Survei: Warga AS Anggap Perang Iran Cuma Bikin Sengsara, Bisa 1 Tahun
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Ketika serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran terjadi, publik Amerika ternyata tidak sepenuhnya terkejut.
Survei yang dilakukan The Economist bersama YouGov pada 6-9 Maret 2026 mencatat sebagian besar warga Amerika sudah memperkirakan langkah tersebut akan terjadi. Warga AS juga menganggap perang membawa kesengsaraan baik bagi warga Iran ataupun AS dan bisa berlangsung satu bulan hingga satu tahun.
Hanya 12% responden yang mengaku sangat terkejut ketika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke Iran. Sebaliknya, lebih dari separuh responden menyatakan tidak terkejut.
Survei tersebut menggambarkan ekspektasi publik yang sudah terbentuk sebelumnya. Melansir dari survei The Economist/YouGov, sebanyak 54% warga dewasa Amerika menyatakan tidak terkejut dengan keputusan militer tersebut.
Persepsi ini terlihat di hampir seluruh spektrum politik. Di kalangan pemilih Partai Republik, 55% mengaku tidak terkejut. Angka serupa juga muncul di kalangan independen dengan 56%.
Â
Persepsi terhadap Iran sendiri masih terbelah. Dalam survei yang sama, 25% responden menyebut Iran sebagai ancaman langsung bagi Amerika Serikat. Sebanyak 38% melihat adanya ancaman, namun tidak bersifat langsung. Sementara itu, 23% responden menilai Iran bukan ancaman bagi Amerika.
Survei lain menunjukkan dukungan terhadap aksi militer tersebut sebenarnya tidak solid di dalam negeri.
Melansir dari Quinnipiac University Poll yang dirilis 9 Maret 2026, sebanyak 53% pemilih Amerika menyatakan menolak operasi militer terhadap Iran, sementara 40% menyatakan mendukung.
Polarisasi terlihat jelas antar partai. Sebanyak 85% pemilih Partai Republik mendukung serangan tersebut, sementara 89% pemilih Demokrat menolaknya.
Perdebatan terbesar muncul pada proses pengambilan keputusan militer. Mayoritas warga Amerika menilai presiden seharusnya meminta persetujuan Kongres sebelum melancarkan serangan.
Melansir dari survei Yougov, 61% responden mendukung keterlibatan Kongres dalam keputusan tersebut. Dukungan paling kuat muncul di kalangan pemilih Demokrat dengan angka 78%.
Pandangan publik mengenai durasi konflik juga menarik. Sebagian besar responden memperkirakan perang dengan Iran tidak akan selesai cepat.
Sebanyak 47% warga Amerika memperkirakan konflik berlangsung antara satu bulan hingga satu tahun. Sebanyak 32% bahkan memperkirakan durasinya akan melewati satu tahun.
Perkiraan tersebut berbeda tajam antar kelompok politik. Di kalangan pemilih Partai Republik, mayoritas memperkirakan konflik akan selesai dalam waktu satu bulan hingga satu tahun. Di kalangan Demokrat, pandangan lebih pesimistis muncul. Sebanyak 45% memperkirakan konflik akan berlangsung lebih dari satu tahun.
Perbedaan juga muncul terkait tujuan perang. Ketika responden ditanya apakah Amerika harus menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, hanya 33% yang mendukung langkah tersebut. Sebanyak 40% responden memilih posisi tidak yakin. Sementara 27% menolak gagasan tersebut.
Pandangan mengenai masa depan Iran memperlihatkan sikap yang lebih konsisten. Sebanyak 73% responden menyatakan rakyat Iran harus menentukan sendiri pemimpin mereka. Hanya sebagian kecil responden yang mendukung peran pemerintah Amerika dalam menentukan arah politik Iran.
Survei tersebut juga menyentuh dampak perang terhadap rakyat Iran. Sebanyak 37% responden memperkirakan intervensi militer Amerika akan memperburuk kondisi masyarakat Iran. Sebanyak 31% memperkirakan kondisi akan membaik, sementara 16% memperkirakan tidak akan ada perubahan besar.
Kekhawatiran terbesar publik ternyata berkaitan dengan dampak ekonomi. Sekitar 74% pemilih Amerika mengaku khawatir konflik dengan Iran akan mendorong kenaikan harga minyak dan bensin di dalam negeri. Melansir dari Quinnipiac University Poll, sebanyak 49% responden menyatakan sangat khawatir terhadap potensi lonjakan harga energi tersebut.
Publik Amerika melihat konflik dengan Iran sebagai operasi yang berisiko panjang. Ekspektasi perang yang cepat hampir tidak muncul dalam survei tersebut. Persepsi publik sudah bergerak menuju skenario konflik yang lebih lama dan kompleks.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google