MARKET DATA

Bagaimana Nasib Saham INDF-ACES-CLEO Setelah Terdepak dari MSCI?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
12 February 2026 09:55
RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya?
Foto: Infografis/ RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya? / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Morgan Stanley Capital Index (MSCI) kembali memberikan kejutan pasar dengan mengeluarkan tiga saham Indonesia, padahal akhir bulan lalu menyatakan interim freeze.

Tiga saham yang keluar itu adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO).

Meski begitu, tindakan tersebut masih sesuai dengan kaidah pembekuan indeks (freezing) yang tertuang dalam pengumuman yang diterima Bursa Efek Indonesia sejak Januari 2026.

Dalam kebijakan tersebut, MSCI tidak mengimplementasikan penambahan saham baru, kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), maupun migrasi naik antar segmen ukuran indeks.

 

Sebagaimana dikutip dari pengumuman tersebut, MSCI saat ini menerapkan interim freeze yang mencakup pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes serta tidak mengizinkan migrasi naik antar segmen ukuran indeks.

"Penghapusan saham dari indeks serta migrasi turun antar segmen ukuran tetap dapat dilakukan sesuai metodologi MSCI," sebagaimana disebut dalam pengumuman tersebut.

Diketahui, MSCI mengumumkan evaluasi indeks saham Indonesia untuk periode Februari 2026 yang mencakup indeks Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap dengan tanggal efektif 28 Februari 2026.

Lantas, gimana nasib tiga saham yang terdepak dari MSCI?

Dalam jangka pendek, kami menilai tiga saham yang keluar dari indeks MSCI berpotensi mengalami tekanan berupa outflow dana asing.

Penyesuaian portofolio oleh fund manager global umumnya berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing, yang dalam hal ini jatuh pada penutupan perdagangan 27 Februari. Menjelang tanggal tersebut, volatilitas harga biasanya meningkat karena adanya aksi jual terpaksa dari dana pasif yang mengikuti indeks.

Dengan demikian, dalam beberapa pekan ke depan investor perlu mengantisipasi potensi tekanan lanjutan, khususnya jika likuiditas pasar tidak cukup kuat untuk menyerap suplai saham dari investor asing. Fase ini umumnya ditandai dengan pergerakan harga yang fluktuatif dan volume transaksi yang meningkat.

 

Namun dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, keluarnya suatu saham dari MSCI tidak selalu berarti fundamentalnya memburuk. Justru, berkurangnya eksposur dana asing dapat membuat struktur kepemilikan lebih stabil setelah fase distribusi selesai.

Selain itu, koreksi harga yang telah terjadi sebelumnya berpotensi membuat valuasi menjadi lebih atraktif, terutama jika kinerja operasional tetap solid.

Sebagaimana terlihat pada tabel berikut, tekanan harga dalam beberapa waktu terakhir telah membuat sejumlah saham diperdagangkan pada level yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.

Kondisi ini membuka ruang re-rating apabila sentimen membaik dan arus dana kembali masuk.

Karena itu, volatilitas yang terjadi menjelang dan sesaat setelah rebalancing lebih banyak dipicu oleh penyesuaian portofolio dana pasif yang mengikuti indeks. Setelah fase tersebut selesai, arah pergerakan harga biasanya kembali ditentukan oleh fundamental dan prospek bisnis masing-masing emiten.

Dari sisi fundamental, masing-masing saham memiliki cerita yang berbeda.

 

Dari CLEO dulu, potensi pertumbuhan masih terbuka melalui kontribusi tiga pabrik baru yang telah mulai beroperasi tahun ini.

Memang terdapat penundaan ekspansi yang sebelumnya ditargetkan berjalan tahun lalu, sehingga kinerja laba 2025 berpotensi kurang maksimal dibandingkan proyeksi awal. Namun dengan tambahan kapasitas produksi yang kini sudah aktif melalui tiga pabrik baru, CLEO berpeluang memperoleh momentum pertumbuhan volume penjualan dan efisiensi distribusi dalam periode mendatang.

Sementara itu, ACES dan INDF perlu diakui masih menghadapi tekanan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan beban impor yang tinggi akibat rupiah melemah.

Meski demikian, ACES tetap memiliki daya tarik dari potensi dividend yield yang relatif menarik, sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas dan imbal hasil dividen.

Adapun INDF, pertumbuhan mungkin belum agresif dalam waktu dekat, tetapi secara valuasi saham ini sudah berada pada level yang sangat murah, bahkan mendekati kisaran terendah dalam sekitar 10 tahun terakhir.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)



Most Popular