Bersiaplah Hadapi Badai, Perang Iran-Agenda Besar China Bisa Goyang RI
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pekan lalu, IHSGÂ stagnan sementara rupiah melemah
- Dow Jones ambruk pada pekan lalu
- Perang Iran, rapat akbar di China hingga data inflasi dalam negeri akan menggerakkan sentimen pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada pekan lalu. Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan berat hari ini dan sepanjang pekan ke depan setelah serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepanjang pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.Â
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)Â berakhir stagnan pada perdagangan Jumat (27/2/2026), setelah tertekan dalam sepanjang hari.
IHSG yang sempat tercatat turun 1,47% mampu memangkas koreksi secara signifikan dan berakhir menguat tipis. Pada akhir perdagangan sesi kedua IHSG stagnan atau naik 0,22 poin ke level 8.235,48.
Dari sisi likuiditas, nilai transaksi tercatat mencapai Rp38,25 triliun dengan volume 47,64 miliar saham dalam 2,53 juta kali transaksi. Sebanyak 315 saham melemah, 341 saham menguat, sementara 163 stagnan.
Mengutip data Refinitiv, kinerja suboptimal IHSG Jumat pekan lalu terutama disebabkan oleh koreksi saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps) yang memiliki bobot besar terhadap indeks.
Beralih ke pasar valas, Rupiah berakhir melemah lawan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari terakhir pekan lalu, Jumat (27/2/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp16.760/US$ atau terdepresiasi 0,06%.
Pelemahan rupiah pada perdagangan Jumat masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal. Dolar AS sempat bangkit dari pelemahan pada Kamis kemarin setelah data klaim awal pengangguran mingguan AS naik 4.000 menjadi 212.000.
Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi pasar 216.000, sehingga mempertegas sinyal pasar tenaga kerja yang masih solid.
Penguatan dolar juga didorong oleh meningkatnya kebutuhan likuiditas setelah pasar saham AS tertekan. Namun, ruang penguatan dolar relatif terbatas seiring munculnya komentar dovish dari Presiden bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Chicago, Alan Goolsbee, yang menilai suku bunga masih berpeluang turun tahun ini jika inflasi terus melandai.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis ke 6,41% pada Jumat dari 6,40% pada perdaganagn sebelumnya.
Â
Saham-saham anjlok pada Jumat setelah data terbaru indeks harga produsen (PPI) tercatat jauh lebih tinggi dari perkiraan, menambah daftar kekhawatiran terkait inflasi yang masih lengket dan telah memicu gejolak pasar bulan ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 521,28 poin atau 1,05% dan ditutup di 48.977,92. S&P 500 melemah 0,43% ke 6.878,88, sementara Nasdaq Composite kehilangan 0,92% dan berakhir di 22.668,21.
S&P 500 dan Nasdaq menutup Februari di zona merah di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada sektor-sektor tertentu dan perekonomian secara keseluruhan.
Kekhawatiran tersebut semakin memburuk setelah perusahaan fintech milik Jack Dorsey, Block, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 4.000 karyawan, hampir setengah dari total tenaga kerjanya.
Saham sektor keuangan dan sektor lain yang sensitif terhadap siklus ekonomi juga melemah pada Jumat.
Saham yang terkait dengan private credit kembali tertekan karena investor mengantisipasi potensi dampak dari kolapsnya penyedia hipotek Inggris, Market Financial Solutions. Saham Apollo dan Jefferies termasuk yang tertinggal, masing-masing anjlok lebih dari 8% dan 9%.
Saham Blue Owl, yang sebelumnya terpukul akibat pembatasan likuiditas dan penjualan asetnya, turun sekitar 6%.
Sejumlah emiten perangkat lunak juga mencatatkan kerugian pada Jumat, menutup bulan yang buruk. Salesforce merosot lebih dari 2%, begitu pula Microsoft yang turut menekan Dow.
Perusahaan keamanan siber Zscaler jatuh 12% setelah pendapatan ditangguhkan (deferred revenue) dan penagihan kuartal fiskal kedua meleset dari ekspektasi. CoreWeave merosot 18% akibat proyeksi yang mengecewakan.
Nvidia memperpanjang pelemahan pasca laporan keuangan dengan penurunan 4% pada Jumat.
Sahamnya sebelumnya turun lebih dari 5% pada Kamis, mengejutkan banyak investor yang masih optimistis terhadap produsen chip tersebut menyusul kinerja kuartal keempat yang sangat kuat dan siklus produk baru yang akan datang.
Pelaku pasar mengaitkan penurunan saham dengan keraguan terhadap kesepakatan Nvidia dengan OpenAI, sentimen yang melemah terhadap tema AI, serta skeptisisme apakah belanja modal AI yang besar dari perusahaan hyperscaler dapat dipertahankan.
Memperburuk sentimen pasar, indeks harga produsen Januari 2026, ukuran inflasi tingkat grosir, menunjukkan kenaikan 0,5% dalam sebulan. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan angka utama hanya 0,3%.
Yang lebih mengkhawatirkan, PPI inti (tidak termasuk harga pangan dan energi) melonjak 0,8%, jauh di atas perkiraan kenaikan 0,3%.
Stephen Kolano, chief investment officer Integrated Partners, menilai laporan PPI ini sebagai komplikasi tambahan bagi investor, di tengah kekhawatiran yang sudah ada terkait belanja modal AI, potensi disrupsi industri, serta tekanan di pasar private credit.
Ia mencatat bahwa inflasi tampaknya lebih didorong oleh sektor jasa, yang bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan mulai meneruskan biaya tarif kepada konsumen akhir guna menjaga margin keuntungan.
Belum lagi kondisi pasar tenaga kerja yang juga menjadi kekhawatiran. Meski pertumbuhan lapangan kerja bulan lalu jauh lebih baik dari perkiraan, Kolano tidak yakin pasar tenaga kerja benar-benar stabil mengingat PHK mulai meningkat. Challenger, Gray & Christmas melaporkan awal bulan ini bahwa PHK Januari mencapai level tertinggi untuk bulan tersebut sejak krisis keuangan global.
Nasdaq mencatat penurunan lebih dari 3% sepanjang Februari, kinerja bulanan terburuk sejak Maret tahun lalu. ETF iShares Expanded Tech-Software (IGV) turun hampir 10% bulan ini, sehingga kerugian sejak awal tahun mendekati 23%. Sementara itu, S&P 500 melemah hampir 1% sepanjang Februari, sedangkan Dow justru naik sekitar 0,2%.
Memasuki pekan pertama Maret 2026, pelaku pasar akan menghadapi kombinasi sentimen geopolitik dan rilis data makroekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar global.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan ada dalam tekanan karena beragam sentimen negatif, terutama dari luar negeri.
Timur Tengah Membara
Situasi di Timur Tengah memanas setelah AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan ini menewaskan petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei turut menjadi korban serangan.
Kondisi Timur Tengah akan memicu ketidakpastian global dan dikhawatirkan membuat investor asing kabur dari Emerging Markets, terutama Indonesia.
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah pejabat teras militer Iran. Terbaru, mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan tewas dalam serangan rudal yang menghantam Teheran. Media yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran juga menyebut tiga pengawalnya ikut tewas. Militer Israel menyatakan serangan awal berhasil menewaskan sekitar40 komandan senior Iran, dan operasi akan diperluas ke fasilitas nuklir.
Perkembangan ini memperbesar risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan menjadi salah satu sentimen utama pasar global pada awal Maret.
Operasi militer yang direncanakan berlangsung beberapa hari itu menargetkan fasilitas militer, program rudal, dan instalasi strategis Iran. Serangan dilaporkan terjadi di beberapa kota seperti Isfahan,Tabriz,Qom, dan Kermanshah.
Melansir Aljazeera, Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran, melemahkan kekuatan lautnya, dan mencegah pengembangan senjata nuklir. Iran merespons dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas energi dan risiko geopolitik global.
Situasi semakin memanas pada Minggu (1/3/2026). Serangan Minggu terjadi setelah serangan mematikan yang menyebabkan dua warga sipil tewas di ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi. Iran tak hanya menargetkan pangkalan militer AS di sana tetapi juga infrastruktur sipil di seluruh Teluk.
Penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, mengecam Teheran, menyebut serangan terhadap negara-negara Teluk sebagai kesalahan perhitungan. Hal itu, katanya, mengisolasi Iran pada saat kritis.
