MARKET DATA

Dari Utusan Khalifah ke Cheng Ho: Bagaimana Islam Berkembang di China?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
22 March 2026 09:31
Ilustrasi Muslim Cina. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Foto: Ilustrasi Muslim Cina (Getty Images/Kevin Frayer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Islam dan Tiongkok memiliki catatan sejarah yang panjang, jauh melampaui sekadar aktivitas perdagangan di Jalur Sutra.

Dari kedatangan utusan awal di era kekaisaran kuno hingga dinamika populasi modern saat ini, jejak budaya Islam telah berakar kuat dalam lanskap demografi dan sejarah Tiongkok.

Dari Utusan Kalifah hingga Era Dinasti

Kontak awal Islam dengan Tiongkok diyakini terjadi pada abad ke-7. Catatan sejarah menunjukkan bahwa tokoh penyebar Islam awal seperti Sa'ad bin Abi Waqqas dan Thabit Ibn Qays melakukan kunjungan ke ibu kota Dinasti Tang di Chang'an (kini Xi'an).

Kunjungan ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan sekitar tahun 650 M, di mana mereka mengundang Kaisar Taizong untuk mengenal Islam.

Makam Qays yang wafat pada 635 M di sepanjang Jalur Sutra, kini dikenal sebagai "Geys' Mazars" di Hami, Xinjiang, dan tetap menjadi situs bersejarah yang memadukan arsitektur kubah Arab dengan pilar kayu serta atap melengkung khas Tiongkok.

Populasi dan pengaruh Muslim terus berkembang pesat seiring pergantian kekuasaan. Pada masa Dinasti Yuan di abad ke-13, ratusan ribu Muslim dari Asia Tengah, Persia, dan Arab bermigrasi serta menetap di berbagai provinsi.

Pengaruh ini memuncak pada era Dinasti Ming, di mana tokoh Muslim terkemuka seperti Laksamana Cheng Ho (Zheng He) dipercaya memimpin armada laut terbesar di dunia pada awal abad ke-15.

Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)Foto: Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)

Akulturasi Budaya dan Bahasa

Seiring berjalannya waktu, komunitas Muslim mulai terintegrasi dengan masyarakat lokal. Proses asimilasi ini terlihat jelas dari adopsi nama. Mayoritas mengambil nama keluarga Tiongkok yang terdengar mirip dengan nama asli mereka, seperti Mo, Mai, dan Mu untuk Muhammad atau Mustafa, serta Ha untuk Hasan dan Hu untuk Hussain.

Selain nama, pakaian dan aturan diet makanan halal juga disesuaikan ke dalam kerangka budaya Tiongkok. Pertukaran ini berjalan dua arah, instrumen musik pipa diyakini berasal dari dunia Islam (disebut barbat atau tanbur), sementara ilmu medis Tiongkok juga banyak dipengaruhi oleh resep dari Persia dan Arab pada masa Dinasti Tang.

Peta wilayah kekuasaan dinasi Tang. (Dok. The Cambridge History of China)Foto: Peta wilayah kekuasaan dinasi Tang. (Dok. The Cambridge History of China)

Data Populasi dan Demografi Terkini

Islam saat ini menjadi agama utama bagi 10 kelompok etnis minoritas di Tiongkok, termasuk Hui, Uyghur, Kazakh, hingga Salar. Mengacu pada estimasi demografis terbaru yang dikalkulasi dari sensus nasional Tiongkok tahun 2020 dan data afiliasi etnis, populasi Muslim di Tiongkok saat ini mencapai sekitar 23 hingga 25 juta jiwa. Angka ini merepresentasikan sekitar 1,6% hingga 1,8% dari total populasi nasional.

Secara geografis, konsentrasi populasi Muslim tertinggi berada di Wilayah Otonomi Uyghur Xinjiang. Data estimasi terbaru mencatat terdapat sekitar 13 hingga 14 juta warga Muslim di Xinjiang, yang mendominasi lebih dari 50% total populasi di wilayah tersebut. Wilayah lain dengan persentase populasi Muslim yang signifikan meliputi Ningxia (sekitar 35-38%), Qinghai (18%), dan Gansu (8%).

Terkait fasilitas ibadah, Tiongkok diperkirakan memiliki total 35.000 hingga 39.000 masjid. Secara historis, sekitar 24.000 di antaranya berlokasi di Xinjiang.

Meskipun demikian, sejumlah laporan independen mencatat adanya fluktuasi jumlah masjid yang aktif beroperasi di beberapa wilayah utara dan barat dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan penyesuaian regulasi keagamaan dan kebijakan tata letak kota dari pemerintah setempat.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular