MARKET DATA
Newsletter

Harga Minyak Meledak Lagi, Dunia Menunggu 2 Kabar Genting dari Amerika

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 March 2026 06:20
Catatan Aliran Dana Asing pada Minggu Pilpres
Foto: Infografis/ Catatan Aliran Dana Asing pada Minggu Pilpres/ Ilham
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup kompak melemah baik Rupiah, IHSG, maupun SBN
  • Wall Street ambruk lagi di tengah tekanan harga minyak
  • Rilis data PCE, JOLTs, dan kelanjutan perang di Iran menjadi penggerakan utama pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Kamis (12/3/2026). Bursa saham dan Rupiah turun sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik Selasa (10/3/2026).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tekanan yang cukup berat pada hari ini walaupun potensi rebound masih mungkin terjadi akibat kinerja yang kurang baik pada beberapa hari ini di pasar keuangan Indonesia.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,37% atau melemah 27,28 poin ke level 7.362,12 pada akhir perdagangan sesi kedua kemarin, Kamis (12/3/2026).

Sebanyak 211 saham naik, 461 turun, dan 149 lainnya tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 13,38 triliun melibatkan 26,81 miliar saham dalam 1,61 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turun jadi Rp 13.150 triliun

Mayoritas sektor perdagangan melemah dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor infrastruktur, properti dan konsumer non primer. Adapun hanya sektor teknologi dan finansial yang menguat kemarin.

Saham emiten berkapitalisasi besar tercatat menjadi penggerak kinerja IHSG. Tercatat saham-saham yang menopang kinerja IHSG kemarin termasuk DCII, BBCA, BMRI, BYAN, dan SMMA.

Sementara itu beban terbesar IHSG pada perdagangan kemarin adalah pelemahan saham BREN, DSSA, BRMS, VKTR dan MORA.

Pelaku pasar kemarin dihadapkan pada sejumlah indikator makroekonomi dan sentimen fundamental krusial, baik dari dalam maupun luar negeri.

Fokus pergerakan pasar diperkirakan akan tertuju pada kestabilan rilis inflasi Amerika Serikat, daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) domestik dalam menghadapi eskalasi geopolitik, hingga transisi strategis di kursi kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (12/3/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,12% ke level Rp16.885/US$. Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan, saat mata uang Garuda dibuka melemah 0,15% ke posisi Rp16.890/US$.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak di kisaran Rp16.870/US$ hingga Rp16.908/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat 0,19% ke posisi 99,420.

Pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis ini masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama dari Negeri Paman Sam.

Dari eksternal, penguatan indeks dolar AS membuat ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas. Kenaikan DXY mencerminkan bahwa pelaku pasar kembali memburu dolar AS di tengah masih tingginya ketidakpastian global.

Sentimen pasar juga dipengaruhi data inflasi AS Februari yang dirilis sesuai dengan perkiraan. Meski begitu, perhatian investor saat ini lebih banyak tertuju pada pergerakan harga minyak dan potensi dampak jangka panjang perang AS-Israel melawan Iran terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Pelaku pasar masih berada dalam posisi waspada karena konflik di Timur Tengah berisiko mengganggu perdagangan energi dunia dan memicu lonjakan harga. Risiko ini pada akhirnya membuat dolar AS tetap diminati sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Lanjut ke pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun saat ini terindikasi pada level 6,776%, imbal hasil SBN terpantau mengalami sedikit lonjakan dari penutupan hari sebelumnya di level 6,69%  pada Selasa (10/3/2026) kemarin.

Imbal hasil yang naik menandai harga SBN tengah jatuh karena dijual investor.

Add as a preferred
source on Google

Dari bursa saham AS, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham berada di bawah tekanan karena harga minyak melanjutkan lonjakannya di tengah kekhawatiran gangguan pasokan, sementara perang Iran masih berlangsung.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 739,42 poin atau 1,56% dan ditutup di level 46.677,85. S&P 500 melemah 1,52% ke posisi 6.672,62, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,78% dan berakhir di 22.311,98.

Ketiga indeks tersebut mencatat penutupan terendah sepanjang tahun 2026, dan Dow yang berisi 30 saham bahkan ditutup di bawah level 47.000 untuk pertama kalinya tahun ini.

Harga minyak mentah terus naik setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk pada 9 Maret, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh.

 

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di US$95,73 per barel. Sementara itu, Brent melonjak 9,22% dan ditutup di US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Angkatan Laut AS belum siap mengawal kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz, meskipun ia memperkirakan kemampuan tersebut bisa siap pada akhir bulan ini.

Lalu lintas kapal di kawasan tersebut hampir terhenti total seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Pada malam sebelumnya, tiga kapal asing tambahan diserang di Teluk Persia, menurut otoritas setempat. Insiden ini terjadi setelah tiga kapal lainnya, termasuk satu di Selat Hormuz, juga diserang pada Rabu.

Pasukan Amerika Serikat pada Selasa menenggelamkan 16 kapal Iran yang menebar ranjau laut di dekat selat tersebut. Perusahaan asuransi Chubb juga diumumkan sebagai penjamin utama dalam program yang dipimpin pemerintah AS untuk menyediakan asuransi bagi kapal-kapal yang mencoba melewati jalur strategis tersebut.

"Iran berhasil menjalankan strateginya menimbulkan kekacauan ekonomi di Teluk ketika kapal tanker diserang dan Hormuz tetap tertutup, sehingga mendorong harga Brent mendekati US$100," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dalam sebuah catatan.

"AS dan Israel memang memiliki dominasi militer dan program misil serta nuklir Iran mungkin telah melemah, tetapi pemerintahan garis keras Teheran tetap kuat. Strategi mereka sekarang tampaknya adalah memanfaatkan minyak untuk mendorong Trump mencari jalan keluar dari konflik ini," tambahnya.

Untuk membantu meredakan biaya energi, Wright mengatakan pada Rabu malam bahwa AS akan melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR). Proses penyaluran minyak tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 120 hari.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) pada Rabu juga menyepakati pelepasan terkoordinasi sebesar 400 juta barel minyak guna mengatasi gangguan pasokan akibat perang. Namun harga minyak tetap bertahan tinggi pada sesi sebelumnya karena kekhawatiran konflik bisa berlangsung lama.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan awal pekan ini bahwa perang akan berakhir dalam waktu sangat dekat yang sempat meredakan lonjakan harga minyak setelah sempat menembus US$100 per barel.

"Jika biaya energi dan harga bensin tetap berada di level saat ini atau bahkan naik karena perkembangan di Timur Tengah, hal itu dapat menekan sentimen konsumen dan membuat isu keterjangkauan biaya hidup menjadi perhatian utama menjelang pemilu paruh waktu," kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise.

Namun demikian, secara keseluruhan neraca keuangan konsumen masih dalam kondisi solid, pendapatan dan kondisi ketenagakerjaan juga masih kuat, dan inflasi terus mereda di beberapa sektor penting, terutama perumahan..

"Seiring waktu, jika inflasi terus menurun (di luar dampak sementara dari energi) dan pasar serta ekonomi tetap kuat, sikap masyarakat Amerika terhadap kemampuan mereka membiayai kehidupan sehari-hari bisa membaik."imbuhnya.

Meski konflik masih berlangsung, penurunan S&P 500 relatif terbatas dengan indeks acuan tersebut hanya turun sedikit lebih dari 4% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Januari.

Sebanyak 8 dari 11 sektor di S&P 500 melemah pada Kamis, dengan saham perbankan dan teknologi berada di zona merah.

Saham Morgan Stanley memimpin penurunan sektor finansial setelah membatasi penarikan dana pada fund private credit.

Sebaliknya, saham energi, termasuk Chevron dan Exxon Mobil, menjadi salah satu sektor yang masih berada di zona hijau.

Mengawali perdagangan hari ini, pelaku pasar perlu mencermati serangkaian rilis data makroekonomi dari Amerika Serikat, eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, serta arah baru dari regulator pasar modal domestik.

AS akan mengumumkan dua data penting hari ini yakni inflasi pengeluaran konsumen atau PCE traserta data tenaga ekrja 

Berikut adalah rincian perkembangan pasar terkini yang memiliki implikasi terhadap pergerakan pasar pada hari ini:

Inflasi PCE Amerika Serikat 

Malam ini akan ada rilis data PCE dan juga Core PCE AS periode Januari 2026. Sebagai catatan, Chair Jerome Powell lebih memilih menggunakan PCE sebagai acuan angka inflasi karena lebih modern dalam metodologi sampling data inflasi.

Sebagai catatan, berdasarkan rilis data dari U.S. Bureau of Economic Analysis, Indeks Harga Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat tercatat mengalami kenaikan sebesar 2,9% secara tahunan pada bulan Desember 2025.

Angka ini sedikit meningkat dibandingkan dengan bulan November yang berada di level 2,8%, serta berada di atas ekspektasi konsensus pasar yang memproyeksikan angka 2,8%. Peningkatan inflasi ini utamanya didorong oleh kenaikan harga barang sebesar 1,7% dan lonjakan pada biaya jasa yang mencapai 3,4%.

Di sisi lain, inflasi inti (Core PCE) yang mengecualikan komponen makanan dan energi bergejolak, juga meningkat menjadi 3,0% pada Desember 2025, naik dari 2,8% pada bulan sebelumnya.

Sebagai gambaran historis, inflasi Core PCE AS memiliki rata-rata sebesar 3,23% sejak tahun 1960 hingga 2025, dengan rekor tertinggi tercatat pada Februari 1975 (10,22%) dan rekor terendah pada Juli 2009 (0,63%).

Data inflasi yang kembali memanas ini berpotensi menjadi pertimbangan krusial bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Data Klaim Pengangguran Lowongan Pekerjaan AS (JOLTS) 

AS pada Kamis kemarin mengumumkan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat turun sebanyak 1.000 dari minggu sebelumnya menjadi 213.000 pada minggu pertama Maret. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan 215.000 dan secara umum masih sejalan dengan level yang terlihat dalam tiga minggu terakhir.

Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims), yang menjadi indikator jumlah pengangguran yang masih menerima bantuan di AS, turun 21.000 menjadi 1.850.000 pada minggu terakhir Februari.

Hasil ini berbeda dengan sinyal yang lebih lemah dari laporan ketenagakerjaan terbaru yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), sehingga memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS saat ini berada dalam kondisi perekrutan rendah tetapi juga pemutusan hubungan kerja yang rendah.

Di sisi lain, klaim awal yang diajukan oleh pegawai federal, yang menjadi perhatian pasar karena digunakan untuk mengukur dampak penutupan pemerintahan (government shutdown), naik 88 menjadi 617.

Hari ini akan diumumkan rilis data terkait lowongan pekerjaan AS JOLTs periode bulan Januari 2026. Job Openings and Labor Turnover Survey atau JOLTs adalah laporan bulanan pasar tenaga kerja yang dirilis oleh U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS) di Amerika Serikat.

Laporan ini memberikan gambaran permintaan tenaga kerja dan dinamika keluar-masuk pekerja di perusahaan-perusahaan AS.

Hal ini memberikan gambaran terkait kondisi pasar ketenagakerjaan di AS guna The Fed menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Funds Rate ke depan.

Berlawanan dengan tekanan inflasi yang masih persisten, sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat justru menunjukkan tanda-tanda pendinginan yang signifikan. U.S. Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa pembukaan lapangan kerja (JOLTS) anjlok sebanyak 386.000 menjadi 6,542 juta pada bulan Desember 2025.

Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang mematok angka 7,2 juta dan merupakan level terendah sejak September 2020.

Penurunan jumlah lowongan kerja ini terjadi secara luas di berbagai sektor utama, dipimpin oleh layanan profesional dan bisnis yang berkurang 257.000, diikuti oleh sektor perdagangan ritel (-195.000), serta sektor keuangan dan asuransi (-120.000).

Secara regional, penurunan paling tajam tercatat di wilayah Timur Laut (-210.000). Meskipun pembukaan lowongan menurun tajam, tingkat perekrutan dan pemutusan hubungan kerja relatif stabil, masing-masing berada di kisaran 5,3 juta, dengan tingkat pengunduran diri sukarela tetap tertahan di angka 3,2 juta.

Kedua rilis data hari ini akan menjadi alat bantu The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan seperti FOMC yang akan dilaksanakan pada tanggal 18-19 Maret mendatang serta penentuan balance sheet oleh The Fed.

Rezim Kepemimpinan Iran Masih Kokoh

Di tengah operasi militer skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, intelijen AS mengindikasikan bahwa struktur kepemimpinan pemerintah Iran saat ini masih utuh dan jauh dari risiko keruntuhan. Laporan tersebut menegaskan bahwa rezim di Teheran tetap memegang kendali penuh atas masyarakatnya.