Merujuk Kementerian Pertahanan, Iran menembakkan 137 rudal dan 209 drone ke target di seluruh UEA. Kebakaran dan asap terlihat di landmark seperti pengembangan tepi laut The Palm dan hotel Burj Al Arab.
Sementara itu di Qatar, tempat pangkalan militer AS terbesar di kawasan itu berada, para pejabat mengatakan Iran telah meluncurkan 65 rudal dan 12 drone ke arah negara Teluk tersebut. Sebagian besar dicegat tetapi delapan orang terluka, dengan satu orang dalam kondisi kritis.
Perang juga memicu ketegangan di laut. Sebuah pelabuhan Oman dan sebuah kapal tanker minyak di lepas pantainya diserang, Minggu. Ini menandai serangan pertama ke negeri yang menjadi mediator pembicaraan Amerika Serikat (AS)-Iran itu, sejak Iran melancarkan kampanye pembalasan.
Iran membalas dendam ke AS dan Israel atas serangannya yang berlangsung sejak Sabtu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebelum Oman, ledakan sudah terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), lalu Doha di Qatar, Manama di Bahrain serta Riyadh di Arab Saudi.
"Sebuah sumber keamanan melaporkan bahwa pelabuhan komersial Duqm menjadi sasaran dua drone," kata Kantor Berita Oman dalam sebuah unggahan di media sosial, dikutip Senin (2/3/2026).
"Satu drone menghantam akomodasi pekerja bergerak, melukai seorang pekerja asing, sementara puing-puing dari drone lainnya mendarat di dekat tangki bahan bakar, tanpa menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material," tambahnya.
Tak lama kemudian, Oman mengatakan sebuah kapal tanker minyak menjadi sasaran di lepas pantai. Awak kapal dievakuasi dan empat di antaranya terluka.
Harga Minyak Terancam Melonjak
Eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran beberapa hari ini telah mengubah ekuilibrium pasar energi global secara radikal.
Di tengah tingginya ketidakpastian pasokan, aliansi negara produsen minyak yang tergabung dalam "Voluntary Eight" (V8) dari OPEC menggelar pertemuan virtual pada hari ini, Minggu (1/3/2026), untuk menentukan arah kebijakan kuota produksi mereka.
Situasi geopolitik terkini telah memicu volatilitas ekstrem di pasar komoditas. Harga minyak mentah acuan global, Brent, melonjak signifikan lebih dari 3% hingga menembus level US$73 per barel pada penutupan perdagangan Jumat lalu.
Angka ini merupakan akselerasi tajam dibandingkan posisi awal tahun yang hanya berada di level US$61 per barel. Namun, reli harga ini bukan murni akibat letusan konflik akhir pekan, melainkan akumulasi premi risiko geopolitik dan pengetatan pasokan yang telah berlangsung sejak awal kuartal pertama tahun ini.
Dalam jangka pendek, respons pasar akan sangat bergantung pada seberapa jauh eskalasi konflik militer berlanjut. Jika serangan terbatas, harga masih akan tertahan di resistensi US$ 80 per barel. Namun, risiko sistemik yang paling krusial adalah potensi blokade Selat Hormuz oleh Iran akibat tensi yang memanjang yang pada saat ini masih berupa ancaman.
Jalur maritim ini merupakan urat nadi distribusi energi dunia, di mana sekitar 20 juta barel minyak mentah-setara dengan 20% dari total suplai global-melintas setiap harinya. Jika selat ini ditutup, opsi mitigasi struktural yang tersedia nyaris tidak ada.
Lonjakan harga minyak bisa berdampak ganda ke Indonesia. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa menambah pendapatan negara serta laba dari emiten minyak. Emiten seperti PT Elnusa (ELSA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), hingga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Namun, di sisi lain, kenaikan harga minyak juga membebani impor sehingga rupiah bisa tertekan.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor tertuju pada inflasi domestik, neraca dagang, cadangan devisa, serta indikator ekonomi Amerika Serikat dan Asia.
Inflasi Februari 2026
Di dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data inflasi Februari 2026 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik pada hari ini, 2 Maret 2026. Data yang menjadi indikator awal tekanan harga menjelang Ramadan dan Lebaran.
