5 Kekaisaran Besar Menguasai Dunia di Era Nabi Muhammad, China-Persia
Jakarta, CNBC Indonesia - Abad ke-6 hingga ke-7 Masehi menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah dunia. Pada masa inilah Nabi Muhammad SAW hidup dan Islam mulai muncul di Jazirah Arab.
Nabi Muhammad lahir sekitar 570 Masehi di Mekkah dan wafat pada 8 Juni 632 Masehi di Madinah pada usia sekitar 63 tahun
Dunia di mana Nabi Muhammad hidup ditandai oleh persaingan kekuatan besar, jaringan perdagangan yang luas, serta perubahan sosial dan keagamaan yang perlahan mengubah peta peradaban global.
Dunia Dikuasai Dua Kekaisaran Besar
Pada masa tersebut, sebagian besar wilayah Timur Tengah hingga Eropa Timur berada di bawah pengaruh dua kekaisaran besar, yakni Bizantium dan Persia.
Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur berpusat di Konstantinopel, sementara Kekaisaran Sasaniyah Persia menguasai wilayah luas mulai dari Iran, Irak hingga Asia Tengah.
Kedua kekuatan ini terlibat konflik panjang selama berabad-abad. Perang berkepanjangan itu menguras sumber daya dan melemahkan stabilitas politik maupun ekonomi kawasan.
Jazirah Arab Jadi Simpul Perdagangan
Di tengah rivalitas dua kekaisaran tersebut, Jazirah Arab justru berkembang sebagai jalur perdagangan penting. Meski tidak memiliki kerajaan besar, wilayah ini memiliki posisi strategis yang menghubungkan berbagai kawasan.
Kota Mekkah dikenal sebagai pusat perdagangan kafilah. Jalur dagang dari wilayah ini menghubungkan India, Afrika Timur, Yaman, Suriah hingga kawasan Mediterania.
Komoditas yang diperdagangkan antara lain rempah-rempah, kain, logam, serta dupa yang sangat bernilai pada masa itu.
Masyarakat Arab Berbasis Suku
Struktur sosial di Jazirah Arab pada masa itu didominasi sistem kesukuan. Loyalitas terhadap suku menjadi identitas utama masyarakat.
Konflik antar suku juga kerap terjadi, sementara otoritas pemerintahan pusat yang kuat hampir tidak ada. Kondisi ini membuat wilayah Arab relatif terfragmentasi secara politik.
Kondisi keagamaan dunia pada masa tersebut juga sangat beragam. Di Jazirah Arab, mayoritas masyarakat masih menganut kepercayaan paganisme atau penyembahan berhala, meskipun terdapat komunitas Yahudi dan Kristen.
Sementara itu, Bizantium menjadikan Kristen sebagai agama utama negara. Di Persia, agama Zoroastrianisme menjadi keyakinan dominan.
Di wilayah Asia Selatan dan Timur, ajaran Hindu, Buddha, serta berbagai kepercayaan lokal berkembang luas.
Teknologi Masih Sederhana
Jika dibandingkan dengan masa modern, teknologi pada abad ke-6 hingga ke-7 masih relatif sederhana. Meski demikian, sejumlah bidang sudah menunjukkan perkembangan penting.
Sistem pertanian dan irigasi berkembang di wilayah Persia dan Mesir. Perdagangan laut juga mulai ramai di jalur Samudra Hindia, menghubungkan berbagai pusat ekonomi kuno.
Selain itu, pengetahuan astronomi dan matematika juga mulai berkembang di sejumlah peradaban.
Memasuki abad ke-7, dunia mulai mengalami perubahan geopolitik besar. Islam yang muncul dari Jazirah Arab mulai menyebar ke berbagai wilayah.
Dalam beberapa dekade, kekuasaan Bizantium dan Persia yang sebelumnya dominan mulai melemah. Wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, hingga sebagian Asia perlahan berada di bawah pemerintahan Muslim.
Perubahan ini kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sejarah yang membentuk perkembangan peradaban dunia hingga berabad-abad berikutnya.
Pada masa Nabi Muhammad SAW hidup, sejumlah kekaisaran raksasa menguasai perdagangan, politik, hingga perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai kawasan.
Lima di antaranya dikenal sebagai kekuatan global yang paling berpengaruh saat itu. Masing-masing memiliki karakter unik, mulai dari pusat ilmu pengetahuan hingga kekuatan militer nomaden.
1. Dinasti Tang: Masa Keemasan Peradaban China
Dinasti Tang (618-907 M) adalah salah satu periode paling gemilang dalam sejarah Tiongkok, tepat ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup dan menyebarkan Islam di Jazirah Arab. Era ini sering disebut sebagai "zaman keemasan" peradaban China karena stabilitas politik, kemajuan budaya, dan pengaruhnya yang meluas ke wilayah Asia lainnya.
Di bawah pemerintahan Tang, Tiongkok berhasil menyatukan kembali wilayahnya setelah berabad-abad perpecahan, membangun pemerintahan yang terpusat, serta menerapkan sistem administrasi dan kebijakan yang kuat.
Budaya pada era Tang berkembang sangat pesat, mencakup seni, sastra, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Ibu kotanya, Chang'an (kini Xi'an), menjadi pusat perdagangan dan pertemuan para pedagang serta cendekiawan dunia melalui Jalur Sutra.
Inovasi seperti pencetakan balok kayu, kemajuan puisi dan lukisan, serta diplomasi yang aktif memperkokoh posisi Tang sebagai salah satu kekuatan besar abad pertengahan, menunjukkan betapa maju dan berpengaruhnya Tiongkok saat dunia Islam tengah berubah.
2. Bizantium: Pewaris Romawi yang Bertahan Lama
Kekaisaran Bizantium merupakan kelanjutan Romawi di wilayah timur, dengan ibu kota Konstantinopel yang terletak strategis di Selat Bosphorus. Posisi ini menjadikannya pusat perdagangan antara Asia dan Eropa.
Budaya Bizantium merupakan perpaduan tradisi Yunani dan Romawi, dengan agama Kristen sebagai agama mayoritas setelah Kaisar Konstantinus memeluk agama tersebut. Sistem ekonomi diatur cukup ketat, termasuk perdagangan sutra yang menjadi komoditas unggulan.
Kaisar memiliki kekuasaan absolut dan dianggap mendapat legitimasi ilahi. Pada masa Kaisar Justinian I, Bizantium bahkan berupaya merebut kembali wilayah Romawi lama serta menyusun kodifikasi hukum yang kelak mempengaruhi sistem hukum Eropa.
Meski kuat, Bizantium menghadapi tekanan pajak tinggi, konflik agama internal, serta ekspansi kekuatan Muslim pada abad ke-7.
3. Hephthalite (Hun Putih): Kekuatan Nomaden Asia Tengah
Hephthalite, atau Hun Putih, merupakan konfederasi nomaden yang mendominasi Asia Tengah pada abad ke-5 hingga ke-6 M. Wilayah kekuasaannya mencakup Afghanistan, Uzbekistan, hingga sebagian Iran dan India utara.
Berbeda dengan kekaisaran lain, mereka tidak memiliki kota permanen maupun sistem tulisan. Mereka hidup berpindah dengan tenda wol dan dikenal sebagai kekuatan militer agresif yang sering menyerang Persia dan India.
Meski nomaden, mereka aktif dalam perdagangan Jalur Sutra dan meninggalkan jejak seni pahat marmer berkualitas tinggi di Afghanistan. Namun kekuasaan mereka tidak bertahan lama. Pada pertengahan abad ke-6, mereka dikalahkan oleh bangsa Turki dan akhirnya berasimilasi dengan populasi sekitar.
4. Kekaisaran Sassaniyah: Superpower Persia Pra-Islam
Kekaisaran Sassaniyah (224-651 M) merupakan kekaisaran Persia terakhir sebelum munculnya Islam dan menjadi rival utama Bizantium. Dinasti ini didirikan Ardashir I yang berhasil menggulingkan Kekaisaran Parthia dan membangun pemerintahan terpusat.
Zoroastrianisme dijadikan agama negara, sementara pembangunan infrastruktur seperti jalan, kota, dan pertanian didukung langsung oleh pemerintah. Pada masa Shapur I, wilayah Sassaniyah membentang luas dari Asia Tengah hingga perbatasan India.
Era Sassaniyah juga dikenal sebagai kebangkitan budaya Iran, ditandai arsitektur megah, relief batu monumental, kerajinan logam berkualitas tinggi, serta tradisi intelektual yang kuat. Banyak karya ilmiah Timur dan Barat diterjemahkan ke bahasa Pahlavi.
Kekaisaran ini akhirnya runtuh pada abad ke-7 akibat penaklukan Arab Muslim, yang sekaligus membuka era baru dalam sejarah Timur Tengah.
5. Peradaban Suku Maya: Peradaban Ilmu dan Astronomi di Benua Amerika
Di Mesoamerika, Peradaban Maya berkembang sebagai salah satu peradaban paling maju di Benua Amerika. Peradaban ini telah eksis sejak sekitar 2000 SM dan mencapai puncak kejayaan pada periode Klasik (250-900 M), jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Wilayahnya mencakup Meksiko bagian selatan (Semenanjung Yucatán), Guatemala, Belize, hingga Honduras dan El Salvador. Alih-alih berbentuk satu kekaisaran terpusat, Maya terdiri dari kota-kota negara independen seperti Tikal, Palenque, dan Copán yang saling bersaing sekaligus beraliansi.
Keunggulan utama Maya terletak pada ilmu pengetahuan, khususnya astronomi dan matematika. Mereka mengembangkan sistem kalender yang sangat presisi, seperti Tzolk'in dan Haab'. Pengetahuan astronomi digunakan untuk menentukan musim tanam, ritual keagamaan, hingga legitimasi kekuasaan raja.
Dalam bidang arsitektur, Maya membangun piramida bertingkat, kuil batu megah, istana, dan lapangan permainan bola ritual (pok-ta-pok). Mereka juga memiliki sistem tulisan hieroglif yang kompleks, menjadikannya satu-satunya peradaban pra-Columbus di Amerika yang mengembangkan sistem tulisan lengkap.
Peradaban Maya membuktikan bahwa pada masa dunia Islam mulai bangkit di Timur Tengah, di sisi lain bumi telah berkembang peradaban yang tak kalah maju dalam ilmu, arsitektur, dan tata sosial.
Â
(mae/mae) Addsource on Google