MARKET DATA
Newsletter

Badai Data AS Mengamuk, IHSG Terancam Terseret Lebih Dalam

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 February 2026 06:17
Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
Foto: Ilustrasi Trading (Dok MIFX)
  •  Pasar keuangan dalam negeri ditutup bervariasi. IHSG melemah, namun rupiah kembali ditutup perkasa
  •  Wall Street ditutup beragam, saham Nvidia jatuh
  •  Rilis klaim awal pengangguran AS hingga kenaikan tarif Trump untuk produk tertentu diperkirakan akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup dengan kondisi beragam pada perdagangan kemarin, Kamis (26/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, nilai tukar rupiah berhasil kembali menguat dari dolar Amerika Serikat (AS) dan Surat Berharga Negara (SBN) masih dibeli investor.

Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan hari ini, Jumat (27/2/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.

IHSG pada perdagangan kemarin menutup perdagangan dengan pelemahan 1,04% atau turun 86,97 poin ke level 8.235,26. IHSG bahkan sempat turun hingga 2% di sesi kedua sebelum akhirnya pelemahan sedikit berkurang hingga ke level penutupan.

Sebanyak 568 saham turun, 146 lainnya naik, dan 105 saham tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin mencapai Rp28,14 triliun dengan melibatkan 56,52 miliar saham dalam 3,14 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun harus tergerus menjadi Rp14.773,31 triliun.

Sementara itu, investor asing tercatat masih terus melakukan aksi beli dengan tercatat net inflow mencapai Rp341,26 miliar. 

Merujuk data Refinitiv, seluruh sektor kompak tutup di zona merah. Penurunan paling dalam dipimpin oleh sektor industri yang terkoreksi hingga 2,24%, disusul sektor konsumer siklikal yang turun 2,11% serta sektor properti dengan pelemahan 2,09%.

Pelemahan juga terlihat pada sektor energi yang turun 2% dan sektor bahan baku dengan penurunan 1,87%.

Sementara dari sisi emiten, di tengah tekanan IHSG, ada beberapa saham yang masih menjadi penahan pelemahan. PT Telkom Indonesia Persero Tbk (TLKM) menjadi penyumbang penguatan terbesar dengan kontribusi 5,26 indeks poin. Disusul PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) yang berkontribusi 3,68 indeks poin serta PT Astra International Tbk (ASII) dengan kontribusi 3,07 indeks poin.

Namun tekanan IHSG terutama datang dari saham-saham sejumlah emiten. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi 5,11 indeks poin. Diikuti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang menjadi pemberat dengan kontribusi 5,08 indeks poin, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dengan kontribusi 5,02 indeks poin.

Beralih ke pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin Kamis.

Melansir data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.750/US$ atau terapresiasi 0,18%. Penguatan ini sekaligus melanjutkan tren positif dari perdagangan sebelumnya, ketika rupiah menguat 0,21% dan ditutup di posisi Rp16.780/US$.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah konsisten berada di zona hijau. Rupiah dibuka di level Rp16.720/US$ yang sekaligus menjadi level terkuat rupiah sepanjang sesi, sebelum penguatannya sedikit menipis hingga penutupan.

Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global. Pelemahan dolar tercermin dari turunnya DXY, yang mengindikasikan pelaku pasar melakukan aksi jual pada aset berdenominasi greenback. Kondisi ini pada gilirannya membuka ruang penguatan bagi mata uang lain, termasuk rupiah.

Sentimen global juga masih diwarnai ketidakpastian kebijakan tarif AS setelah Presiden Donald Trump kembali menegaskan komitmennya untuk menerapkan tarif dalam pidato State of the Union. Sikap tersebut membuat arah kebijakan dagang AS tetap sulit diprediksi dan menjaga volatilitas di pasar mata uang.

Dari sisi kebijakan moneter, komentar Presiden bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) negara bagian St. Louis, Alberto Musalem dinilai cenderung netral. Ia menyebut suku bunga acuan saat ini berada di sekitar level netral dan cukup tepat untuk menyeimbangkan risiko terhadap pasar tenaga kerja dan inflasi.

Pelaku pasar juga masih menempatkan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan FOMC 17-18 Maret relatif kecil, sekitar 2%.

Pelemahnya dolar pada akhirnya menjadi sentimen positif bagi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sehingga rupiah mampu bertahan di zona penguatan hingga penutupan perdagangan.

Beralih ke pasar obligasi, SBN yang memiliki tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan 0,09% menjadi 6,404%.

Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menunjukkan investor cenderung tengah masuk ke pasar SBN.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Mayoritas indeks melemah setelah hasil terbaru dari raksasa teknologi Nvidia dan perusahaan perangkat lunak Salesforce tidak cukup kuat untuk mengangkat pasar secara keseluruhan.

Indeks S&P turun 0,54% dan ditutup di 6.908,86, sementara Nasdaq Composite merosot 1,18% dan berakhir di 22.878,38. Sebalimnya, Dow Jones Industrial Average naik 17,05 poin, atau 0,03%, menjadi 49.499,20.

Saham Nvidia turun lebih dari 5%, meskipun raksasa chip itu melaporkan laba dan pendapatan kuartal keempat yang melampaui ekspektasi. Saham tersebut mengalami hari terburuknya sejak April. Saham chip lainnya seperti Broadcom, Lam Research, Western Digital, dan Applied Materials juga ikut melemah.

"Pasar saat ini benar-benar berada dalam mode 'buktikan dulu', dan Nvidia belum sepenuhnya 'membuktikan' hal itu melalui laporan laba kali ini," kata Tom Graff, chief investment officer Facet, kepada CNBC, sambil menyoroti kekhawatiran terkait kerja sama pembuat chip tersebut dengan OpenAI.

Dia menambahkan Nvidia menghadapi kombinasi antara ekspektasi yang sangat tinggi yang sudah tercermin dalam harga sahamnya dan pasar yang skeptis.

"Ini kemungkinan akan membuat pergerakan saham menjadi bergejolak setidaknya selama beberapa kuartal ke depan." Imbuhnya.

Di sisi lain, Salesforce yang menjadi salah satu korban terbesar dari kekhawatiran gangguan akibat kecerdasan buatan baru-baru ini naik 4% setelah hasil kuartalan terbaru perusahaan perangkat lunak tersebut melampaui ekspektasi baik dari sisi pendapatan maupun laba. Namun, perusahaan memberikan proyeksi pendapatan fiskal 2027 yang mengecewakan.

"Laba Salesforce solid, tetapi panduan yang lemah tidak membantu meredakan sentimen negatif di sektor perangkat lunak," kata James Demmert, chief investment officer Main Street Research.

"Salesforce menghadapi masa depan yang berat akibat kemajuan AI, tetapi kami juga menilai penurunan saham sektor perangkat lunak belakangan ini agak berlebihan."

Meski demikian, saham perangkat lunak justru mencatat kenaikan pada hari Kamis, dengan ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) naik sekitar 2%. Namun dana tersebut masih berada di wilayah pasar bearish karena turun sekitar 30% dari puncak terbarunya.

Selain sektor perangkat lunak, area pasar lain yang juga naik dalam sesi tersebut termasuk sektor keuangan, energi, dan real estat. Saham seperti JPMorgan Chase dan CBRE Group termasuk di antara yang mencatat kenaikan.

Pergerakan ini mengikuti hari yang positif bagi saham AS. Saham perangkat lunak dan teknologi sempat memantul kembali dalam sesi reguler. Meski demikian, sentimen terhadap saham perangkat lunak dan keamanan siber masih rapuh tahun ini karena kekhawatiran atas kemampuan produk AI yang berkembang sangat cepat, yang berpotensi mengganggu bisnis vendor perangkat lunak mapan.

Memasuki perdagangan Jumat ini yang sekaligus menjadi hari terakhir pasar keuangan di pekan ini, pergerakan pasar domestik berpotensi bergerak cenderung sideways dengan potensi melemah. Khususnya di pasar saham, ruang koreksi terbuka setelah pada perdagangan Kamis kemarin pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung atau taking profit.

Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG pada Kamis kemarin juga membuat sinyal koreksi lanjutan kian terlihat. Indikasinya muncul lewat terbentuknya pola Bearish Rising Wedge, yakni pola kenaikan harga yang terjadi dalam rentang pergerakan yang makin menyempit. Kondisi ini kerap dibaca sebagai tanda penguatan yang mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah.

Teknikal IHSGFoto: TradingView
Teknikal IHSG

Pola tersebut muncul setelah IHSG sempat anjlok pada akhir Januari kemarin, lalu perlahan menanjak. Namun, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Gagalnya penguatan di area itu kemudian diikuti pembentukan wedge, yang secara teori sering berakhir dengan penembusan ke bawah dan memicu koreksi lanjutan.

Jika skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG setidaknya berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800, atau membuka ruang penurunan sekitar 4%.

Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berpotensi menggerakkan pasar pada perdagangan terakhir pekan ini. Berikut beberapa sentimen yang diperkirakan menjadi perhatian.

Trump Gebuk Produk Surya RI, Tarif AS Dipatok 104%

Amerika Serikat kembali mengetatkan pagar dagangnya. Departemen Perdagangan AS atau U.S. Department of Commerce DOC pada Selasa mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas impor sel dan panel surya yang masuk ke AS dari Indonesia serta India dan juga Laos. Langkah ini diambil untuk melawan subsidi yang dinilai mendukung industri di ketiga negara ini.

Mengutip Reuters, Kamis (26/2/2026), DOC menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos. Berdasarkan data perdagangan pemerintah AS, ketiga negara itu menyumbang nilai impor sekitar US$4,5 miliar atau setara Rp75,73 triliun tahun lalu, atau sekitar dua pertiga dari total impor produk surya sepanjang 2025.

Selain tarif umum, DOC juga menghitung tarif individu bagi sejumlah perusahaan. Di India, Mundra Solar dikenakan 125,87%. Sementara dari Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan 143,3% dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99%. Dari Laos, Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company masing masing dikenai 80,67%.

Keputusan ini menjadi bagian dari rangkaian kebijakan bea masuk AS dalam satu dekade terakhir untuk menahan arus impor produk surya murah dari Asia, yang menurut otoritas AS banyak diproduksi oleh perusahaan perusahaan asal China.

Dalam lembar fakta di situs resmi DOC, pejabat perdagangan AS menyebut kebijakan ini ditujukan untuk mendukung pemilik pabrik tenaga surya domestik setelah menemukan bahwa perusahaan yang beroperasi di tiga negara itu menerima subsidi pemerintah, sehingga membuat produk AS menjadi tidak kompetitif di pasar sendiri.

Klaim Awal Pengangguran AS

Sentimen berikutnya datang dari data pasar tenaga kerja AS yang baru dirilis pada Kamis malam kemarin waktu Indonesia.

Klaim awal pengangguran mingguan tercatat naik tipis 4.000 menjadi 212.000 pada pekan ketiga Februari, namun masih lebih rendah dari ekspektasi pasar di 215.000. Angka ini juga tetap bertahan jauh di bawah rata rata dua tahun terakhir, menandakan tekanan PHK masih relatif minim.


Sejalan dengan itu, klaim berlanjut yang kerap dipakai sebagai proksi jumlah pengangguran yang masih menerima manfaat turun 31.000 menjadi 1.833.000 pada pekan sebelumnya, termasuk salah satu level terendah dalam 10 bulan terakhir. Kombinasi dua data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih stabil, meski laju perekrutan melambat.

Sementara itu, klaim awal dari pegawai pemerintah federal yang belakangan jadi sorotan pasar turut turun 141 menjadi 554, di tengah perhatian investor terhadap dampak potensi gangguan aktivitas pemerintahan.

Jelang Rilis Inflasi Harga Produsen AS

Sentimen berikutnya masih datang dari Negeri Paman Sam. Biro Statistik Amerika Serikat yang dijadwalkan akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) yang menunjukkan apakah terjadi inflasi atau deflasi di tingkat produsen pada periode Januari 2026. Rilis ini akan keluar pada malam nanti waktu Indonesia.

Data indeks harga produsen kerap menjadi acuan pasar untuk membaca tekanan harga dari sisi produsen atau hulu. Jika tekanan harga di hulu menguat, dampaknya bisa merembet ke inflasi konsumen dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS/The Fed.


Sebagai catatan, pada rilis sebelumnya untuk periode Desember 2025, inflasi harga produsen tercatat naik 0,5% dibanding bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Secara tahunan, inflasi harga produsen sepanjang 2025 tercatat naik 3,0%.

Kenaikan bulanan pada Desember terutama didorong oleh lonjakan harga jasa yang naik 0,7% mtm, sementara harga barang cenderung tidak berubah. Pada saat yang sama, ukuran inti yang mengecualikan komponen pangan, energi, dan jasa perdagangan masih naik 0,4% mtm dan sudah meningkat delapan bulan berturut turut.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini: 

  • Diskusi Strategis Industri Maritim Chapter II di Hotel Movenpick, Pecenongan, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain CTO Danantara Indonesia, Direktur Utama PT Krakatau Steel, dan Ketua Perhimpunan Industri Komponen Kapal Indonesia

  • Media briefing CSIS "Perjanjian Perdagangan Resiprokal: Karpet Merah atau Jebakan Perdagangan?" yang akan diselenggarakan secara langsung di Auditorium CSIS, Gedung Pakarti Centre, Jakarta Pusat

  • Press Briefing Kementerian Luar Negeri di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat

  • Indeks harga produsen AS periode Januari 2026
  • Indeks penjualan ritel Jepang 

 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

-          Pemberitahuan Rencana RUPS : BNBR, FPNI, & HMSP

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Next Article Sentimen Campur Aduk Hantui RI: Was-Was Daya Beli-Alarm Bahaya Jepang


Most Popular
Features