Setelah pada Januari inflasi tahunan mencapai 3,55%, naik dari 2,92% pada Desember dan menembus batas atas target Bank Indonesia 1,5%-3,5%. Lonjakan terutama berasal dari kelompok perumahan yang naik 11,93% (dari 1,62%), dipengaruhi efek basis rendah akibat diskon listrik 2025. Tekanan harga juga terlihat pada makanan 1,54%, kesehatan 1,62%, restoran 1,36%, sementara inflasi inti naik menjadi 2,45%, tertinggi dalam sembilan bulan.
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari akan mencatat inflasi sekitar 0,3% secara bulanan (mtm). Secara tahunan, inflasi diproyeksikan naik ke 4,34% (yoy) dengan inflasi inti diperkirakan mencapai 2,49%.
Angka tersebut menunjukkan percepatan dibandingkan Januari 2026 yang mencatat deflasi 0,15% (mtm) dengan inflasi tahunan 3,55%. Kenaikan inflasi Februari diperkirakan menjadi titik balik setelah tekanan harga relatif rendah pada awal tahun.
Tekanan harga terutama datang dari kelompok pangan. Ramadan yang dimulai pada 19 Februari 2026 mendorong lonjakan konsumsi rumah tangga sehingga harga kebutuhan pokok mulai meningkat lebih awal.
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menyebut inflasi bulan ini dipicu kenaikan harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional menunjukkan tren kenaikan cukup tajam. Harga cabai rawit merah melonjak sekitar 31% menjadi sekitar Rp76.000 per kilogram. Harga daging ayam naik sekitar 2,5% menjadi rata-rata Rp41.687 per kilogram. Sejumlah sayuran seperti bayam dan kangkung juga mengalami kenaikan.
Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan kelompok pangan bergejolak kembali mencatat inflasi setelah sebelumnya mengalami penurunan harga. Kenaikan harga cabai, bawang merah, dan minyak goreng menjadi faktor dominan menjelang Lebaran.
Tekanan harga juga datang dari sektor transportasi. Tarif pesawat tercatat naik sekitar 5,3% secara bulanan karena masyarakat mulai membeli tiket mudik lebih awal. Lebaran tahun ini diperkirakan jatuh pada 20-21 Maret 2026 sehingga pemesanan tiket sudah dimulai sejak Februari.
Secara historis, inflasi Februari dalam lima tahun terakhir relatif rendah dengan rata-rata hanya sekitar 0,03% secara bulanan. Namun tahun ini berbeda karena Ramadan jatuh lebih awal sehingga tekanan harga muncul lebih cepat.
Jika proyeksi ini terbukti, inflasi Februari berpotensi menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi sinyal awal kenaikan harga menjelang musim Lebaran.
Beberapa sentimen lain dari dalam negeri yang akan dinanti investor hari ini juga sepanjang pekan mencakup
Neraca Perdagangan Januari 2026
Kinerja perdagangan internasional Indonesia akan kembali menjadi sorotan. Pada penutupan 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD 2,52 miliar, melampaui estimasi konsensus yang berada di angka US$ 2,45 miliar.
Capaian ini diiringi oleh lonjakan performa ekspor yang tumbuh 11,64% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 26,35 miliar, menandai laju pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025. Pertumbuhan ekspor ini membalikkan kontraksi 6,6% yang terjadi pada bulan November.
Dari sisi impor, aktivitas belanja luar negeri juga mencatat kenaikan tajam sebesar 10,81%, jauh di atas ekspektasi pasar yang memproyeksikan penurunan 0,7%. Peningkatan impor ini didorong oleh naiknya impor migas sebesar 1,71% serta lonjakan impor non-migas sebesar 12,46% menjadi US$ 20,48 miliar.
Sepanjang tahun 2025, Indonesia berhasil membukukan surplus total US$ 41,05 miliar. Rilis data neraca perdagangan Januari 2026 pada pekan ini akan memberikan sinyal penting mengenai performa ekspor di tengah fluktuasi harga komoditas global, serta menjadi indikator tingkat permintaan bahan baku oleh industri manufaktur domestik pada awal tahun.
PMI Manufaktur Indonesia
Hari ini, S&P akan mengumumkan data PMI Manufaktur Februari 2026. Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia meningkat pada Januari 2026.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,6 pada Januari 2026. PMI mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 51,2 di Desember 2025.
Dengan fase ini maka PMI Indonesia sudah dalam fase ekspansif selama enam bulan beruntun.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
Sektor manufaktur Indonesia mengalami penguatan yang berkelanjutan pada awal 2026. Baik output maupun pesanan baru meningkat dengan laju yang lebih cepat.
Sinyal permintaan yang positif juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan pembelian bahan baku dan persediaan guna mengimbangi pesanan baru.
Konferensi Pers THR
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akan menggelar Konferensi pers terkait kebijakan THR, BHR, dan Realisasi Stimulus Ramadan 2026.
Stimulus dan THR ini diharapkan bisa memicu konsumsi dalam negeri sekaligus ekonomi pada kuartal II-2026.
Menarik ditunggu apa saja kebijakan stimulus baru selama Ramadan tahun ini.
Cadangan Devisa Februari 2026
Bank Indonesia akan merilis data cadangan devisa pada Jumat (6/3/2026). Cadangan devisa Januari tercatat US$154,6 miliar, turun dari US$156,5 miliar akibat pembayaran utang dan stabilisasi rupiah.
Posisi ini setara 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang, masih jauh di atas standar sekitar 3 bulan impor.
Sementara dari eksternal, akan ada beberapa rilis penting dari negeri Paman Sam, China dan Jepang.
Tenaga Kerja AS dan Industri AS
Di AS, kalender ekonomi sangat padat, dengan sorotan pada laporan ketenagakerjaan Februari, survei PMI ISM, dan penjualan ritel Januari.Pada Jumat (6/3/2026), AS akan merilis data tenaga kerja ADP dan tingkat pengangguran. Sementara itu data ISM Services akan dirilis pada Rabu (4/3/2026)
Di AS, kalender ekonomi sangat padat, dengan sorotan pada laporan ketenagakerjaan Februari, survei PMI ISM, dan penjualan ritel Januari.
Ekonomi diperkirakan menambah sekitar 60.000 lapangan kerja bulan lalu, melambat dari 130.000 pada Januari, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,3%. Rata-rata upah per jam diperkirakan naik 0,3%, melambat dari kenaikan 0,4% sebelumnya.
Data ISM kemungkinan menunjukkan aktivitas manufaktur tetap ekspansif namun sedikit melambat pada Februari, sementara pertumbuhan sektor jasa justru menguat.
Penjualan ritel diperkirakan turun tipis 0,2% pada Januari setelah stagnan pada Desember, mengindikasikan tekanan berlanjut pada belanja konsumen.
Rilis tambahan mencakup laporan ketenagakerjaan ADP, pemutusan hubungan kerja versi Challenger, harga perdagangan luar negeri Januari, produktivitas tenaga kerja kuartal keempat, persediaan bisnis Desember, dan kredit konsumen.
Investor juga menunggu data ISM Manufacturing Februari 2026. ISM Manufacturing PMI Januari naik ke 52,6 dari 47,9 dan di atas perkiraan 48,5, didukung pesanan baru 57,1 dan produksi 55,9.
ISM Services PMI berada di 53,8, dengan aktivitas bisnis 57,4 dan tekanan harga naik ke 66,6 dari 65,1.
PMI China dan Rapat Besar Pemerintah China
Pada Rabu (4/3/2026) China akan mengumumkan data PMI Manufaktur Februari 2026. Sebagai catatan,PMI manufaktur Januari berada di 50,3, naik dari 50,1, ditopang pesanan ekspor.
Namun biaya input meningkat ke level tertinggi sejak September, mencerminkan tekanan biaya produksi. PMI Manufaktur China pada Februari sangat penting untuk mengetahui seberapa besar kekuatan ekonomi China selama libur besar Imlek.
Pemerintah China memasuki pekan krusial pada 2-6 Maret 2026 dengan menggelar rangkaian agenda politik tahunan paling penting negara tersebut, yaitu Two Sessions (Lianghui). Forum ini menjadi panggung utama bagi Beijing untuk menetapkan arah kebijakan ekonomi, target pembangunan, hingga strategi nasional jangka menengah.
Two Sessions merupakan gabungan sidang dua lembaga utama China, yakni parlemen nasional dan badan penasihat politik. Hasil pertemuan ini biasanya menjadi sinyal kuat arah kebijakan ekonomi China dan sering berdampak ke pasar global, komoditas, hingga negara mitra dagang termasuk Indonesia.
Two Sessions menjadi agenda politik terbesar China setiap tahun dengan agenda:
- Sidang badan penasihat nasional dimulai 4 Maret
- Sidang parlemen nasional dibuka sekitar 5 Maret
- Pertemuan berlangsung hingga sekitar 10-11 Maret
Periode 2-6 Maret menjadi fase pembukaan dan awal pembahasan agenda strategis negara.
Agenda paling krusial adalah penetapan arah ekonomi China untuk tahun berjalan dan beberapa tahun ke depan.
Biasanya mencakup target pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal dan stimulus, anggaran pemerintah dan prioritas belanja, serta strategi industri dan teknologi.
Tahun 2026 menjadi momentum penting karena pemerintah China membahas rancangan Rencana Lima Tahun ke-15.
Dokumen strategis ini akan menetapkan target pembangunan ekonomi dan sosial jangka menengah, merumuskan arah modernisasi nasional, dan menjadi peta jalan pembangunan hingga 2030 dan visi menuju 2035
Ini adalah kerangka kebijakan paling menentukan bagi arah ekonomi China ke depan.
Data Eropa
Inflasi Zona Euro akan menjadi fokus pekan depan, dengan inflasi tahunan utama (headline CPI) diperkirakan bertahan di 1,7% dan inflasi inti di 2,1%. Tingkat pengangguran kawasan diproyeksikan tetap di 6,2%, terendah sepanjang sejarah.
Di Jerman, pesanan pabrik diperkirakan turun setelah empat bulan berturut-turut naik, sementara penjualan ritel diprediksi kembali melemah setelah pemulihan moderat pada Desember.
Di Italia, harga konsumen diperkirakan naik 0,2% secara bulanan, sehingga tingkat tahunan tetap tidak berubah. PMI manufaktur diperkirakan menunjukkan kontraksi yang mulai mereda menuju stabilisasi.
PMI sektor jasa Spanyol dan Italia diperkirakan menunjukkan ekspansi yang melambat namun masih solid.
Rilis tambahan mencakup PPI Zona Euro, penjualan ritel dan PDB final kawasan, produksi industri Prancis, data ketenagakerjaan Spanyol, PDB dan anggaran Italia, serta persetujuan hipotek dan penjualan mobil Inggris.
ECB juga akan merilis risalah keputusan suku bunga terbarunya.
Di Inggris, agenda utama adalah pernyataan musim semi Menteri Keuangan Rachel Reeves pada Selasa, yang akan menyampaikan proyeksi terbaru dari Office for Budget Responsibility. Meski Kementerian Keuangan Inggris mengecilkan kemungkinan perubahan kebijakan besar seperti kenaikan pajak, pernyataan tersebut akan menjabarkan kondisi ekonomi, ruang fiskal yang tersedia, serta rencana penerbitan obligasi pemerintah (gilt).
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Inflasi Februari 2026
- Neraca Perdagangan/Ekspor Impor Februari 2026
-
Konferensi pers terkait kebijakan THR, BHR, dan Realisasi Stimulus Ramadan 2026 yang akan diselenggarakan di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana, Jakarta Pusat. Narasumber: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
-
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuanganhari inidan sepanjang pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini
-
Konferensi pers terkait kebijakan THR, BHR, dan Realisasi Stimulus Ramadan 2026 yang akan diselenggarakan di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana, Jakarta Pusat. Narasumber: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
-
Badan Pusat Statistik melaporkan sejumlah indikator antara lain indeks harga konsumen dan perkembangan pariwisata di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat
-
Konferensi pers khusus Kedutaan Besar Republik Islam Iran di kediaman Duta Besar Republik Islam Iran, Menteng, Jakarta Pusat.
Agenda Korporasi:
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Citra Putra Realty Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(emb/emb) Add
source on Google Next Article IHSG & Rupiah Hadapi "Bear Killer" Oktober di Tengah Gejolak Dunia