Sehebat Apa China di Era Nabi Muhammad hingga Muncul Pepatah Cari Ilmu
Jakarta, CNBC Indonesia - Hadis populer "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China" selama ini sering dikutip sebagai dorongan kuat bagi umat Islam untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin. Namun, kejayaan China seperti apakah yang hidup di era Nabi Muhammad SAW hngga lahir hadis tersebut?
Secara keilmuan, para ulama hadis menilai riwayat tersebut berstatus lemah (dhaif) dan tidak memiliki sanad yang cukup kuat untuk digolongkan sebagai hadis sahih.
Meski begitu, substansi pesannya tetap dinilai sejalan dengan prinsip dasar Islam yang menekankan pentingnya menuntut ilmu tanpa batas.
Para ulama menjelaskan, penyebutan Cina dalam riwayat tersebut bukan dimaknai secara literal sebagai tujuan geografis tertentu. Pada masa Nabi Muhammad SAW, China dikenal sebagai wilayah yang sangat jauh dari Jazirah Arab. Karena itu, penyebutannya dipahami sebagai simbol jarak ekstrem dan kesulitan besar yang harus ditempuh demi ilmu. China saat itu juga sudah menjadi negara maju hingga dipercaya memiliki banyak kelebihan.
Makna yang ditekankan antara lain:
-
Menuntut ilmu memerlukan kesungguhan, meski harus menempuh perjalanan panjang dan berat.
-
Ilmu memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga layak diperjuangkan dengan pengorbanan besar.
-
Islam mendorong pencarian ilmu di mana saja, melampaui batas wilayah, budaya, dan peradaban.
Dinasti Tang, Hidup di Era Nabi Muhammad SAW
Bila merujuk lini masa sejarah, dinasti yang berkuasa di China pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah Dinasti Tang.
Nabi Muhammad SAW hidup sekitar 570-632 M yang bertepatan dengan masa Dinasti Tang memerintah China sejak 618-907 M.
Artinya, masa kerasulan Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan awal berdirinya Dinasti Tang, terutama pada masa Kaisar Tang pertama dan penerus awalnya.
Pada masa Dinasti Tang, hubungan awal antara dunia Islam dan China mulai terbentuk, terutama lewat perdagangan.
Dalam catatan sejarah global, periode kekuasaan Dinasti Tang (618-907 M) secara konsisten diidentifikasi sebagai salah satu era paling krusial dan berpengaruh bagi peradaban Tiongkok.
Masa ini tidak hanya merepresentasikan puncak kejayaan budaya kosmopolitan, tetapi juga menandai periode di mana stabilitas politik, ekspansi ekonomi, serta kemajuan teknologi terintegrasi secara optimal.
Di bawah tata kelola pemerintahan yang terstruktur, Dinasti Tang berhasil meletakkan fondasi bagi sistem birokrasi dan jaringan perdagangan makro yang memengaruhi kawasan Asia secara luas.
Konsolidasi Politik dan Ekspansi Geopolitik
Dinasti ini secara resmi didirikan pada tahun 618 M oleh Li Yuan, yang kemudian bergelar Kaisar Gaozu, menyusul keruntuhan Dinasti Sui yang dilanda krisis struktural internal.
Namun, fondasi stabilitas kekaisaran ini secara definitif diperkuat oleh putranya, Li Shimin (Kaisar Taizong). Melalui strategi militer dan diplomasi terukur, Kaisar Taizong beserta penerusnya, Kaisar Xuanzong, berhasil menciptakan periode stabilitas domestik jangka panjang.
Dari perspektif geopolitik, Dinasti Tang melakukan ekspansi teritorial yang masif. Kendali politik dan militer kekaisaran diperluas hingga membentang dari Semenanjung Korea di wilayah timur hingga ke pedalaman Asia Tengah di barat.
Perluasan wilayah ini bukan semata-mata untuk unjuk kekuatan, melainkan langkah strategis guna mengamankan rute perdagangan internasional dari ancaman eksternal, yang pada gilirannya menjamin kelancaran arus logistik dan modal.
Foto: Peta wilayah kekuasaan dinasi Tang. (Dok. The Cambridge History of China) |
Reformasi Birokrasi dan Kepastian Hukum
Salah satu pencapaian fundamental yang mendukung pertumbuhan ekonomi Dinasti Tang adalah reformasi institusional. Pemerintah pusat melakukan penyempurnaan sistem ujian pegawai negeri sipil.
Kebijakan ini merupakan langkah progresif untuk memastikan bahwa jajaran birokrat dan pembuat kebijakan dipilih berdasarkan kualifikasi akademik yang ketat, bukan berdasarkan kedekatan atau status keturunan.
Di sektor penegakan hukum, kekaisaran merumuskan Kode Tang (Tang Code). Ini merupakan sebuah kerangka hukum komprehensif yang mengatur tata tertib negara dengan sangat rinci.
Keberadaan sistem hukum yang jelas ini memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dan masyarakat luas, serta kelak diadopsi sebagai model rujukan utama bagi sistem yurisprudensi di berbagai negara Asia Timur lainnya.