Meskipun Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah tewas pada hari pertama serangan dan sejumlah komandan tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) gugur, organisasi militer tersebut dilaporkan masih solid.

Posisi pemimpin tertinggi juga telah digantikan oleh putra Khamenei, Mojtaba, guna menjaga stabilitas. Di sisi lain, kelompok milisi Kurdi Iran sempat menawarkan bantuan pemberontakan, namun opsi tersebut ditepis oleh Presiden Donald Trump karena intelijen meragukan kapasitas persenjataan mereka.

Kondisi ini membuat para pejabat Israel secara internal mulai mengakui bahwa gempuran udara saja tidak akan cukup untuk meruntuhkan rezim, dan intervensi darat kemungkinan besar diperlukan.

Bahkan berdasarkan laporan terakhir, Mojtaba menjelaskan di dalam pemaparan publik pertamanya sejak terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran, bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Hal ini diterapkan guna menjadikannya alat untuk menekan musuh.

Mojtaba Khamenei. (X/@Iam_Mian)Foto: Mojtaba Khamenei. (X/@Iam_Mian)

Friderica Resmi Menjabat Ketua OJK, Integritas Pasar Jadi Prioritas

Dari dalam negeri, Sidang Paripurna DPR RI secara resmi telah menyetujui pengangkatan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru. Menghadapi dinamika dan guncangan industri keuangan saat ini, ia menegaskan bahwa agenda reformasi integritas pasar modal akan menjadi prioritas utama.

Langkah ini akan direalisasikan melalui 8 aksi prioritas yang mencakup optimalisasi likuiditas pasar, penjaminan integritas data, dan perlindungan investor. OJK juga berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum secara tegas terhadap berbagai kasus di pasar modal melalui kolaborasi dengan pihak kepolisian.

Selain itu, task force khusus untuk transformasi pasar modal telah dibentuk dengan menggandeng Kementerian Perekonomian dan Self-Regulatory Organization (SRO).

Di tengah ketidakpastian geopolitik, regulator mengimbau para investor untuk tetap berfokus pada analisis fundamental, mengingat prospek jangka panjang ekonomi Indonesia yang masih dinilai sangat positif.

Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel

Ketegangan geopolitik yang kembali memanas langsung berimbas pada pasar komoditas energi. Pada perdagangan Kamis pagi, harga minyak mentah Brent melonjak ke US$ 100,72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 95,37 per barel.

Harga minyak telah meroket lebih dari 38% dalam waktu kurang dari dua pekan akibat ancaman serius terhadap jalur pasokan global.

Lonjakan ini didorong oleh serangan terhadap dua kapal tanker dan fasilitas pelabuhan minyak di perairan Irak, yang memicu kekhawatiran atas keamanan navigasi di Selat Hormuz. Pihak militer Iran bahkan melontarkan peringatan bahwa harga minyak dapat meroket hingga US$ 200 per barel.

Sebagai intervensi, International Energy Agency (IEA) merilis 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global-dengan AS melepas 172 juta barel dan Jepang 80 juta barel.

Namun, para analis menilai pelepasan ini hanya mampu menutupi gangguan selama 20 hari jika Selat Hormuz sepenuhnya tertutup, sehingga tekanan inflasi energi diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan global.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di US$95,73 per barel. Sementara itu, Brent melonjak 9,22% dan ditutup di US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.

Defisit Anggaran Amerika Serikat Capai Angka Fantastis US$ 1 Triliun

Beban operasional pemerintah AS terus membengkak. Departemen Keuangan AS melaporkan bahwa defisit anggaran telah menembus lebih dari US$ 1 triliun sekitar Rp 16.900 triliun, hanya dalam kurun waktu lima bulan pertama tahun fiskal berjalan hingga Februari.

Pada bulan Februari saja, pengeluaran pemerintah melampaui penerimaannya sebesar US$ 308 miliar.

Meskipun defisit kumulatif ini secara persentase 12% lebih rendah dari tahun sebelumnya, hal ini lebih didorong oleh lonjakan tajam pada penerimaan bea masuk tarif impor yang mencapai US$ 151 miliar.

