MARKET DATA
Polling CNBC Indonesia

Siap-Siap! Warga RI Bakal Dapat Kabar Buruk Besok

mae,  CNBC Indonesia
01 March 2026 16:30
Pasar Tradisional. (CNBC Indonesia/Muhamad sabki)
Foto: Pasar Tradisional. (CNBC Indonesia/Muhamad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan melonjak pada Februari 2026 sejalan dengan meningkatnya harga pangan menjelang datangnya Ramadan.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Februari 2026 pada Senin (2/3/2026).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm) di Februari 2026.

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan akan mencapai 4,34%. Inflasi inti diperkirakan menguat ke 2,49%.

Sebagai catatan, pada Januari 2026 terjadi deflasi 0,15% (mtm) tetapi IHK naik atau mencatat inflasi 3,55 (YoY) sementara inflasi inti 2,45%.


Dalam catatan BPS, inflasi bulanan pada Februari dalam lima tahun terakhir menyentuh 0,03% atau relative rendah. Namun, inflasi Februari 2026 diyakini akan terbang karena berbarengan dengan datangnya Ramadan.

Seperti diketahui, umat Islam Indonesia mengawali Ramadan pada 19 Februari 2026.

Ramadan adalah musim puncak konsumsi di Indonesia sehingga inflasi biasanya memang akan melonjak. Pasalnya, harga bahan pangan akan meningkat drastis dipicu tingginya permintaan, terutama sayur, bumbu, daging ayam hingga telur ayam.

"Tekanan harga bulan ini terutama didorong oleh dampak perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan. Inflasi Februari terutama dipicu kenaikan harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih," tutur ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman.


Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan harga pangan bergejolak diperkirakan kembali mengalami inflasi dari sebelumnya deflasi.

Hal ini didorong kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng, sejalan dengan meningkatnya permintaan musiman menjelang Idulfitri.

"Meski harga BBM non-subsidi masih turun rata-rata, tarif pesawat naik 5,3% m-o-m. Namun, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tiket yang sebagian menahan kenaikan tarif penerbangan," tutur Andry.

Sebagai catatan, calon pemudik Indonesia biasanya membeli tiket kereta api dan pesawat sebulan sebulan Lebaran di mana pada tahun ini jatuh pada 20/21 Maret 2026.

Merujuk data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), sejumlah harga pangan memang melonjak tajam di Februari 2026.

Harga daging ayam naik 2,5% menjadi rata-rata Rp 41.687 per kg. Harga cabai rawit merah terbang 31% ke Rp 76.352/kg.

Harga sejumlah sayur mayur juga melonjak tajam mulai dari kangkong hingga bayam. Namun, harga telur turun 0,08% ke Rp 32.050 per kg.


Di kelompok harga diatur pemerintah, penurunan harga BBM ikut menekan inflasi pada Februari 2026.

Sejumlah badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, BP-AKR hingga PT Vivo Energy Indonesia kompak menurunkan harga produk BBM non subsidi. Penyesuaian harga tersebut berlaku sejak 1 Februari 2026.


Sebagai contoh harga BBM non subsidi di DKI Jakarta. Untuk produk BBM Pertamax per 1 Februari 2026 harganya turun menjadi Rp 11.800 per liter. Harga BBM Pertamax Turbo juga turun menjadi Rp 12.700 per liter dari sebelumnya Rp 13.400 per liter.

Kemudian, harga Pertamax Green 95 juga turun menjadi Rp 12.450 per liter dari sebelumnya Rp 13.150 per liter. Adapun harga BBM Dexlite juga turun menjadi Rp 13.250 per liter dari sebelumnya Rp 13.500 per liter.



(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular