MARKET DATA

10 Produk China Tiba-Tiba Banjiri RI: Mutiara, Sutra hingga Turbo Jet

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
19 March 2026 21:20
A natural pearl and diamond pendant once owned by Marie Antoinette is held by a model during a press preview ahead of the upcoming auction
Foto: Liontion mutiara milik mantan Ratu Prancis Marie Antoinette. (REUTERS/Denis Balibouse)

Jakarta, CNBC Indonesia- Impor Indonesia dari China terus menunjukkan kenaikan, terutama untuk komoditas mutiara hingga sutra.

Melansir dari data Kementerian Perdagangan, nilai impor Indonesia dari China sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai US$87,54 miliar.

Angkanya tumbuh 18,53% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini tidak tersebar merata. Ada sejumlah kelompok barang yang melonjak jauh lebih cepat dibanding rata-rata.

Di level HS 2, struktur pertumbuhan menunjukkan pola yang spesifik. Lonjakan tertinggi datang dari komoditas bernilai relatif kecil, diikuti oleh barang modal dan bahan baku industri. Pola ini memberi gambaran arah permintaan dalam negeri yang sedang bergerak.

Kelompok dengan pertumbuhan paling tinggi adalah komoditas HS 71, yang mencakup mutiara, batu mulia, logam mulia, hingga perhiasan imitasi.

Nilai impornya mencapai US$535,51 juta dengan pertumbuhan 712,57%. Lonjakan ini mengindikasikan peningkatan aktivitas di sektor perhiasan dan perdagangan barang bernilai tinggi, termasuk untuk kebutuhan re-ekspor dan industri kreatif.

Posisi berikutnya ditempati kendaraan bermotor dalam kondisi terurai (HS 98). Nilainya US$264,74 juta dengan pertumbuhan 402,42%. Skema impor dalam bentuk komponen terurai biasanya terkait strategi efisiensi tarif dan perakitan domestik. Artinya, ada dorongan dari sektor manufaktur otomotif untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal.

 

Produk industri penggilingan (HS 11) mencatat kenaikan 242,43% menjadi US$29,04 juta. Kategori ini mencakup pati, malt, hingga gluten gandum. Kenaikan ini erat dengan kebutuhan industri makanan olahan yang terus meningkat di dalam negeri.

Komoditas tekstil premium seperti sutra (HS 50) tumbuh 130,36% meski nilainya relatif kecil, US$4,61 juta. Sinyalnya mengarah pada permintaan niche market, termasuk industri fashion dan produk bernilai tambah tinggi.

Sektor transportasi berbasis rel juga menunjukkan akselerasi. Impor lokomotif dan perlengkapan kereta (HS 86) mencapai US$351,64 juta dengan pertumbuhan 127,10%. Angka ini sejalan dengan ekspansi proyek perkeretaapian dan modernisasi armada.

Di luar itu, beberapa komoditas berbasis sumber daya alam dan industri ringan juga mencatat pertumbuhan tinggi. Gabus (HS 45) naik 93,38%, bahan anyaman nabati (HS 14) tumbuh 91,10%. Keduanya mengarah pada kebutuhan industri furnitur dan produk berbasis material alami.

Produk kimia (HS 38) mencatat nilai impor besar, US$2,9 miliar, dengan pertumbuhan 81,17%. Ini menegaskan ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan kimia impor sebagai input produksi. Di sisi lain, kapal dan struktur terapung (HS 89) tumbuh 67,41% menjadi US$902,6 juta, mencerminkan aktivitas di sektor maritim dan logistik.

Komoditas nikel (HS 75) juga masuk daftar dengan pertumbuhan 65,02%. Meski Indonesia adalah produsen besar, impor tetap terjadi untuk kebutuhan spesifik, termasuk jenis produk turunan yang belum sepenuhnya diproduksi di dalam negeri.

Jika ditarik lebih dalam ke level HS 6, lonjakan menjadi jauh lebih ekstrem. Turbo-jet dengan daya dorong di atas 25 kN mencatat pertumbuhan di atas 12 juta persen, meski nilainya hanya US$5 juta. Kereta penumpang non-motor (HS 860500) juga melonjak lebih dari 11 juta persen.

Ada pula komponen kapal berbahan stainless steel, drone dengan bobot menengah, hingga ferrochrome yang semuanya mencatat pertumbuhan dalam kisaran jutaan persen.

Fenomena di HS 6 ini biasanya dipicu oleh basis pembanding yang sangat rendah di tahun sebelumnya. Begitu ada satu atau dua transaksi besar, persentasenya langsung melonjak tajam. Karena itu, pembacaan perlu melihat nilai absolut dan konteks penggunaannya.

Dari keseluruhan data, arah pergerakan impor 2025 permintaan terkonsentrasi pada tiga hal: bahan baku industri, komponen manufaktur, dan alat transportasi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google



Most Popular