Ironisnya, angka penerimaan dari tarif impor ini kini berhasil melampaui pendapatan dari pajak perusahaan yang justru anjlok sebesar US$ 27 miliar. Beban fiskal ini juga diperberat oleh pembayaran bunga utang nasional yang mencapai US$ 79 miliar pada bulan Februari.

Jika dikomparasikan, defisit ini jauh melampaui kondisi fiskal Indonesia yang mencatatkan defisit sebesar Rp 135 triliun pada dua bulan pertama tahun 2026.

Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp 190 Triliun

Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terbukti sangat menguras kas negara. Berdasarkan laporan tertutup kepada Kongres, pejabat pemerintahan AS mengungkapkan bahwa biaya perang telah mencapai lebih dari US$ 11,3 miliar (sekitar Rp 190 triliun) dalam enam hari pertama operasi militer.

Besarnya anggaran ini salah satunya diakibatkan oleh penggunaan amunisi senilai US$ 5,6 miliar hanya dalam dua hari pertama serangan udara. Tingkat konsumsi senjata yang masif ini telah memicu kekhawatiran serius di kalangan parlemen terkait menipisnya cadangan logistik militer AS, yang memaksa pemerintah segera berkoordinasi dengan para kontraktor pertahanan.

Diperkirakan, Gedung Putih akan segera mengajukan permintaan dana tambahan perang sebesar US$ 50 miliar kepada Kongres untuk menopang kelanjutan operasi militer ini.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara tentang perisai pertahanan rudal Golden Dome, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 20 Mei 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque/File Photo)Foto: Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara tentang perisai pertahanan rudal Golden Dome, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 20 Mei 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Arus Mudik Mencapai Puncak

Pemerintah memprediksi arus mudik Lebaran 2026 akan terbagi dalam dua puncak pergerakan masyarakat.

Puncak arus mudik pertama diperkirakan terjadi pada 13 Maret 2026, bertepatan dengan dimulainya libur sekolah. Pada periode ini, pergerakan pemudik diperkirakan didominasi oleh keluarga yang membawa anak-anak pulang kampung.

Sementara itu, puncak arus mudik kedua diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026. Gelombang ini diperkirakan didominasi oleh kalangan pekerja, mulai dari aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN, hingga karyawan swasta.

Mudik melibatkan jutaan warga Indonesia dan diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi dari pusat kota ke daerah. Tradisi ini juga diharapkan akan meningkatkan permintaan sehingga roda ekonomi bergerak lebih cepat.

Sebagai catatan, puncak permintaan dan konsumsi masyarakat Indonesia biasanya terjadi selama Ramadan, terutama sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri karena melesatnya permintaan barang dan jasa.

Sebagai antisipasi besarnya permintaan, Bank Indonesia sudah menyiapkan Rp185,6 Triliun Uang Tunai untuk Ramadan-Lebaran 2026. Bank Indonesia menyiapkan total uang tunai sebesar Rp185,6 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) 2026. 


Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • PCE AS Januari 2026
  • JOLTs Job Opening AS Januari 2026
  • Menteri Pertanian memimpin rapat koordinasi di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan

  • elepasan peliputan tim mudik Transmedia oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur di Gedung Transmedia, Jakarta Selatan.

  • Annual Report Award 2025 di Main Hall BEI, Jakarta Selatan. Turut hadir Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan.

  • Konferensi pers Laporan Kinerja Industri Asuransi Jiwa periode Januari-Desember (Full Year) 2025 yang akan diadakan Grha AAJI, Jakarta Selatan.

  • Sidang Terbuka Satgas Debottlenecking yang akan diselenggarakan di Aula Juanda Gedung Juanda, kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.

  • Pelaksanaan Apel Bersama Posko Pemantauan Kualitas Layanan Telekomunikasi Dan Spektrum Frekuensi Radio Pada Periode Ramadan Dan Idul Fitri 1447 H/Tahun 2026 di halaman Parkir Lobi Gedung Utama Kemkomdigi, Jakarta Pusat. Turut hadir Menkomdigi.

  • Pemantauan Posko dan Pengenalan Perangkat untuk Monitoring Posko Rafi Tahun 2026 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Turut hadir Menkomdigi.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Pinago Utama Tbk
  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Waskita Beton Precast Tbk.

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features