bunga satu kali tahun ini, lebih pesimis dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni dua kali.

The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026) saat Indonesia masih libur Lebaran. Artinya, dampak The Fed belum masuk dalam hitungan pergerakan pasar keuangan Indonesia.

 

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Konferensi pers update Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), Revitalisasi Sekolah dan Pembangunan Sekolah Rakyat, serta Update Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra di Situation Room, Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Narasumber: Kepala Staf Kepresidenan dan Menteri Dalam Negeri/Ketua Satgas PRR.
  • Pengucapan sumpah jabatan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan di Gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.
  • Wakil Menteri Keuangan dan Deputi Gubernur Bank Indonesia menghadiri pengucapan sumpah jabatan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan di Gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.
  • Konferensi pers Kementerian Kesehatan terkait update kasus campak di Indonesia dengan narasumber Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes.
  •  Pidato pejabat the Fed Barr

  • Current Account AS periode kuartal IV/2025

  • Laporan stok minyak AS mingguan yang berakhir 20 Maret 2026

  • Lelang surat utang AS tenor 2 tahun

Agenda Korporasi Hari Ini:

  • RUPS PT Wira Global Solusi Tbk
  • ]Informasi Pembayaran Kupon seri BVIC03SBCN2 ke 3
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • Tanggal ex Dividen Tunai PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk
  • Tanggal cum Dividen Tunai PT Hasnur Internasional Shipping Tbk
  • Informasi Pembayaran Kupon seri BSDE04ACN1 ke 2

Berikut untuk indikator ekonomi RI :

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

 

 


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google
Next Article Hari Cerah untuk Indonesia: Dolar Ambruk, Ekonomi AS Sedang Goyang


Most Popular
Features