MARKET DATA
Newsletter

China Gelar Rapat Akbar Saat Perang Memanas, Stimulus Selamatkan RI?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
04 March 2026 06:25
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Bursa saham sangat bergejolak pada Selasa, seiring kekhawatiran atas konflik berkepanjangan antara AS dan Iran yang mengguncang pasar. Namun, komentar dari Presiden Donald Trump tampaknya sedikit meredakan kekhawatiran tersebut.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin atau 0,83% dan ditutup di level 48.501,27. S&P 500 melemah 0,94% ke 6.816,63, sementara Nasdaq Composite anjok 1,02% dan berakhir di 22.516,69.

Pada titik terendah hari itu, S&P 500 sempat merosot 2,5% dan Nasdaq turun sekitar 2,7%. Dow yang berisi 30 saham unggulan bahkan sempat anjlok lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6% pada titik terendahnya.

Trump mengatakan pada Selasa sore bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan.

"Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ARUS BEBAS ENERGI ke SELURUH DUNIA," tulisnya dalam unggahan di Truth Social. "KEKUATAN EKONOMI dan MILITER Amerika Serikat adalah yang TERBESAR DI DUNIA - Akan ada lebih banyak tindakan selanjutnya."

Minyak mentah Brent, acuan global, ditutup naik 5,3%, melanjutkan lonjakan 6% pada Senin. Minyak WTI juga turun dari level tertingginya dan ditutup naik 4,68%, setelah sebelumnya mencatat kenaikan 6% pada sesi sebelumnya. Keduanya sempat melonjak lebih dari 9%.

 

Lonjakan awal harga energi pada hari itu sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) naik karena kekhawatiran bahwa harga yang lebih tinggi dapat kembali memicu inflasi, tepat ketika investor AS berharap pada pemangkasan suku bunga Federal Reserve untuk mendorong ekonomi. Namun, imbal hasil kemudian memangkas kenaikannya seiring turunnya harga minyak.

Kekhawatiran perdagangan memburuk setelah komandan Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan Iran akan membakar kapal yang mencoba melintas. Peringatan Trump bahwa konflik dapat berlangsung lebih dari empat minggu juga memperparah kegelisahan pasar.

Ada tanda-tanda lain bahwa konflik semakin dalam saat memasuki hari keempat:

  • Kedutaan Besar AS di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, diserang drone ketika Iran meningkatkan serangannya terhadap negara tersebut.
  • Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel dari Bahrain, Irak, dan Yordania.
  • Hizbullah yang didukung Teheran menyerang Tel Aviv dengan rudal dan drone.
  • Kekhawatiran meningkat mengenai berapa lama negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab mampu menahan rentetan rudal dan drone Iran dengan sistem pertahanan udaranya.

"Saya pikir kemungkinan misi yang lebih berkepanjangan dapat membebani pasar selama beberapa minggu ke depan," ujar Jeffrey O'Connor, Kepala Struktur Pasar Ekuitas AS di Liquidnet, kepada CNBC.

Dia menyinggung kemungkinan harga minyak tetap tinggi dan investor harus menghadapi pergerakan inflasi, imbal hasil, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga.

"Secara historis, pasar AS mampu mengabaikan guncangan geopolitik seperti ini, tetapi Selat Hormuz saat ini ditutup," lanjutnya.

Seluruh sektor dalam S&P 500 berada di zona merah pada Selasa. Sektor material dan industri mencatat penurunan terbesar karena kekhawatiran bahwa harga minyak dan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membebani ekonomi AS.

Beberapa saham teknologi besar seperti Nvidia, yang memimpin pemulihan intraday pada Senin, kembali melemah pada Selasa. Saham-saham memori di AS juga tertekan, mengikuti penurunan tajam saham produsen chip memori di Korea Selatan.

Selain itu, saham Blackstone turun 3,8% setelah Financial Times melaporkan bahwa dana kredit privatnya mencatat arus keluar bersih sebesar US$1,7 miliar pada kuartal pertama.

Hampir tidak ada tempat berlindung bagi investor pada Selasa, dengan harga emas juga turun tajam setelah kenaikan pada Senin.

Indeks Volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, melonjak ke level tertinggi sejak November.

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features