Harga Minyak Melejit ke Level Tertinggi 4 Tahun, Amerika Angkat Tangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak melonjak dan ditutup di level tertinggi dalam hampir empat tahun di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah.
Harga melonjak setelah Irak menyatakan force majeure atas seluruh ladang minyak yang dikembangkan perusahaan asing dan perang Iran semakin memanas. Amerika Serikat (AS) juga bersiap mengerahkan ribuan tambahan marinir dan pelaut ke Timur Tengah.
Harga minyak brent pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (20/3/2026) ditutup di posisi US$ 112,19 per barel atau terbang 3,3% sedangkan minyak WTI melesat 2,27% ke US$ 98,32 per barel.
Harga penutupan brent kemarin adalah yang tertinggi sejak 4 Juli 2022 atau hampir empat tahun terakhir.
Dalam sepekan, harga minyak brent melesat 8,77% yang merupakan salah satu kenaikan terbesar seminggu dalam 10 tahun terakhir.
Sepanjang tahun ini, minyak brent sudah melesat 84%.
Perang AS-Israel melawan Iran belum menunjukkan tanda mereda. Serangan serangan terhadap infrastruktur energi utama di Iran terus serta balasan serangan Iran ke negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait terus terjadi.
"Ini adalah skenario terburuk. Tidak hanya ada force majeure di Irak, tetapi juga penumpukan besar pasukan AS di Teluk Persia. Harapan akan penyelesaian cepat dan kembalinya pasokan ke pasar global melalui Selat Hormuz semakin memudar di depan mata," ujar John Kilduff, mitra di Again Capital, dikutip Reuters.
Pasar minyak kini mulai memasukkan ekspektasi gangguan pasokan yang lebih lama akibat serangan, serta kemungkinan penutupan Selat Hormuz selama beberapa minggu atau bahkan lebih lama sebelum dapat kembali dibuka.
"Potensi pembalikan cepat harga energi kecil kemungkinan terjadi karena kerusakan sudah terjadi pada produksi," kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.
Pada Jumat, Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada lagi pemimpin di Iran yang bisa diajak berbicara terkait perang, seiring serangan militer terus menargetkan pejabat Iran. Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Israel dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Jumat, setelah kilang minyak di Kuwait terkena serangan. Pada Kamis, Trump mengatakan Israel tidak akan mengulangi serangan terhadap fasilitas energi.
AS Menyerah
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintahan Trump telah mengeluarkan pembebasan sanksi selama 30 hari untuk pembelian minyak Iran di laut guna meredakan tekanan pasokan energi sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran.
Ini merupakan kali ketiga AS memberikan pelonggaran sanksi sementara dalam sekitar dua minggu terakhir.
Sebelumnya, AS juga telah melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia. Pada Jumat, AS mengeluarkan lisensi umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah dan produk petroleum Iran yang telah dimuat di kapal pada periode 20 Maret hingga 19 April, menurut lisensi yang dipublikasikan di situs Departemen Keuangan AS.
Â
"Dengan sementara membuka pasokan yang sudah ada ini untuk dunia, Amerika Serikat akan segera menambah sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global, meningkatkan pasokan energi dunia dan membantu meredakan tekanan sementara akibat gangguan pasokan dari Iran," ujar Bessent dalam pernyataan di X.
"Pada dasarnya, kami akan menggunakan barel minyak Iran untuk melawan Teheran dengan menjaga harga tetap rendah, seiring kami melanjutkan Operasi Epic Fury," tambahnya.
Bessent sebelumnya telah mengisyaratkan kemungkinan pelonggaran sanksi dalam wawancara dengan Fox Business pada Kamis, yang memicu analis menilai kebijakan tersebut justru dapat menguntungkan upaya perang Iran.
"Singkatnya, ini gila. Pada dasarnya, kita mengizinkan Iran menjual minyak, yang kemudian bisa digunakan untuk membiayai upaya perang," kata David Tannenbaum dari Blackstone Compliance Services kepada BBC.
Bessent membantah analisis tersebut dalam pernyataannya pada Jumat. Dia mengatakan otorisasi sementara jangka pendek ini sangat terbatas hanya pada minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak mengizinkan pembelian atau produksi baru.
"Iran akan kesulitan mengakses pendapatan yang dihasilkan, dan Amerika Serikat akan tetap mempertahankan tekanan maksimum terhadap Iran serta membatasi kemampuannya mengakses sistem keuangan internasional." Ujarnya.
Â
Pada Jumat, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pencabutan sanksi terhadap kargo minyak Iran yang tertahan di laut dapat mengalirkan pasokan ke Asia dalam waktu tiga hingga empat hari. Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah mengisyaratkan langkah tersebut.
Bessent juga menyatakan bahwa pelepasan tambahan minyak dari cadangan strategis AS (Strategic Petroleum Reserve) masih dimungkinkan. Wright menambahkan pelepasan cadangan tersebut akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.
Semua Mata Tertuju pada Selat Hormuz
Analis menyebut harga akan tetap tinggi selama lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu, bahkan kemungkinan tetap tinggi setelahnya.
Sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia melewati selat tersebut.
"Selama aliran minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas, arah harga minyak cenderung naik," ujar analis UBS Giovanni Staunovo.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan dalam wawancara dengan Financial Times bahwa pemulihan aliran minyak dan gas dari Teluk Timur Tengah bisa memakan waktu hingga enam bulan.
Pemerintahan Trump juga tengah mempertimbangkan rencana untuk menduduki atau memblokade Pulau Kharg milik Iran guna menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz, menurut laporan Axios, yang juga berpotensi menekan pasokan.
Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya RahadianKenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? |
Â
Pada Kamis, harga Brent sempat melonjak melampaui US$119 per barel, mendekati puncak 9 Maret, setelah Iran membalas serangan Israel terhadap ladang gas besar dengan melumpuhkan 17% kapasitas LNG Qatar. Kerusakan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki.
Di tempat lain, Rusia menyerang fasilitas minyak dan gas Ukraina di wilayah Poltava dan Sumy dalam serangan semalam, menurut perusahaan energi negara Ukraina, Naftogaz.
Sementara itu, perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak sebanyak dua unit menjadi 414 minggu ini. Ini adalah level tertinggi sejak pertengahan Desember, menurut laporan Baker Hughes.
Irak Nyatakan Force Majeure
Irak telah menyatakan force majeure atas seluruh ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan minyak asing setelah operasi militer di kawasan tersebut mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, sehingga menghentikan sebagian besar ekspor minyak mentah negara itu, menurut tiga pejabat energi yang mengetahui langsung keputusan tersebut.
"Mitra internasional tidak dapat menunjuk kapal tanker untuk mengangkut minyak mentah, sehingga ekspor terhambat meskipun perusahaan minyak negara SOMO siap melakukan pemuatan," demikian isi surat kementerian minyak dalam surat tertanggal 17 Maret yang dilihat Reuters.
"Berdasarkan situasi ini, kementerian memerintahkan penghentian penuh produksi di wilayah konsesi terdampak, tanpa kompensasi berdasarkan ketentuan kontrak." Imbuhnya.
Â
Kementerian menyatakan pengurangan produksi ini akan ditinjau secara berkala tergantung perkembangan regional, serta mengundang perusahaan-perusahaan untuk melakukan pembicaraan mendesak guna menyepakati operasi penting, biaya, dan kebutuhan tenaga kerja dalam kondisi force majeure.
Menteri Perminyakan Irak Hayan Abdel-Ghani mengatakan produksi minyak mentah di Basra Oil Company telah dipangkas menjadi 900.000 barel per hari (bph) dari sebelumnya 3,3 juta bph, setelah ekspor dari pelabuhan selatan negara itu terhenti, menurut pernyataan kementerian pada Jumat. Produksi yang ada dialihkan untuk mengoperasikan kilang domestik.
Penurunan produksi dan ekspor ini diperkirakan akan semakin menekan kondisi keuangan Irak yang sudah rapuh, mengingat negara tersebut bergantung pada penjualan minyak mentah untuk hampir seluruh belanja publik dan lebih dari 90% pendapatannya.
Perang AS-Israel melawan Iran kini telah meluas melampaui wilayah Iran, dengan Teheran membalas serangan ke Israel dan negara-negara Teluk Arab yang menampung instalasi militer AS, sementara Israel juga melancarkan serangan baru di Lebanon setelah milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran menembakkan serangan lintas perbatasan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
source on Google
Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian