Sejarah Bicara IHSG Selalu Bangkit Cepat Setelah Ambruk Parah
Jakarta, CNBC Indonesia -Badai pasti berlalu, satu ungkapan yang menggambarkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selalu berhasil bangkit setiap kali melewati krisis, bahkan bisa terbang pesat menuju puncak baru.
Pada kemarin Rabu (28/1/2026), IHSG dilanda gempa bumi alias jeblok sampai terkena trading halt di sesi II alias terjun menyentuh batas 8%. Sebelum akhirnya pelemahan sedikit menyusut sampai penutupan sekitar 7,35% menuju posisi 8.320,56.
Kalau ditarik dari posisi All Time High (ATH) IHSG di level 9100 pada 20 Januari 2026 lalu, IHSG sudah mengalami koreksi sekitar 9,16%.
Pelemahan IHSG kali ini terjadi akibat MSCI yang tiba-tiba mengumumkan lebih awal terkait aturan free float dan menetapkan interim freeze atau penghentian sementara review index, termasuk untuk edisi Februari 2026.
Artinya, saham-saham dengan ekspektasi masuk MSCI otomatis gugur semua. Hal tersebut membuat sejumlah saham konglo jeblok sampai terbawa Auto Reject Bawah (ARB).
Selain itu, MSCI juga menuntut regulator (OJK dan BEI) untuk lebih transparan data free float, dengan batas evaluasi sampai Mei 2026.
Jika tidak ditindaklanjuti dengan serius, skenario terburuk MSCI bisa menerapkan pengurangan semua saham konstituen MSCI dan menurunkan status saham Indonesia saat ini dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Kalau itu sampai terjadi, dana asing yang mengalir keluar bisa menguap sampai Rp150 triliun. Hal ini menjadi pukulan keras, agar bursa kita berbenah supaya tidak ada saham "gorengan" yang dengan mudah-nya menggandakan valuasi sampai ratusan kali dengan target menuju MSCI.
MSCI bukan free money, bukan exit strategy, mereka merupakan manajer investor global yang mengandalkan banyak data, beberapa tahun ke belakang beberapa kasus terjadi yang membuat mereka menderita kerugian dari kenaikan dan penurunan saham begitu cepat.
Ini menjadi pelajaran kalau investor membutuhkan transparansi sebagai tanda kepercayaan menanamkan modal jangka panjang.
Saat ini bisa dibilang jadi momen sulit untuk IHSG, tapi bukan berarti ini jadi akhir. Sejarah selalu membuktikan bahwa kita selalu bangkit, bahkan menuju level puncak baru.
IHSG Selalu Bangkit dari Krisis
Pada tahun lalu IHSG mengalami trading halt dua kali. Yang terakhir sempat membuat indeks bursa seluruh saham di RI ini terjun ke bawah level 6000.
Tepatnya pada April 2026, IHSG terperosok menembus ke bawah 6000 akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Waktu itu, tarif perang dagang diterapkan ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Ditambah ada ketegangan geopolitik yang meluas antara Israel-Gaza sampai Timur Tengah.
Jika ditarik mundur, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.910,86 pada September 2024. Namun, dari titik tersebut IHSG jatuh ke titik terendah pada 2025 sekitar 25% hingga mencapai 5.900 pada perdagangan Rabu (9/4/2025).
Artinya, dalam kurun 28 minggu sejak puncak 2024, pasar saham Tanah Air mengalami koreksi tajam.
Meski begitu, pemulihan terjadi relatif cepat. Sejak April, IHSG rebound lebih dari 35%, dan secara intraday sempat menembus level psikologis 8.000 untuk pertama kali pada Agustus 2025. .
Rekor tak berhenti disitu, memasuki Oktober minat beli pasar semakin naik seiring pergantian Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, meskipun pada September sempat ada koreksi akibat gejolak dalam negeri sampai memicu demo.
Sentimen Purbaya Effect ditambah suku bunga global dalam tren turun membuat IHSG bergerilya lagi, kalau ditotal sepanjang 2025 sampai cetak rekor 25 kali. Adapun IHSG mengakhiri posisinya pada tahun lalu di level 8.587,49.
Pada 2026, penguatan IHSG lanjut lagi bahkan sampai pecah rekor ke atas level 9100, tepatnya pada 20 Januari 2026.
Sayangnya, hanya berselang seminggu IHSG sudah jatuh lagi mendekati 10%. Meski begitu, kami meyakini badai pasti berlalu.
Pola pergerakan yang terjadi dari tahun ke tahun selalu menunjukkan sifat alami pasar modal Indonesia, selalu bangkit setelah dihantam krisis.
Pergerakan volatil ini juga bukan hal baru. Dalam sejarahnya, IHSG kerap mengalami kejatuhan signifikan akibat krisis global maupun domestik, namun selalu mampu pulih. Berikut data-nya:
Kami juga meyakini bahwa kejatuhan yang kencang dalam jangka pendek, justru memicu pembalikan arah atau penguatan yang lebih cepat pula.
Seperti yang terjadi pada tahun lalu ketika krisis terjadi di April gara-gara geopolitik dan tarif Trump, lalu di akhir Agustus sampai awal Agustus 2025 ketika gejolak politik dalam negeri memuncak sampai demo besar-besaran di DPR.
Kali ini, IHSG memang jatuh, tetapi lebih kepada faktor kepentingan MSCI, tetapi transparansi regulator menjadi PR yang patut dibenahi dalam jangka pendek ini.
Sejauh ini, fundamental perusahaan tak banyak berubah, malah pemulihan kinerja sedang dinanti, pasalnya tahun ini periode seasonaliy berdekat-dekatan seperti Imlek, Paskah, dan Lebaran maju lebih cepat.
Kuartal I/2026 memang menantang akibat MSCI dan geopolitik yang masih ada terutama soal ulah Trump akhir-akhir ini, tetapi penantian kinerja keuangan yang lebih baik patut dicermati, terutama sektor bank yang mengalami low base di awal tahun lalu.
Sektor komoditas terutama metal juga seharusnya masih akan diuntungkan berkat harga emas, perak, nikel, tembaga, aluminium, bauksit, dan lainnya yang terus naik.
Baru-baru ini emas dan perak cetak rekor lagi, sebagai negara penghasil komoditas, kita akan cenderung diuntungkan dan hal ini akan tercermin dari laporan keuangan 2025 dan berlanjut sampai laporan kuartal I/2026.
Momentum penurunan ini juga bisa menjadi peluang untuk saham-saham dividen play, karena pelaku pasar meamnfaatkan ini untuk mendapat yield lebih tinggi.
Tak sedikit pula perusahaan yang melancarkan buyback untuk menjaga stabilitas harga saham-nya, saat ini kita tinggal menunggu tekanan jual mereda dan akhirnya IHSG mulai bangkit lagi.4
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)