Pengusaha Sawit RI Pesta Pora di Tengah Perang Iran
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali melonjak pada perdagangan Senin (9/03/2026) dan mencatat level tertinggi dalam setahun terakhir.
Lonjakan harga ini dipicu kepanikan pasar energi setelah harga minyak mentah melesat ke level US$ 100 per barel.
Berdasarkan data perdagangan kontrak berjangka di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, harga CPO menyentuh MYR 4.803 ringgit per ton pada hari ini, ((/3/2026), menandai titik tertinggi dalam 12 bulan terakhir.
Lonjakan tersebut melanjutkan reli kenaikan harga CPO sebelumnya dalam beberapa pekan terakhir. Per pukul WIB 10:25, kenaikan ini mencapai 7,97% dari perdagangan sebelumnya. Harga penutupan CPO pada hari Jumat, 6 Maret 2026 berada pada level MYR 4367 ringgit per ton.
Tren Harga Menguat Sejak Awal 2026
Dalam tiga bulan terakhir, harga CPO menunjukkan tren naik yang cukup kuat. Sepanjang awal 2026, harga bergerak di kisaran 4.000-4.300 ringgit per ton, sebelum akhirnya melonjak lebih tinggi pada awal Maret.
Kenaikan harga ini juga mencerminkan pemulihan setelah koreksi pada akhir 2025. Pada periode Desember 2025, harga CPO sempat turun hingga di kisaran 3.800 ringgit per ton. Koreksi tipis juga masih dialami pada pertengahan Januari 2026, sebelum kembali naik secara bertahap hingga akhir bulan Januari 2026.
Secara historis, harga CPO dalam setahun terakhir bergerak cukup volatil. Pada pertengahan 2025, harga bahkan sempat turun hingga sekitar 3.700 ringgit per ton sebelum kembali menguat pada paruh kedua tahun.
Sentimen Geopolitik Timur Tengah
Melonjaknya harga CPO hari ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang semakin memanas meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.
Konflik tersebut bahkan memicu ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini langsung mengguncang pasar energi.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak tajam. Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent melonjak dari sekitar US$77,74 per barel pada awal Maret menjadi US$114,82 per barel, atau naik hampir 48% dalam waktu kurang dari dua pekan.
Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) juga menguat dari sekitar 3,00 menjadi 3,14, atau naik sekitar 4,7% pada periode yang sama.
Lonjakan harga energi ini kemudian turut memberikan sentimen positif bagi komoditas berbasis biofuel, termasuk minyak sawit. Dengan harga minyak mentah yang melonjak maka potensi penggunaan bahan alternatif energi makin besar, termasuk biofuel sawit. Penguatan harga minyak mentah global di tengah ketegangan geopolitik tersebut ikut menopang kenaikan harga CPO yang kini mencapai level tertinggi dalam setahun terakhir.
Â
(mae/mae) Addsource on Google