Beda dari RI: di Negara-Negara Idul Fitri Sepi, Idul Adha Malah Meriah
Jakarta, CNBC Indonesia - Perayaan hari besar umat Islam tidak selalu terasa sama di setiap negara. Meski Idul Fitri dan Idul Adha sama-sama penting, dinamika sosial, ekonomi, hingga budaya lokal membuat salah satu di antaranya bisa terasa jauh lebih dominan.
Secara global, ada pola menarik di mana negara dengan budaya konsumsi dan mobilitas tinggi cenderung memeriahkan Idul Fitri, sementara wilayah dengan tradisi qurban dan kedekatan dengan ibadah haji lebih menonjolkan Idul Adha.
Wilayah seperti Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura), Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh, India Muslim), hingga Turki dan sebagian Balkan menunjukkan dominasi kuat Idul Fitri.
Di kawasan ini, Lebaran bukan hanya perayaan religius, tetapi juga fenomena sosial dan ekonomi terbesar dalam setahun.
Tradisi seperti mudik massal, belanja besar-besaran, hingga silaturahmi keluarga menjadikan Idul Fitri sebagai puncak aktivitas masyarakat. Dampaknya bahkan terasa pada sektor transportasi, ritel, hingga perbankan.
Idul Fitri di negara-negara ini adalah "festival sosial" berskala nasional.
Foto: (CNBC Idonesia/Muhammad Sabki)Sekelompok warga melakukak pawai obor malam takbiran untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa, (9/4/2024). (CNBC Idonesia/Muhammad Sabki) |
Berbeda dengan Asia, di Timur Tengah (khususnya Arab Saudi dan negara Teluk) serta Afrika Utara dan Barat (Maroko, Nigeria, Senegal, Mali), Idul Adha justru lebih terasa.
Di Arab Saudi, Idul Adha menjadi puncak dari ibadah haji, yang menghadirkan jutaan jamaah dari seluruh dunia. Skala ini menjadikannya perayaan keagamaan terbesar secara global.
Sementara di Afrika, Idul Adha berkembang menjadi kombinasi antara ibadah dan budaya. Di Nigeria misalnya, festival Durbar dengan parade kuda besar-besaran menjadi daya tarik utama yang tidak ditemukan saat Idul Fitri.
Ciri utama kawasan ini adalah menjadikan ibadah qurban sebagai pusat aktivitas, adanya libur panjang dan perayaan public, dan keterkaitan erat dengan ritual haji.
Di sejumlah negara seperti Mesir, Yordania, Irak, serta Ethiopia dan Kenya, kedua perayaan memiliki porsi yang relatif seimbang.
Â
Idul Fitri tetap menjadi momentum sosial, sementara Idul Adha menonjol sebagai ritual religius yang kuat melalui qurban.
Kenapa Bisa Berbeda?
Perbedaan ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada tiga faktor utama:
1. Faktor Haji
Wilayah yang dekat dengan pusat haji, seperti Arab Saudi, secara alami menjadikan Idul Adha sebagai puncak perayaan.
2. Tradisi Qurban
Di Afrika dan Timur Tengah, qurban bukan sekadar ibadah, tetapi juga aktivitas sosial besar yang melibatkan komunitas luas.
3. Faktor Ekonomi dan Budaya
Di Asia, Idul Fitri menjadi momentum konsumsi terbesar-mulai dari transportasi, makanan, hingga pakaian-yang memperkuat posisinya sebagai perayaan utama.
Bagaimana di Arab Saudi?
Perayaan Idul Fitri di berbagai negara memiliki karakter yang berbeda, termasuk antara Indonesia dan Arab Saudi.
Jika di Indonesia Lebaran identik dengan mudik massal hingga tradisi halal bihalal yang berlangsung berhari-hari, di Arab Saudi suasana Idul Fitri cenderung lebih sederhana dan tidak terlalu meriah.
Foto: Seorang penjaga keamanan Saudi berjaga-jaga saat jamaah Muslim berdoa di sekitar Kakbah, tempat paling suci umat Islam, di kompleks Masjidil Haram di kota suci Mekkah pada tanggal 2 Juni 2025 menjelang ibadah haji tahunan. (AFP/-)Seorang penjaga keamanan Saudi berjaga-jaga saat jamaah Muslim berdoa di sekitar Kakbah, tempat paling suci umat Islam, di kompleks Masjidil Haram di kota suci Mekkah pada tanggal 2 Juni 2025 menjelang ibadah haji tahunan. (Photo by AFP) |
Sejumlah faktor budaya hingga prioritas keagamaan membuat cara masyarakat merayakan Idul Fitri di Arab Saudi memiliki nuansa tersendiri dibandingkan negara Muslim lainnya.
Salah satu faktor utama adalah posisi Idul Adha yang dinilai memiliki bobot sosial dan spiritual lebih besar di Arab Saudi. Hal ini berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji yang berpusat di Makkah, yang juga menjadi puncak dari perayaan Idul Adha.
Karena keterkaitan langsung dengan salah satu rukun Islam, Idul Adha memiliki kesan yang jauh lebih kuat di Arab Saudi. Momentum ini menjadi perayaan keagamaan sekaligus peristiwa besar yang menarik perhatian umat Islam dari seluruh dunia.
Meski tidak semeriah di Indonesia, Idul Fitri di Arab Saudi tetap dirayakan dengan berbagai tradisi. Perayaan diawali dengan salat Id berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berkumpul bersama keluarga, khususnya di rumah anggota keluarga yang lebih tua.
Anak-anak biasanya menerima eidiya atau uang hadiah Lebaran, yang memiliki kemiripan dengan tradisi pemberian THR di Indonesia. Di beberapa kota, perayaan juga diramaikan dengan acara hiburan seperti pertunjukan, festival, hingga pesta kembang api.
Namun, secara umum, perayaan Idul Fitri di Arab Saudi lebih berfokus pada ibadah dan kebersamaan keluarga inti. Hal ini berbeda dengan Indonesia, di mana Lebaran berkembang menjadi perayaan sosial berskala besar melalui tradisi mudik, open house, hingga silaturahmi lintas daerah.
Bagaimana dengan Iran?
Di Iran, dinamika perayaan keagamaan dan budaya menunjukkan pola yang berbeda dibanding mayoritas negara Muslim. Asyura menjadi perayaan religius paling besar.
Sebagai negara dengan mayoritas Muslim Syiah, Iran menjadikan Asyura sebagai momentum religius paling penting. Perayaan ini memperingati wafatnya Imam Husain dalam tragedi Karbala-peristiwa sentral dalam sejarah Syiah.
Asyura dirayakan selama sekitar 10 hari di bulan Muharram, dengan partisipasi jutaan orang di seluruh negeri.
Ciri utamanya meliputi prosesi duka massal dengan pakaian hitam, ritual "matam" sebagai ekspresi kesedihan kolektif , pertunjukan Taziyeh, drama religius tentang Karbala, dan distribusi makanan gratis (nazri) kepada masyarakat
Berbeda dengan banyak negara Sunni, Asyura di Iran memiliki skala sosial dan emosional yang jauh melampaui Idul Fitri maupun Idul Adha.
Foto: Peziarah Muslim Syiah berkumpul di depan kuil Imam al-Mahdi selama upacara pada tanggal 15 bulan Islam Shaaban yang menandai kelahirannya, dua minggu menjelang bulan suci Ramadhan, di kota Karbala di Irak tengah pada 25 Februari 2024. (Muhammad SAWAF / AFP)Peziarah Muslim Syiah berkumpul di depan kuil Imam al-Mahdi selama upacara pada tanggal 15 bulan Islam Shaaban yang menandai kelahirannya, dua minggu menjelang bulan suci Ramadhan, di kota Karbala di Irak tengah pada 25 Februari 2024. (Muhammad SAWAF / AFP) |
source on Google
Foto: (CNBC Idonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Seorang penjaga keamanan Saudi berjaga-jaga saat jamaah Muslim berdoa di sekitar Kakbah, tempat paling suci umat Islam, di kompleks Masjidil Haram di kota suci Mekkah pada tanggal 2 Juni 2025 menjelang ibadah haji tahunan. (AFP/-)
Foto: Peziarah Muslim Syiah berkumpul di depan kuil Imam al-Mahdi selama upacara pada tanggal 15 bulan Islam Shaaban yang menandai kelahirannya, dua minggu menjelang bulan suci Ramadhan, di kota Karbala di Irak tengah pada 25 Februari 2024. (Muhammad SAWAF / AFP)