MARKET DATA
Newsletter

Belum Ada Kabar Baik: Minyak Membara Lagi, Inflasi AS Masih Bandel

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
12 March 2026 06:20
Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025.
Foto: Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025. (REUTERS/Brendan McDermid)

Bursa saham AS, Wall Street, berakhir beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari nanti.

Indeks yang berisi 30 saham tersebut turun 289,24 poin atau 0,61% dan ditutup di 47.417,27. Sementara itu, S&P 500 melandai 0,08% menjadi 6.775,80, sedangkan Nasdaq Composite justru naik 0,08% dan menutup sesi di 22.716,13.

Melandainya bursa tak bisa dilepaskan dari kekhawatiran investor terhadap harga minyak.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 4% dan ditutup di US$87,25 per barel. Sementara Brent crude naik sekitar 4,8% menjadi US$91,98 per barel.

Kenaikan ini terjadi bahkan setelah International Energy Agency (IEA) menyatakan akan melepas 400 juta barel minyak dari cadangannya, pelepasan terbesar sepanjang sejarah, untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang.

Menurut Ron Albahary, Chief Investment Officer di Laird Norton Wetherby, keputusan IEA tersebut tidak menyelesaikan masalah lain yang dapat memengaruhi ekonomi global. Ia mencontohkan produk olahan minyak yang melewati Selat Hormuz, seperti bahan bakar pesawat (jet fuel), sebagai salah satu risiko yang masih membayangi.

"Saya pikir pasar sedang bergulat dengan pertanyaan: bagaimana jalan keluar dari situasi ini," ujarnya kepada CNBC.
"Kedua pihak sudah bersikeras dengan posisinya masing-masing, dan sulit melihat bagaimana situasi ini bisa berakhir positif dalam jangka pendek."imbuhnya.



Konflik yang berkepanjangan berpotensi membuat harga minyak tetap tinggi. Pada Selasa, pasukan AS menenggelamkan beberapa kapal Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau, di dekat Selat Hormuz, ketika Teheran berupaya menambang jalur pelayaran vital tersebut yang menjadi pusat kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

United Kingdom Maritime Trade Operations juga melaporkan pada Rabu bahwa tiga kapal kargo di lepas pantai Iran, salah satunya berada di Selat Hormuz, terkena serangan proyektil.

Situasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan awal pekan ini bahwa perang akan berakhir "sangat segera."

"Pernyataan Trump bahwa perang mungkin segera berakhir, setelah lonjakan volatilitas harga minyak yang luar biasa, mungkin menandakan bahwa 'batas toleransi rasa sakit' telah tercapai," tulis Emmanuel Cau, Kepala Strategi Ekuitas Eropa di Barclays, dalam catatan pada Rabu.

"Semakin lama lonjakan harga minyak bertahan, semakin besar risiko penurunan terhadap laba perusahaan dan valuasi pasar." Imbuhnya.

Sementara itu, indeks harga konsumen (CPI) naik 2,4% secara tahunan pada Februari, sejalan dengan perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Laporan ini muncul di tengah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, saham Oracle menjadi titik terang pada perdagangan Rabu, melonjak 9% setelah laba dan pendapatan kuartal fiskal ketiga perusahaan melampaui ekspektasi analis. Perusahaan perangkat lunak tersebut juga menaikkan proyeksi pendapatan tahun fiskal 2027.

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features