Dihantam Perang Iran & Sentimen Fitch, Sanggupkah IHSGS Bangkit?
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street akhirnya bangkit pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham naik pada Rabu setelah lonjakan harga minyak mulai mereda menyusul perkembangan dalam perang AS-Israel melawan Iran serta meredanya kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 238,14 poin atau 0,49% dan ditutup di 48.739,41. Indeks yang berisi 30 saham tersebut berhasil menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Sementara itu, S&P 500 menguat 0,78% dan berakhir di level 6.869,50, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,29% dan ditutup pada 22.807,48.
Saham sektor teknologi mendukung penguatan pasar secara keseluruhan, terutama perusahaan di sektor chip. Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing naik sekitar 6%. Sementara itu, Broadcom dan Nvidia masing-masing menguat sekitar 2%.
Di pasar minyak, kontrak berjangka minyak Brent sebagai patokan global terakhir diperdagangkan mendatar, demikian pula kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) di Amerika Serikat.
Sejumlah rilis data ekonomi yang kuat turut meningkatkan sentimen investor pada Rabu. Pertama, laporan ADP menunjukkan perusahaan sektor swasta menambah lebih banyak lapangan kerja dari perkiraan pada Februari. Selain itu, sektor non-manufaktur AS mencatat pertumbuhan yang lebih baik dari ekspektasi bulan lalu, dengan tekanan inflasi yang mulai mereda.
"Kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja yang melunak, bahkan mungkin memburuk, kini mulai dipertanyakan," kata kepala strategi pasar Ameriprise, Anthony Saglimbene, kepada CNBC.
Reaksi positif terhadap data ekonomi tersebut terjadi bersamaan dengan meredanya reli harga minyak setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa AS akan membuat serangkaian pengumuman untuk mendukung kelancaran aliran minyak melalui Teluk Persia.
Harga minyak Brent dan WTI pada Rabu sempat bergerak ke wilayah negatif untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Keduanya juga ditutup jauh di bawah level tertinggi sesi pada perdagangan Selasa.
Meredanya reli minyak juga terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Selasa mengatakan bahwa AS akan menyediakan asuransi risiko bagi seluruh perdagangan maritim yang melintasi Teluk Persia guna mendorong kapal tanker kembali melintas di Selat Hormuz.
Lalu lintas tanker melalui selat tersebut sempat terhenti setelah komandan Garda Revolusi Iran mengancam akan membakar kapal yang mencoba melewati jalur itu.
"Jika situasi Timur Tengah menjadi lebih mengganggu, Anda akan melihat dampak lanjutan yang lebih besar di pasar global dan harga aset, bahkan mungkin terhadap prospek ekonomi," kata Saglimbene. Namun ia menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk membuat penilaian tersebut.
Sementara itu, tarif global sebesar 15% yang diumumkan Trump pada akhir bulan lalu akan mulai diterapkan minggu ini, kata Bessent pada Rabu. Meski demikian, ia memperkirakan tarif AS akan kembali ke tingkat sebelum keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif presiden dalam waktu sekitar lima bulan.
(emb/emb) Addsource on Google