Dihantam Perang Iran & Sentimen Fitch, Sanggupkah IHSGS Bangkit?
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa bangkit hari ini di tengah masih banyaknya tekanan dari luar negeri. Perkembangan di Iran serta informasi mengenai rating bisa menekan pasar dalam negeri,
Namun, bangkitnya Wall Street dan melandainya indeks dolar diharapkan bisa mengurangi tekanan.
Fitch Pangkas Outlook RI ke Negatif, BI Tegaskan Fundamental Tetap Solid
Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memangkas outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun, rating jangka panjang valuta asing tetap dipertahankan di level BBB atau investment grade. Keputusan ini menandakan peningkatan risiko dalam horizon menengah, meski posisi kelayakan investasi Indonesia belum berubah.
Fitch menilai revisi tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan, terutama di tengah sentralisasi pengambilan keputusan.
Target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai berpotensi mendorong kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar.
Rencana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang membuka ruang perubahan batas defisit 3% PDB turut menjadi perhatian. Fitch memperkirakan defisit APBN 2026 berada di kisaran 2,9% PDB.
Belanja sosial, termasuk program makan bergizi gratis (MBG), diperkirakan menyerap anggaran sekitar 1,3% PDB sepanjang 2025-2029. Di sisi lain, rasio pendapatan negara diproyeksikan tetap terbatas di sekitar 13,3% PDB pada 2026-2027. Pembentukan Danantara dengan rencana investasi besar untuk proyek hilirisasi juga dinilai membawa peluang pertumbuhan, namun tetap menyimpan ketidakpastian jika mandatnya berkembang ke aktivitas kuasi-fiskal.
Dari sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar ke sekitar 0,8% PDB pada 2026 akibat ekspor neto yang lebih lemah. Fitch juga mencatat posisi indikator tata kelola Indonesia berada di bawah median negara berperingkat BBB.
Meski demikian, lembaga ini tetap melihat penopang seperti proyeksi pertumbuhan sekitar 5% dan rasio utang pemerintah yang diperkirakan di kisaran 41% PDB, masih di bawah median kelompok selevel. Sebelumnya, Moody's juga menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif pada Februari 2026.
Merespons langkah tersebut, Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap solid. Gubernur Perry Warjiyo menyatakan perubahan outlook tidak mencerminkan pelemahan mendasar pada perekonomian.
Menurutnya, pertumbuhan domestik masih terjaga di tengah ketidakpastian global, inflasi termasuk inflasi inti berada dalam kisaran rendah, dan stabilitas nilai tukar terus diperkuat melalui intervensi di pasar NDF luar negeri, transaksi spot, serta DNDF domestik.
BI juga menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap kuat. Likuiditas perbankan dinilai memadai, permodalan bank berada di level tinggi, dan risiko kredit terkendali. Digitalisasi sistem pembayaran yang meluas serta infrastruktur keuangan yang stabil disebut menjadi penopang tambahan bagi aktivitas ekonomi. Sinergi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan terus diperkuat untuk menjaga kepercayaan pasar.
Dari sisi proyeksi, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di rentang 4,9%-5,7% dan meningkat pada 2027, dengan inflasi tetap sesuai sasaran. Ketahanan eksternal dinilai terjaga, tercermin dari Neraca Pembayaran Indonesia yang sehat dan cadangan devisa per Januari 2026 sebesar US$154,6 miliar, setara 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI memandang afirmasi rating BBB oleh Fitch menunjukkan rekam jejak stabilitas makroekonomi Indonesia tetap diakui, sementara revisi outlook lebih mencerminkan persepsi risiko kebijakan ke depan.
PMI China dan Rapat Besar Pemerintah China
Aktivitas pabrik di China kembali tertekan pada Februari 2026. Data resmi menunjukkan sektor manufaktur mengalami kontraksi yang lebih dalam dari perkiraan, seiring gangguan produksi akibat libur panjang Tahun Baru Imlek.
Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat indeks pembelian manajer (PMI) manufaktur turun ke level 49 pada Februari. Angka ini lebih rendah dari proyeksi ekonom sebesar 49,1. Sebagai catatan, PMI di bawah 50 menandakan kontraksi, sementara di atas 50 mencerminkan ekspansi. Ini menjadi bulan kedua berturut-turut sektor manufaktur berada di zona kontraksi, setelah Januari berada di level 49,3. Posisi tersebut menyamai capaian Oktober dan April 2025.
Tekanan juga terlihat pada PMI komposit, yang mencerminkan gabungan aktivitas manufaktur dan jasa. Indeks ini turun menjadi 49,5 dari 49,8 pada Januari. Sementara itu, PMI non-manufaktur yang mencakup sektor jasa dan konstruksi turun tipis 0,1 poin menjadi 49,5.
Kepala statistik NBS, Huo Lihui, menjelaskan pelemahan tersebut dipicu oleh berhentinya sebagian aktivitas produksi dan pengiriman barang selama periode libur Imlek. Tahun ini, libur berlangsung 15-23 Februari, menjadi yang terpanjang dalam catatan, dibandingkan delapan hari pada periode akhir Januari hingga awal Februari tahun lalu. Perbedaan waktu perayaan juga disebut turut memengaruhi pembacaan data bulanan.
Namun, gambaran berbeda muncul dari survei swasta. Indeks PMI manufaktur China versi S&P Global melonjak ke 52,1 pada Februari, tertinggi sejak Desember 2020. Survei tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur justru menguat tajam, didorong lonjakan pesanan ekspor baru. Permintaan internasional tercatat meningkat paling signifikan sejak September 2020.
Perbedaan hasil ini dinilai wajar. Survei swasta biasanya mengambil sampel perusahaan yang lebih kecil dan berorientasi ekspor, serta dilakukan pada pertengahan bulan. Sementara survei resmi pemerintah mencakup lebih dari 3.000 perusahaan dan dihimpun pada akhir bulan, sehingga lebih mencerminkan kondisi keseluruhan.
Data awal pemerintah juga menunjukkan peningkatan perjalanan, belanja hiburan, dan transaksi bebas bea selama periode libur. China dijadwalkan merilis data inflasi konsumen dan produsen untuk Februari pada awal pekan depan, yang akan menjadi indikator lanjutan kondisi permintaan domestik.
Sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, China masih bergulat dengan tekanan deflasi sejak pandemi berakhir. Sektor properti yang belum pulih dan lemahnya prospek pasar tenaga kerja menjadi beban utama. Pemerintah di Beijing akan mengumumkan target ekonomi terbaru dalam sidang parlemen pekan ini. Sejumlah ekonom memperkirakan target pertumbuhan tahun ini akan dipangkas ke kisaran 4,5%-5%, lebih rendah dibanding target "sekitar 5%" dalam tiga tahun terakhir.
Masih dari negeri tirai bambu, pemerintah China memasuki pekan krusial pada 2-6 Maret 2026 dengan menggelar agenda politik tahunan terpentingnya,
Two Sessions (Lianghui). Forum ini mempertemukan dua lembaga utama, yakni National People's Congress (NPC) sebagai parlemen nasional dan Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) sebagai badan penasihat politik.
Sidang CPPCC dimulai 4 Maret, disusul pembukaan NPC sekitar 5 Maret, dan keseluruhan rangkaian berlangsung hingga 10-11 Maret. Periode awal 2-6 Maret menjadi fase pembukaan sekaligus penentuan arah pembahasan strategis negara.
Dalam forum ini, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi, arah kebijakan fiskal dan stimulus, anggaran negara, prioritas belanja, hingga strategi industri dan teknologi. Perdana menteri menyampaikan laporan kerja pemerintah, sementara Presiden China, Xi Jinping, dapat memberikan arahan politik utama. Target resmi pertumbuhan serta anggaran militer juga diumumkan, menjadikan Two Sessions sebagai barometer kebijakan ekonomi China untuk tahun berjalan dan sinyal kuat bagi pasar global, komoditas, serta mitra dagang termasuk Indonesia.
Pada 2023, forum ini meresmikan masa jabatan ketiga Xi Jinping, sementara pada 2020 NPC mengesahkan undang-undang keamanan nasional untuk Hong Kong.
Tahun ini bobotnya kian besar karena pemerintah membahas rancangan Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026-2030, dokumen strategis yang akan menetapkan target pembangunan ekonomi dan sosial jangka menengah, merumuskan arah modernisasi nasional, serta menjadi peta jalan hingga 2030 dan visi menuju 2035.
Garis besar rencana tersebut menitikberatkan pada penguatan permintaan domestik dan percepatan penguasaan teknologi strategis seperti fusi nuklir, teknologi kuantum, dan kecerdasan buatan, sekaligus upaya mengurangi ketergantungan ekonomi pada Amerika Serikat di tengah dinamika perdagangan dan geopolitik.
Dengan skala ekonomi China yang begitu dominan, setiap keputusan dalam Two Sessions berpotensi memengaruhi arus perdagangan global, harga energi dan logam, serta prospek ekspor negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
ISM Manufacturing Februari 2026
Aktivitas sektor jasa Amerika Serikat kembali menguat pada Februari 2026. Laporan Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan Services PMI® berada di level 56,1%, naik 2,3 poin dari Januari di 53,8% dan menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022.
Ini menandai 20 bulan berturut-turut sektor jasa berada di zona ekspansi (di atas 50%). Rata-rata 12 bulan terakhir tercatat 52%, sehingga capaian Februari berada 4,1 poin di atas rerata tahunan tersebut.
Penguatan terlihat merata pada sejumlah subindeks utama. Business Activity Index naik menjadi 59,9%, sementara New Orders Index melonjak ke 58,6%, mengindikasikan permintaan yang semakin solid.
Employment Index juga tetap ekspansif di 51,8%, memperpanjang tren pertumbuhan tenaga kerja selama tiga bulan beruntun. Di sisi lain, Supplier Deliveries Index tercatat 53,9%, masih di zona ekspansi yang dalam metodologi ISM berarti waktu pengiriman lebih lambat-umumnya terjadi saat permintaan meningkat.
Tekanan harga mulai mereda meski masih tinggi. Prices Index turun ke 63%, lebih rendah 3,6 poin dibanding Januari dan menjadi level terendah dalam 11 bulan terakhir. Namun indeks ini tetap bertahan di atas 60% selama 15 bulan berturut-turut.
Sementara itu, Inventories Index melonjak ke 56,4% dari sebelumnya 45,1%. Backlog of Orders juga kembali ekspansif di 55,9%, pertama kali sejak Februari 2025. Permintaan eksternal membaik, tercermin dari New Export Orders yang naik ke 57,2% dan Imports ke 51,8%.
Secara sektoral, terdapat 14 industri yang mencatat pertumbuhan, termasuk pertambangan, informasi, real estat, konstruksi, keuangan dan asuransi, hingga layanan kesehatan dan pendidikan.
Hanya tiga sektor yang terkontraksi, yakni perdagangan ritel, seni dan hiburan, serta transportasi dan pergudangan. ISM mencatat hampir seluruh indeks berada dalam tren positif enam bulan terakhir, menandakan sektor jasa AS sedang memanas meski pelaku usaha tetap mencermati dinamika tarif dan biaya rantai pasok.
Tenaga Kerja AS
Perusahaan swasta di Amerika Serikat menambahkan 63 ribu lapangan kerja pada Februari 2026, tertinggi sejak Juli, setelah kenaikan Januari direvisi turun menjadi 11 ribu. Angka ini juga melampaui perkiraan pasar sebesar 50 ribu.
Sektor pendidikan dan layanan kesehatan memimpin dengan penambahan 58 ribu pekerjaan, diikuti oleh konstruksi (19 ribu), informasi (11 ribu), aktivitas keuangan (2 ribu), serta sumber daya alam dan pertambangan (2 ribu).
Sebaliknya, beberapa sektor mencatat penurunan tenaga kerja. Jasa profesional dan bisnis kehilangan 30 ribu pekerjaan, manufaktur berkurang 5 ribu, dan sektor perdagangan, transportasi, serta utilitas turun 1 ribu.
Dari sisi ukuran perusahaan, perusahaan kecil menciptakan 60 ribu pekerjaan, perusahaan besar menambah 10 ribu, sementara perusahaan menengah justru mengurangi 7 ribu pekerjaan.
Sementara itu, pertumbuhan upah tahunan bagi pekerja yang tetap di pekerjaan yang sama (job-stayers) tidak berubah di 4,5%. Sedangkan bagi pekerja yang pindah pekerjaan (job-changers) melambat menjadi 6,3%.
Perang Iran Masih Memanas
Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase kritis setelah pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan "Operasi Epic Fury". Serangan udara dan laut besar-besaran yang menyasar objek-objek di wilayah Iran tersebut kini memicu spekulasi global mengenai kemungkinan adanya pengiriman pasukan darat atau boots on the ground oleh Washington.
Hingga Rabu (4/3/2026), dampak serangan dilaporkan sangat masif. Bulan Sabit Merah Iran mencatat sedikitnya 787 orang tewas, termasuk insiden jatuhnya bom di sebuah sekolah dasar perempuan di Minab yang menewaskan 165 siswi.
Di sisi lain, enam tentara AS tewas dan 18 lainnya luka-lukas akibat serangan balasan proyektil Iran yang menyasar aset AS di kawasan Teluk. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi adanya kebocoran pertahanan udara yang menyebabkan jatuhnya korban di pihak militer Amerika.
source on Google