MARKET DATA

3 Cobaan Besar Menghantam IHSG, Sanggupkah Kembali ke 8000?

saw,  CNBC Indonesia
09 March 2026 08:35
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tiga tantangan berat yang membuatnya terjun menguji level 7500 lagi.

Dalam sepekan lalu sampai Jumat (6/3/2026), IHSG terjun nyaris 8% hanya dalam seminggu, mencatat pelemahan terburuk melampaui MSCI Crash akhir Januari lalu.

Ada tiga tantangan besar yang kini membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.

Dalam beberapa waktu terakhir, IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh tekanan eksternal dan perubahan persepsi investor global terhadap Indonesia sebagai destinasi investasi.

Pertama, meningkatnya tekanan dari faktor geopolitik global.

Ketegangan geopolitik yang semakin memanas, khususnya di kawasan Timur Tengah, telah mendorong investor global untuk mengambil sikap lebih defensif. Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, pasar keuangan biasanya mengalami pergeseran sentimen menuju risk-off, yaitu kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur pada aset yang dianggap lebih berisiko.

Negara berkembang, termasuk Indonesia, sering kali menjadi salah satu yang paling terdampak karena aliran dana asing yang sebelumnya masuk dapat dengan cepat berbalik arah.

 

Situasi ini memicu fenomena yang sering disebut sebagai geopolitical contagion, di mana dampak konflik atau ketegangan di satu kawasan menyebar ke pasar keuangan global. Investor internasional cenderung memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah negara maju atau aset berbasis dolar AS.

Akibatnya, pasar saham di emerging markets menghadapi tekanan arus keluar modal. Bagi Indonesia, kondisi ini dapat memicu volatilitas di pasar saham sekaligus menahan potensi penguatan IHSG dalam jangka pendek hingga menengah.

Kedua, meningkatnya kekhawatiran terkait posisi Indonesia dalam indeks saham global.

Perhatian investor juga tertuju pada kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks global yang disusun oleh Morgan Stanley Capital Index (MSCI).

Saat ini, bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index terus mengalami tren penurunan dan sudah mendekati kisaran 1%. Penurunan bobot ini mencerminkan semakin kecilnya porsi pasar saham Indonesia dalam portofolio global yang mengikuti indeks tersebut.

Risiko yang mulai diperbincangkan di kalangan pelaku pasar adalah potensi Indonesia mengalami penurunan status dari kategori emerging market menjadi frontier market.

Walaupun skenario ini belum tentu terjadi dalam waktu dekat, diskusi mengenai kemungkinan tersebut saja sudah cukup untuk memengaruhi sentimen investor. Banyak dana investasi global, terutama dana pasif dan ETF, secara otomatis menyesuaikan portofolionya berdasarkan komposisi indeks MSCI.

Jika suatu negara mengalami perubahan klasifikasi, maka arus dana yang mengikuti indeks tersebut juga akan ikut berubah. Dalam skenario ekstrem, perubahan status ini dapat memicu arus keluar dana asing yang signifikan dari pasar saham domestik.

Ketiga, meningkatnya perhatian terhadap risiko kredit negara.

Selain tekanan eksternal dan isu klasifikasi pasar, investor juga mencermati perkembangan dari sisi fundamental makroekonomi, khususnya terkait persepsi risiko terhadap utang pemerintah.

Sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings, Moody's Investors Service, dan S&P Global Ratings telah memberikan sinyal kehati-hatian melalui perubahan outlook terhadap Indonesia menjadi lebih negatif.

 

Perubahan outlook ini tidak serta-merta berarti penurunan peringkat kredit akan terjadi dalam waktu dekat.

Namun, sinyal tersebut menunjukkan bahwa lembaga pemeringkat mulai melihat adanya risiko yang perlu diwaspadai, terutama terkait kondisi fiskal, dinamika utang pemerintah, serta potensi tekanan terhadap defisit anggaran di masa depan.

Bagi investor global, perubahan persepsi terhadap risiko kredit negara dapat berdampak luas karena memengaruhi biaya pendanaan pemerintah maupun sektor korporasi. Jika risiko dianggap meningkat, investor biasanya akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menahan aset negara tersebut.

Dalam konteks pasar saham, meningkatnya kekhawatiran terhadap sovereign credit juga dapat menekan sentimen pasar.

Investor cenderung menjadi lebih selektif dalam menempatkan dana di aset domestik, sehingga pergerakan IHSG berpotensi menjadi lebih terbatas dan sensitif terhadap berbagai perkembangan kebijakan maupun kondisi global.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular