TOBA Mau Rights Issue, Investor Untung atau Malah Terdilusi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Daftar panjang emiten yang mau right issue tahun ini ketambahan satu lagi perusahaan yang sedang ekspansi ke pengolahan limbah yaitu PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).
Mengutip laporan keterbukaan informasi perusahaan yang dirilis melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), menyampaikan bahwa TOBA akan mengeluarkan saham baru lewat right issue sebanyak 1,39 miliar dengan nilai nominal Rp50 per saham.
Sejauh ini, belum ada harga pelaksanaan pasti, tetapi kalau diasumsikan bisa dihargai sekitar Rp300 per saham atau sedikit diskon 50% dari posisi harga saat ini per 11 Maret 2026 di Rp615 per saham, akan menghasilkan dana segar sekitar Rp417 miliar.
Adapun dana itu rencanany akan digunakan untuk mendukung perkembangan dan ekspansi usaha TOBA khususnya di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan serta kendaraan listrik.
"Penambahan modal yang diperoleh dari hasil PMHMETD akan memperkuat struktur permodalan Perseroan serta mendukung perkembangan dan ekspansi usaha Perseroan. Peningkatan modal Perseroan dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan daya saing usaha dan meningkatkan imbal hasil nilai investasi bagi pemegang saham Perseroan," tulis manajemen, Selasa (11/3/2026).
Manajemen menyebut, pelaksanaan rights issue tersebut masih menunggu sejumlah persyaratan, termasuk persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 16 April 2026.
Manajemen juga mengingatkan bahwa pemegang saham yang tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru dalam rights issue ini berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga sekitar 14,23%.
Adapun jadwal terkait rencana aksi korporasi ini dimulai dengan pengumuman keterbukaan informasi pada 10 Maret 2026, pemanggilan RUPSLB pada 25 Maret 2026, pelaksanaan RUPSLB pada 16 April 2026, dan pengumuman risalah rapat pada 20 April 2026.
Perlu dipahami, bahwa right issue ini masih berupa rencana, setelah RUPS pun, biasanya masih ada waktu sekitar 12 bulan untuk menunggu aksi right issue dimulai, sembari menanti restu pernyataan efektif OJK.
Jadi, ada kemungkinan jika nantinya right issue tidak terlaksana tahun ini, maksimal bisa mundur sampai April 2027.
Kami juga menilai bagi TOBA aksi right issue ini akan menjadi material bagi kelangsungan bisnis ke depan, mengingat setelah masuk ke bisnis pengolahan limbah pada 2025, TOBA malah terjerembab pada kerugian lebih dari Rp2 triliun dalam setahun, membalikan keuntungan tahun sebelumnya kisaran Rp400 miliar lebih.
Setelah keluar berita right issue ini, pergerakan sahamnya langsung merespons positif. Pada perdagangan 11 Maret 2026, harga saham TOBA melonjak hampir 8% dalam sehari hingga mencapai Rp615 per saham.
Kondisi seperti ini cukup umum terjadi ketika sebuah emiten mengumumkan rencana aksi korporasi. Pada tahap awal setelah berita dirilis, biasanya pelaku pasar masih merespons dengan aksi beli spekulatif karena melihat adanya potensi sentimen positif jangka pendek.
Namun demikian, investor juga perlu memahami bahwa right issue umumnya bersifat sebagai sentimen sementara di pasar. Setelah fase euforia awal mereda, perhatian pasar biasanya akan kembali pada beberapa faktor penting, seperti:
- Harga pelaksanaan right issue yang akhirnya ditetapkan perusahaan
- Berapa nantinya harga teoritis yang ditetapkan
- Potensi dilusi terhadap pemegang saham lama
- Tujuan penggunaan dana dari hasil right issue tersebut
- Serta prospek fundamental bisnis perusahaan ke depan
Jika dana hasil right issue benar-benar digunakan untuk ekspansi bisnis yang produktif, sentimen positif terhadap saham bisa bertahan lebih lama. Sebaliknya, jika pasar menilai aksi korporasi tersebut hanya menambah jumlah saham tanpa memperkuat fundamental, maka kenaikan harga saham biasanya tidak berlangsung lama dan berpotensi kembali terkoreksi setelah hype awal mereda.
Karena itu, selain memanfaatkan momentum sentimen, investor tetap perlu memperhatikan struktur right issue dan dampaknya terhadap valuasi saham sebelum mengambil keputusan investasi.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae) Addsource on Google