Liburan Usai, IHSG & Rupiah Bersiap Menyambut Badai
Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street kembali ambruk pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan kenaikan tajam yang terjadi pada hari sebelumnya.
Indeks S&P turun 0,37% dan ditutup di 6.556,37, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 84,41 poin atau 0,18% ke 46.124,06. Nasdaq Composite merosot 0,84% dan ditutup di 21.761,89.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan bahwa AS sedang dalam negosiasi saat ini dengan Iran, seraya menambahkan bahwa pihak lain ingin mencapai kesepakatan.
Hal ini muncul setelah Trump mengatakan dalam unggahan di Truth Social pada Senin bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh dan total atas permusuhan kami di Timur Tengah.
Pernyataan itu sempat mendorong indeks utama naik lebih dari 1% pada Senin. Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa tidak ada pembicaraan langsung antara kedua negara.
Kebingungan di kalangan investor Wall Street meningkat terkait seberapa efektif pembicaraan untuk mengakhiri perang, mengingat Israel dan Iran masih saling melancarkan serangan setelah komentar presiden pada Senin, menurut otoritas Israel.
Pentagon juga dilaporkan berencana mengerahkan sekitar 3.000 tentara ke Timur Tengah, meskipun AS belum memutuskan untuk mengirim pasukan darat ke Iran.
Harga minyak kembali reli pada Selasa setelah sempat anjlok di sesi sebelumnya. Kontrak berjangka minyak mentah Brent global naik 4,55% menjadi US$104,49 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 4,79% ke US$92,35 per barel.
Sektor energi juga menjadi sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500 selama sesi tersebut, naik 2%. Secara month-to-date, sektor ini telah mencatat kenaikan lebih dari 9%, dan menjadi satu-satunya sektor di S&P 500 yang masih berada di zona positif dalam periode tersebut.
"Apa yang kita lihat saat ini adalah ketidakpastian besar terkait Iran, dan akibatnya saya pikir pasar akan bergerak sideways, dengan pergerakan yang cukup fluktuatif, sampai visibilitas membaik," kata Terry Sandven, kepala strategi ekuitas di U.S. Bank Asset Management, dikutip dari CNBC International.
"Jika S&P 500 ditutup di bawah 6.500, kemungkinan akan ada penurunan lanjutan."imbuhnya.
Investor juga mendapat sedikit sentimen positif pada Selasa, ketika Pakistan menawarkan diri untuk memfasilitasi pembicaraan antara kedua negara.
Sebelumnya, Trump pada akhir pekan mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Iran kemudian merespons dengan menyatakan akan menargetkan infrastruktur AS sebagai langkah balasan.
(mae/mae) Addsource on Google