Harga Minyak Meledak Lagi, Dunia Menunggu 2 Kabar Genting dari Amerika
Dari bursa saham AS, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham berada di bawah tekanan karena harga minyak melanjutkan lonjakannya di tengah kekhawatiran gangguan pasokan, sementara perang Iran masih berlangsung.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 739,42 poin atau 1,56% dan ditutup di level 46.677,85. S&P 500 melemah 1,52% ke posisi 6.672,62, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,78% dan berakhir di 22.311,98.
Ketiga indeks tersebut mencatat penutupan terendah sepanjang tahun 2026, dan Dow yang berisi 30 saham bahkan ditutup di bawah level 47.000 untuk pertama kalinya tahun ini.
Harga minyak mentah terus naik setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk pada 9 Maret, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di US$95,73 per barel. Sementara itu, Brent melonjak 9,22% dan ditutup di US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Angkatan Laut AS belum siap mengawal kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz, meskipun ia memperkirakan kemampuan tersebut bisa siap pada akhir bulan ini.
Lalu lintas kapal di kawasan tersebut hampir terhenti total seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Pada malam sebelumnya, tiga kapal asing tambahan diserang di Teluk Persia, menurut otoritas setempat. Insiden ini terjadi setelah tiga kapal lainnya, termasuk satu di Selat Hormuz, juga diserang pada Rabu.
Pasukan Amerika Serikat pada Selasa menenggelamkan 16 kapal Iran yang menebar ranjau laut di dekat selat tersebut. Perusahaan asuransi Chubb juga diumumkan sebagai penjamin utama dalam program yang dipimpin pemerintah AS untuk menyediakan asuransi bagi kapal-kapal yang mencoba melewati jalur strategis tersebut.
"Iran berhasil menjalankan strateginya menimbulkan kekacauan ekonomi di Teluk ketika kapal tanker diserang dan Hormuz tetap tertutup, sehingga mendorong harga Brent mendekati US$100," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dalam sebuah catatan.
"AS dan Israel memang memiliki dominasi militer dan program misil serta nuklir Iran mungkin telah melemah, tetapi pemerintahan garis keras Teheran tetap kuat. Strategi mereka sekarang tampaknya adalah memanfaatkan minyak untuk mendorong Trump mencari jalan keluar dari konflik ini," tambahnya.
Untuk membantu meredakan biaya energi, Wright mengatakan pada Rabu malam bahwa AS akan melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR). Proses penyaluran minyak tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 120 hari.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) pada Rabu juga menyepakati pelepasan terkoordinasi sebesar 400 juta barel minyak guna mengatasi gangguan pasokan akibat perang. Namun harga minyak tetap bertahan tinggi pada sesi sebelumnya karena kekhawatiran konflik bisa berlangsung lama.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan awal pekan ini bahwa perang akan berakhir dalam waktu sangat dekat yang sempat meredakan lonjakan harga minyak setelah sempat menembus US$100 per barel.
"Jika biaya energi dan harga bensin tetap berada di level saat ini atau bahkan naik karena perkembangan di Timur Tengah, hal itu dapat menekan sentimen konsumen dan membuat isu keterjangkauan biaya hidup menjadi perhatian utama menjelang pemilu paruh waktu," kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise.
Namun demikian, secara keseluruhan neraca keuangan konsumen masih dalam kondisi solid, pendapatan dan kondisi ketenagakerjaan juga masih kuat, dan inflasi terus mereda di beberapa sektor penting, terutama perumahan..
"Seiring waktu, jika inflasi terus menurun (di luar dampak sementara dari energi) dan pasar serta ekonomi tetap kuat, sikap masyarakat Amerika terhadap kemampuan mereka membiayai kehidupan sehari-hari bisa membaik."imbuhnya.
Meski konflik masih berlangsung, penurunan S&P 500 relatif terbatas dengan indeks acuan tersebut hanya turun sedikit lebih dari 4% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Januari.
Sebanyak 8 dari 11 sektor di S&P 500 melemah pada Kamis, dengan saham perbankan dan teknologi berada di zona merah.
Saham Morgan Stanley memimpin penurunan sektor finansial setelah membatasi penarikan dana pada fund private credit.
Sebaliknya, saham energi, termasuk Chevron dan Exxon Mobil, menjadi salah satu sektor yang masih berada di zona hijau.
(gls/gls) Addsource on Google