Infrastruktur Ekonomi dan Dominasi Jalur Sutra
Puncak kemakmuran ekonomi Dinasti Tang sangat ditopang oleh optimalisasi Jalur Sutra. Rute perdagangan darat ini mengalami perkembangan pesat dan memfasilitasi integrasi ekonomi lintas benua. Melalui jalur ini, aktivitas ekspor-impor berjalan masif, menghubungkan pasar domestik Tiongkok dengan berbagai entitas ekonomi global.
Pusat dari aktivitas ekonomi internasional ini berada di ibu kota kekaisaran, Chang'an (saat ini Xi'an). Pada masa puncaknya, Chang'an berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di dunia dengan populasi dan perputaran uang yang sangat besar.
Kota ini berfungsi sebagai pusat finansial komersial yang mempertemukan para pedagang, utusan diplomatik, dan pelaku ekonomi dari Asia Tengah, Persia, hingga Arabia.
Foto: Jalur Sutra. (Dok. Malang International School) |
Industri Kosmetik dan Estetika Tata Rias Era Tang
Kemakmuran ekonomi makro dan tingginya aktivitas perdagangan lintas batas juga berdampak langsung pada sektor konsumsi barang mewah, salah satunya tercermin dalam evolusi estetika dan tata rias (makeup) wanita era Tang. Arus logistik di Jalur Sutra memfasilitasi masuknya pigmen dan bahan kosmetik eksotis dari luar negeri ke pasar domestik Tiongkok.
Tata rias wanita pada periode ini dikenal sangat elaboratif, berani, dan menjadi simbol status sosial yang kuat. Proses riasan umumnya melibatkan aplikasi bedak putih berbahan dasar timbal secara tebal pada wajah, dipadukan dengan perona pipi (rouge) bernuansa merah pekat.
Estetika era Tang juga sangat menonjolkan seni melukis alis dalam berbagai bentuk-seperti bentuk daun willow atau sayap ngengat-serta riasan bibir yang dibentuk kecil menyerupai buah ceri.
Lebih lanjut, tren riasan dilengkapi dengan ornamen dahi berupa motif bunga atau elemen emas yang dikenal sebagai Huadian, serta titik lesung pipit buatan (Mianyan).
Berkembangnya industri kosmetik pada masa itu tidak hanya menunjukkan tingkat literasi estetika yang tinggi dan kebebasan berekspresi wanita kelas menengah atas, tetapi juga merepresentasikan tingginya daya beli masyarakat perkotaan terhadap barang konsumsi sekunder.
Foto: FlorasisTerfokus pada ragam bentuk alis |
Inovasi Teknologi, Sosial, dan Intervensi Wu Zetian
Stabilitas ekonomi turut mendorong kemajuan inovasi. Di bidang teknologi, era ini mencatatkan penemuan penting berupa teknologi cetak blok kayu atau woodblock printing. Inovasi ini merevolusi sistem distribusi informasi, memungkinkan literatur, dokumen birokrasi, dan teks keagamaan direproduksi secara efisien. Di bidang sastra, masa ini melahirkan tokoh-tokoh terkemuka seperti Li Bai dan Du Fu.
Dinasti Tang juga dikenal memiliki iklim sosial yang inklusif dengan tingkat toleransi beragama yang tinggi. Agama Buddha berkembang pesat, berdampingan dengan izin masuknya kepercayaan asing seperti Islam, Kristen Nestorian, dan Zoroastrianisme. Iklim terbuka ini memberikan kepastian keamanan bagi ekspatriat dan pedagang asing yang berinvestasi di ibu kota.
Periode ini juga mencatat anomali sejarah dengan naiknya Wu Zetian, satu-satunya wanita dalam sejarah Tiongkok yang secara resmi mengklaim gelar Kaisar.
Melalui proklamasi Dinasti Zhou Kedua yang berumur pendek, pemerintahannya berfokus pada efisiensi birokrasi, perluasan wilayah perbatasan, dan penguatan status agama Buddha, sebelum akhirnya kekuasaan kembali ke garis keturunan Tang.
Foto: IMDBRiasan perempuan ala Dinasti Tang yang menjadi latar belakang drama Flourished Peony |
Krisis Struktural dan Keruntuhan Kekaisaran
Meskipun memiliki fundamental ekonomi yang solid, kejayaan Dinasti Tang akhirnya runtuh akibat krisis internal yang parah, diawali oleh Pemberontakan An Lushan (755-763 M). Konflik berskala masif ini tidak hanya mengakibatkan kerugian nyawa yang luar biasa besar, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur ekonomi, sistem perpajakan, dan rantai pasok di wilayah kekaisaran.
Pasca-pemberontakan tersebut, otoritas fiskal dan politik pemerintah pusat mengalami pelemahan permanen. Kekuasaan secara bertahap terdesentralisasi ke tangan para gubernur militer regional (jiedushi), yang bertindak selayaknya entitas penguasa independen.
Kondisi ekonomi makro yang terus memburuk memicu ketidakpuasan sosial, berujung pada rentetan pemberontakan susulan seperti Pemberontakan Huang Chao. Akumulasi dari krisis kelembagaan dan defisit ekonomi ini pada akhirnya meruntuhkan Dinasti Tang secara resmi pada tahun 907 M.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Foto: Peta wilayah kekuasaan dinasi Tang. (Dok. The Cambridge History of China)
Foto: Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)
Foto: Florasis
Foto: IMDB