MARKET DATA

Bom Kaset - Serangan Bunuh Diri: Jejak Teror Berdarah Incar Khamenei

mae,  CNBC Indonesia
01 March 2026 18:30
Ilustrasi cover Israel vs Iran
Foto: Ilustrasi Israel vs Iran, (Edward Ricardo/ CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Media pemerintah Iran mengonfirmasi meninggalnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Presenter TV menitihkan air mata sembari mengabarkan berita duka tersebut.

Iran akan memasuki 40 hari berduka atas meninggalnya Khamenei, dikutip dari BBCInternational, Minggu (1/3/2026), berdasarkan laporan media pemerintah Iran. Khamenei disebut menjadi martir atas serangan rezim zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dan pejabat Israel sudah mengumumkan Khamenei tewas dalam serangan brutal yang dilancarkan kedua negara.

Media pemerintah Iran sebelumnya sudah mengonfirmasi bahwa banyak keluarga Khamenei yang sudah meninggal. Di antaranya termasuk anak perempuan, cucu perempuan, menantu perempuan, serta menantu laki-laki.

Berkali-kali Lolos dari Uji Coba Pembunuhan

Sejak menjabat Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei selalu menjadi target Israel dan negara lain dalam pusaran konflik Iran dan lawan negaranya.

Bernama lengkap Sayyid Ali Hosseini Khamenei, dia sudah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader of Iran) sejak 1989.

Perang Israel vs Iran bukanlah kejadian pertama di mana Khamenei menghadapi situasi yang mengancam nyawanya. Dia pernah selamat dari serangan bom yang meledak di hadapannya. Apa saja serangan yang pernah dialami Khamenei sebelum tewas kemarin? Berikut adalah penjelasan lengkapnya:

1. Bom Kaset Pita Ketika Shalat Jum'at
Pada 27 Juni 1981, Khamenei mengalami percobaan pembunuhan pertamanya ketika sedang melakukan memberikan ceramah seusai salat di Masjid Abuzar, Teheran.

Pada saat itu, Khamenei menjabat sebagai perwakilan Ayatollah Ruhollah Khomeini di Dewan Tertinggi Pertahanan Nasional-sedang memberikan ceramah seusai shalat Jumat.

Setelah ibadah pertama, Ayatollah Khamenei mengadakan sesi tanya jawab dengan para hadirin. Seorang pemuda meletakkan kaset perekam di atas meja di depan Ali Khamenei dan menekan tombol putar. Ternyata, kaset perekam tersebut berisi bom yang disembunyikan.


Setelah satu menit, perekam suara membunyikan suara seperti peluit keras dan kemudian meledak. Setelah ledakan, terlihat tulisan di diding dalam perekam suara yang terbelah menjadi dua bagian berupa "hadiah dari Kelompok Forqan untuk Republik Islam". Kelompok Forqan sendiri merupakan kelompok oposisi anti-rohaniwan di Iran.

Akibat serangan ini, Khamenei mengalami luka serius pada lengan, pita suara, serta paru-parunya. Pemulihannya berlangsung selama berbulan-bulan.

Serangan ini merupakan bagian dari upaya oleh Mojahedin-e-Khalq (MEK) untuk menggulingkan pemerintahan Iran yang baru berdiri setelah Revolusi 1979. MEK merupakan organisasi pemberontak di Iran.

Terdapat dua potensi pelaku dari serangan ini. Ada yang mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh seorang pria bernama Amir Khan Zade. Namun, Pusat Dokumen Revolusi Islam mengidentifikasi orang yang menyerahkan perekam tersebut sebagai Masud Taqi Zade.

2. Serangan Bom Kedua
Pada 15 Maret 1985, serangan bom kembali menyerang Khomeini ketika sedang beribadah di masjid. Seseorang yang mengenakan bahan peledak di pinggangnya meledakkan diri di ketika sesi salat Jumat di Universitas Tehran.

Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai Presiden, sedang menyampaikan khotbah. Ledakan tersebut menewaskan pengebom dan beberapa jemaat yang menghadiri ibadah tersebut. Khamenei sendiri selamat tanpa mengalami luka-luka.

Meskipun begitu, Khamenei tidak menunjukkan sikap gentarnya. Setelah berhenti sejenak selama tiga menit, Khamenei melanjutkan khotbahnya di tengah teriakan "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) dari kerumunan. Ia lalu menyalahkan Irak atas upaya pembunuhan terhadap dirinya dan memperingatkan bahwa Iran akan "membalas setiap pukulan dengan pukulan yang lebih keras".

Serangan ini penting karena terjadi selama Perang Iran-Irak, saat Pemerintah yang berkuasa mengalami tekanan besar dari dalam dan luar negeri.


Kejadian-kejadian ini justru memperkuat posisi politiknya dalam rezim Iran yang baru terbentuk. Bertahannya Khamenei setelah serangan ini menjadi titik penting dalam karier politiknya, yang kemudian membawanya ke posisi Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989.

Dengan kekuasaan yang berlangsung selama lebih dari 25 tahun, Khamenei tidak pernah menunjukkan kegentarannya meskipun sempat mengalami percobaan pembunuhan. Bukan sebuah hal yang berlebihan untuk berekspektasi bahwa nyali besarnya akan terus terlihat dalam konflik Iran-Israel yang sedang berlangsung.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular