MARKET DATA

Jejak IHSG di Tengah Perang Iran Hingga Konflik Dunia, Seberapa Buruk?

saw,  CNBC Indonesia
02 March 2026 07:10
cover topik, fokus, ihsg
Foto: Cover Topik/ IHSG/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan berat pada hari ini setelah serangan Amerika serikat dan Israel ke Iran.

Kisruh akibat perang sebenarnya bukan sekali di hadapi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kali ini, pasar akan mengantisipasi gerak yang lebih volatile merespon perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran.

Konflik geopolitik telah membawa efek domino terhadap perekonomian global dalam beberapa tahun ini.

Pada 2022, harga komoditas melonjak tajam sehingga inflasi memanas dan suku bunga dipaksa berada di level tinggi.

Tahun itu ditandai oleh perang antara Rusia dan Ukraina yang memicu krisis energi dan pangan global; harga minyak, gas, batu bara, dan gandum melonjak drastis. Inflasi di AS dan Eropa menyentuh level tertinggi dalam 40 tahun, sehingga bank-bank sentral seperti Federal Reserve, European Central Bank, dan otoritas moneter di negara berkembang agresif menaikkan suku bunga.

Dunia pun masuk fase pengetatan kebijakan moneter global terbesar sejak krisis 2008.

Memasuki 2023, tren suku bunga yang terus naik membuat dunia menghadapi perlambatan ekonomi.

Daya beli masyarakat melemah dan biaya pendanaan tetap mahal. Efek suku bunga tinggi mulai terasa di sejumlah sektor, contohnya krisis perbankan regional di AS memuncak dengan runtuhnya Silicon Valley Bank, sektor properti di China masih tertekan pascaprespektakuler krisis Evergrande Group, dan permintaan global melemah dengan banyak negara mengalami kontraksi di sektor manufaktur.

Meskipun ekonomi global tidak runtuh total, fase "high rate, low growth" menjadi realitas baru yang berat bagi aktivitas ekonomi global.

Pada 2024, risiko geopolitik makin kompleks dan tersebar. Konflik panjang antara Israel dan Palestina semakin memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, gangguan pelayaran di Laut Merah menaikkan biaya logistik global, dan ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok berlanjut, khususnya di sektor teknologi seperti chip dan kendaraan listrik.

Tahun politik besar, termasuk Pemilihan Presiden AS 2024, menambah ketidakpastian kebijakan global. Akibatnya, ekonomi global cenderung stagnan meskipun tidak jatuh ke dalam resesi yang dalam.

Inflasi mulai turun secara bertahap, membuka ruang bagi bank-bank sentral untuk mempertimbangkan pivot kebijakan dari pengetatan menuju relaksasi secara hati-hati.

Memasuki 2025, tren ini semakin jelas. Inflasi global turun mendekati target, memberi ruang bagi bank sentral untuk mulai memangkas suku bunga secara bertahap dan pelonggaran likuiditas global dimulai kembali.|

Pasar saham dan obligasi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meskipun pemulihan tersebut belum merata.

Namun, konsumen masih berhati-hati dalam belanja, utang pemerintah di banyak negara tetap tinggi pascapandemi dan era bunga mahal, dan dunia semakin terfragmentasi melalui fenomena friendshoring serta pergeseran rantai pasok.

Konflik politik dan regional masih bertahan, salah satunya berupa eskalasi lebih luas antara Israel dan Iran sepanjang 2025, yang pada Juni tahun itu berubah menjadi konflik bersenjata antara kedua negara beserta sekutu dan kelompok proxy masing-masing

Di awal 2026, dunia berada dalam fase "stabil tapi rapuh": suku bunga global lebih rendah dibanding 2023-2024, tetapi tingkat suku bunga belum kembali ke level pra-ketegangan, inflasi secara umum lebih terkendali, pertumbuhan mulai membaik tipis, terutama di emerging markets, dan arus modal kembali mencari yield di negara berkembang.

Namun, risiko geopolitik tetap tinggi dan menjadi penekan baru bagi ekonomi global.

Konflik geopolitik itu sekarang tidak lagi hanya terfokus pada Rusia-Ukraina atau Israel-Hamas, tetapi telah meluas ke beberapa front baru yang memperkeruh situasi.

Sejak awal Januari 2026, ketegangan meningkat secara dramatis setelah AS, yang sebelumnya sempat mengambil tindakan militer terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026, melancarkan serangan langsung bersama Israel ke Iran.

Operasi militer AS-Israel, yang disebut "Operation Epic Fury", menargetkan fasilitas strategis dan struktur kepemimpinan Iran, bahkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat seniornya, serta memicu gelombang serangan balasan dari Iran terhadap pangkalan AS dan target Israel di kawasan Teluk serta negara-negara tetangga.

Eskalasi konflik ini semakin memicu kekhawatiran global karena terganggunya jalur energi penting seperti Selat Hormuz dan potensi lonjakan harga minyak dunia, yang bisa memberi tekanan inflasi baru bahkan ketika bank sentral tengah mencoba menurunkan suku bunga.

Hal ini pun yang menjadi antisipasi baru pelaku pasar terhadap pergerakan pasar keuangan pada Senin hari ini (2/3/2026).

Namun, dalam sejarahnya IHSG sudah bukan sekali menghadapi perang seperti ini, berikut gambaran selama lima tahun terakhir:


Dari gambaran grafik di atas, kami menelusuri perang antara Rusia-Ukraina yang terjadi 24 Februari 2022 silam, IHSG kena dampak dengan penurunan sampai 1,48% dalam sehari.

Meski begitu, dalam sehari setelahnya IHSG langsung rebound 2%, bahkan dalam jangka menengah berhasil menguat dan menembus All Time High di level 7700.

Sekitar satu tahun setengahnya, konflik geopolitik menular ke kawasan Timur Tengah, dengan dimulai serangan Hammas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

Karena waktu itu terjadi di hari Sabtu, IHSG langsung merespon pada Senin dengan koreksi, syukurnya koreksi terbilang masih tipis hanya 0,04% dalam sehari.

Namun, pada waktu itu koreksi terus berlanjut ke hari-hari setelahnya, bahkan sampai awal November 2023 IHSG masih turun sampai level 6600 mengakumulasi penyusutan sampai 4% dari sebelum serangan Hammas terjadi.

Meski demikian, IHSG mampu berbalik arah pada akhir 2023 menikmati momen Window Dressing sampai Januari effect pada 2024.

Meskipun 2024 ada gejolak soal suku bunga tinggi sampai efek tahun pemilu, tetapi IHSG juga masih bisa mendapatkan level ATH-nya lagi di atas 7900.

 

Setahun berikutnya, konflik geopolitik juga kembali terjadi antara Israel-Iran pada 13 Juni 2025. Pada waktu itu, IHSG mengalami koreksi 0,53%, beberapa hari setelahnya juga masih terus turun sampai 23 Juni 2025, kalau ditarik selama waktu itu, IHSG telah koreksi lebih dari 5%.

Namun, menarik-nya sejak koreksi itu, IHSG justru bangkit, dan terus reli bahkan beberapa kali mencetak All Time High (ATH), terutama setelah pergantian Menteri Keuangan baru.

Puncaknya, pada 20 Januari 2026, IHSG sempat menuju level 9200 untuk pertama kali-nya, ini menjadi rekor baru yang kini belum diuji lagi.

Sebelum menguji itu, sempat ada kisruh geopolitik lagi pada 3 Januari 2026, akibat serangan Venezuela oleh AS, tetapi waktu itu IHSG malah merespon positif pada Senin (5/2/2026) dengan penguatan 1,27%.

Pada saat itu, rasanya sentimen AS-Venezuela tidak terlalu berpengaruh ke pasar saham RI, karena masih euphoria window dressing dan market memantau saham potensial masuk MSCI.

Sayangnya, yang terjadi pada 28 Januari menggugurkan semua ekspektasi karena morning call MSCI.

Dan kali ini, pada awal Maret pasar kembali dihadapkan risiko geopilitik antara AS-Israel melawan Iran.

Kami rasa kali ini dampaknya bisa membuat IHSG goyang, tetapi seharusnya tidak akan sejatuh ketika MSCI memberi ultimatum pada bursa saham kita sampai mengancam mau menurunkan ke frontier market.

Namun, antisipasi terhadap sejumlah saham bluechip terutama dengan ekposur asing besar, tetapi menjadi perhatian, karena huru-hara di global akan memaksa asing untuk mengamankan diri lebih dulu.

Terlepas dari konflik geopolitik saat ini, perang hanya akan membuat harga minyak makin mendidih, inflasi makin memanas, suku bunga tinggi, pinjaman mencekik, dan akhirnya berujung pada ekonomi yang semakin suram.

Tanpa perang atau konflik geoplitik, alarm perlambatan ekonomi sejak beberapa tahun terakhir juga sudah menjadi perhatian. Pada akhirnya, market akan mencari keseimbangan baru yang akan memberi tenaga untuk bangkit lagi.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular